Jakarta, CNN Indonesia -- Jakarta sempat dihebohkan dengan kabar wilayahnya dapat tenggelam. Mulai dari abrasi pantai maupun penurunan tinggi daratan. Banyak penyebab mengantarkan wilayah Jakarta pada kemungkinan terendam ditelan lautan.
Penurunan tinggi daratan Jakarta salah satunya diakibatkan oleh pemakaian air tanah yang berlebihan.
Melansir Reuters, pengambilan air tanah di Jakarta selama bertahun-tahun menyebabkan lapisan batuan dan sedimen daratan itu perlahan-lahan bertumpuk antara satu sama lain. Peristiwa ini menyebabkan sebagian wilayah kota mulai tenggelam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Lowy Institute pada 2019 menyebut hampir setengah air tanah Jakarta terkontaminasi oleh kotoran manusia. Sementara itu, 80 persen air tanah di kota itu juga mengandung bakteri E. coli, penyebab utama penyakit diare.
Penggunaan air tanah yang berlebih, pun juga banyaknya sumber air yang tercemar, menjadikan Jakarta sebagai kota yang terancam kekurangan air bersih.
Selain Jakarta, ada beberapa negara yang juga terancam pasokan air bersihnya, seperti India dan Brasil. Walaupun begitu, beberapa negara ini memiliki beragam cara untuk menjaga suplai airnya, yakni:
1. India
Pada 2020, Pemerintah India dan Bank Dunia menandatangani perjanjian pinjaman dana senilai US$450 juta (setara Rp6,4 triliun) untuk mendukung program penahanan tingkat air tanah yang semakin menipis di negara itu, dilansir World Bank.
Mengutip World Resources Institute (WRI), Lembaga Nasional untuk Transformasi India (NITI Aayog) mengatakan India sempat mengalami krisis air terburuk dalam sejarah pada 2018. Krisis ini menyebabkan jutaan nyawa serta berbagai mata pencaharian terancam.
Dalam menghadapi masalah itu, India memprioritaskan semua penggunaan air, termasuk pasokan, air minum, dan sanitasi, di bawah satu payung pemerintahan.
Tak hanya itu, India juga melakukan praktik irigasi yang lebih efisien, pun juga pelestarian dan pemulihan danau, dataran banjir, dan daerah resapan air tanah.
2. Brasil
Brasil adalah negara yang kaya akan sumber daya air. Negaran itu memiliki 12 hingga 14 persen cadangan air dunia.
Namun, air di negara ini tidak terdistribusi secara merata. Sekitar 70 persen air ditemukan di Sungai Amazon, sementara 1,6 persen lainnya ditemukan negara bagian São Paulo.
Melihat kondisi air di Sao Paulo, Proyek Pemulihan Air Sao Paulo (REÁGUA) dilaksanakan. Proyek ini dilakukan untuk meningkatkan volume air yang dipulihkan, pun juga meningkatkan kualitas air dengan memperbaiki sistem air limbah.
Di bawah proyek ini, sekitar 47 juta meter kubik air per tahun dapat disimpan. Volume ini setara dengan seluruh pasokan air tahunan yang dibutuhkan kota berpenduduk 800.000 orang.
Cara Thailand dan Maroko menyelamatkan air tawar, baca di halaman berikutnya...
Cara Thailand dan Maroko Mengelola Air Bersih
Foto ilustrasi air. (AFP PHOTO / Munir UZ ZAMAN)
3. Thailand
Ibu kota Thailand, Bangkok, terletak di dataran rendah Delta Sungai Chao Phraya. Ketinggian datarannya hanya berjarak 1,5 meter di atas permukaan laut. Curah hujan yang tinggi di musim hujan juga membuat daerah itu rawan banjir.
Tak hanya itu, kota ini juga terancam tenggelam akibat permukaan laut yang naik dan terlalu banyak air yang dipompa dari akuifer di bawah kota, dilansir CNN.
Dalam mengatasi masalah ini, arsitektur Thailand Kotchakorn Voraakhom mendesain Centennial Park.
"Taman ini bukan hanya (tentang) kecantikan atau rekreasi," kata Voraakhom kepada CNN.
"Ini membantu kota menangani (masalah) air."
Taman ini dibangun di atas tanjakan, dengan halaman utama dan atap yang dibuat miring juga. Fungsi kemiringan ini adalah untuk mengalirkan air hujan.
Selesai mengalir melalui taman, air akan terkumpul di lahan basah buatan. Dari sana, air mengalir ke kolam retensi, yang dapat menampung air hampir 480.000 galon (1.800 meter kubik).
Tak hanya itu, taman ini juga memiliki tanah berpori yang mampu berfungsi sebagai tangki air dengan kapasitas hampir 160.000 galon (600 meter kubik).
Secara keseluruhan, taman ini dapat menampung hingga satu juta galon (4.546 meter kubik) air.
4. Maroko
Sejak 2013, Maroko telah memanfaatkan sistem jaring yang dapat menangkap kabut dan mengubahnya menjadi air. Teknologi ini digunakan untuk menghadapi masalah perubahan iklim dan kurangnya curah hujan di wilayah Maroko Selatan.
Menurut New York Media, jaring kabut yang dikembangkan oleh organisasi nirlaba berkelanjutan Dar Si Hmad dipasang di wilayah Gunung Boutmezguida. Di lokasi itu kabut muncul secara berkala.
Mengutip US News, 800 orang di 15 desa terdekat menerima air yang berasal dari jaring kabut ini.