Opium, Bisakah Taliban Hidup Tanpa Ladang Uang yang Harum?

has | CNN Indonesia
Selasa, 05 Oct 2021 19:05 WIB
Taliban berjanji tak akan menjadikan Afghanistan negara narkoba. Namun, sejumlah pengamat ragu kekuasaan Taliban akan bertahan tanpa ladang opium. Taliban berjanji tak akan menjadikan Afghanistan negara narkoba. Namun, sejumlah pengamat ragu kekuasaan Taliban akan bertahan tanpa ladang opium. (AFP/Bulent Kilic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika padang kecokelatan Afghanistan berubah warna menjadi perpaduan merah muda, putih, dan ungu tiap musim semi, para petani gembira karena opium mereka siap panen. Namun, Amerika Serikat panik melihat pemandangan ini.

"Ketika saya melihat ladang opium, saya melihatnya berubah menjadi uang, kemudian menjadi IED [alat peledak], [senapan] AK, dan granat roket," ujar komandan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional di Afghanistan, Dan McNeill, kepada CNN.

Opium memang menjadi sumber pendapatan utama Taliban. Uang dari penjualan opium itu pula lah yang disinyalir digunakan untuk membeli senjata agar dapat melawan pasukan Afghanistan yang dibantu AS.


Hingga akhirnya, perlawanan Taliban berhasil dan kini mereka menjadi penguasa Afghanistan. Ketika sudah merebut takhta, Taliban berjanji kepada dunia bahwa mereka tak akan menjadikan Afghanistan sebagai negara narkoba.

"Afghanistan tak akan menjadi tempat penggarapan narkotik sehingga komunitas internasional harus membantu kami agar kami dapat memiliki alternatif [untuk para petani opium]," ujar juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid.

Kini, Taliban pun harus putar otak untuk mencari sumber pendapatan lain. Hingga saat ini, strategi Taliban untuk mencapai tujuan itu masih menjadi misteri.

Ekonomi opium

Sementara Taliban berpikir, sejumlah pakar mulai meragukan kemampuan Afghanistan keluar dari jerat "ekonomi opium" selama ini.

Beberapa dekade belakangan, Afghanistan dikenal sebagai salah satu produsen opium terbesar dunia. Merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa, Afghanistan memproduksi sekitar 85 persen dari seluruh opium di dunia pada 2020.

Pada 2018, PBB memperkirakan ekonomi opium merengkuh 11 persen dari GDP Afghanistan. Namun, tak diketahui pasti keuntungan yang dikantongi Taliban dari keseluruhan pendapatan opium tersebut.

"Yang jelas, narkoba merupakan aspek penting dalam profit Taliban," ucap peneliti senior dari Brookings Institution, Vanda Felbab-Brown.

Felbab-Brown kemudian menjelaskan bahwa kebanyakan kelompok pemberontak di Afghanistan biasanya mengambil keuntungan dari penarikan "pajak" segala aspek dalam rantai penjualan opium.

Sistem pajak Taliban

Seorang pakar yang mempelajari ekonomi narkoba lebih dari dua dekade, David Mansfield, mengatakan bahwa dunia meyakini Taliban menarik 10 persen dari harga narkoba. Namun menurutnya, jika dipraktikkan, hitungan itu mustahil.

Ia mengambil contoh, margin keuntungan dari satu kilogram heroin biasanya berkisar antara US$80-120 per kilogram. Untuk methamphetamine, margin profitnya sekitar US$30-50 per kilogram.

Jika Taliban menarik pajak 10 persen untuk harga akhir sebelum ekspor, keuntungan sekitar US$1.800 per kilogram heroin akan menguap begitu saja setelah dihitung dengan segala biaya lainnya.

Mansfield menganggap hitungan ini mustahil karena di lapangan, kelompok pemberontak dan para petani tentu tak mau kehilangan uang sebegitu besar hanya untuk pajak.

Meski tak diketahui pasti, yang jelas para pakar memperkirakan Taliban menyedot keuntungan antara puluhan hingga ratusan juta dollar dari ekonomi opium ini.

Penghasilan dari opium ini jauh lebih kecil ketimbang pemungutan pajak dari sektor lain. Namun, ada harga politik yang mahal di balik opium. Baca selengkapnya di halaman berikutnya >>>



Profit Opium untuk Taliban: Kecil, tapi Penting untuk Politik

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER