Taliban Ogah Dibantu AS Bendung Ancaman ISIS-K

rds | CNN Indonesia
Senin, 11 Okt 2021 06:49 WIB
Taliban mengaku ancaman ISIS-K terkendali meski musuh bebuyutannya itu terus meluncurkan sederet serangan yang menyasar warga tak bersalah di Afghanistan. Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, menuturkan kelompoknya tak butuh bantuan AS menangani ancaman teror ISIS yang meningkat di Afghanistan. (Foto: AFP/DIMITAR DILKOFF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Rezim Taliban menegaskan tak ingin bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menangani ancaman ISIS-Khorasan (ISIS-K) di Afghanistan.

Taliban, yang kini menguasai Afghanistan, mengatakan tidak akan ada kerja sama dengan AS untuk membendung peningkatan ancaman kelompok teroris yang menjadi musuh bebuyutan mereka itu.

"Kami mampu menangani Daesh (ISIS) sendiri," kata juru bicara Taliban, Suhail Shaheen kepada Associated Press pada Sabtu (9/10).


ISIS-K memang terus menjadi ancaman keamanan Afghanistan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di negara itu pada 15 Agustus lalu.

Cabang ISIS di Afghanistan itu telah meluncurkan sederet serangan bom bunuh diri sejak Taliban berkuasa.

Yang terbaru, ISIS-K mengklaim bertanggung jawab atas bom bunuh diri yang menerjang sebuah masjid Syiah di Provinsi Kunduz pada Jumat (8/10). Insiden yang berlangsung ketika salat Jumat digelar itu menewaskan 46 orang.

Teror tersebut terjadi empat hari setelah ISIS-K turut meluncurkan bom bunuh diri ke sebuah masjid di Ibu Kota Kabul hingga menewaskan lima orang.

Taliban dan AS menggelar pertemuan perdana mereka di Doha, Qatar, selama akhir pekan lalu.

Dalam pertemuan itu, Pejabat Taliban sekaligus Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, memperingatkan Gedung Putih agar tidak menggoyahkan rezimnya.

"Kami jelas mengatakan kepada mereka bahwa mencoba untuk mengacaukan pemerintah di Afghanistan tidak baik untuk siapa pun," kata Muttaqi kepada kantor berita negara Afghanistan Bakhtar setelah pertemuan dengan delegasi AS.
Dalam pertemuan itu, Muttaqi juga menuturkan AS berencana memberi sejumlah bantuan bagi Afghanistan, termasuk soal penanganan Covid-19 dan vaksin.

Sementara itu, hingga kini belum ada komentar dari pihak AS terkait tatap muka perdana dengan Taliban tersebut.

Namun, dalam pertemuan itu AS menegaskan bahwa Gedung Putih tidak akan mengakui Taliban sebagai pemerintahan sah Afghanistan.

AS sebelumnya menegaskan bahwa pertemuan dengan Taliban tersebut bukan langkah awal Negeri Paman Sam mempertimbangkan pengakuan atas Taliban.



(rds/rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER