Biang Kerok Lonjakan Kasus Covid-19 dan Kematian di Rusia
CNN Indonesia
Jumat, 15 Okt 2021 18:42 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Biang kerok rekor harian dan angka kematian Covid-19 di Rusia melonjak. (REUTERS/TATYANA MAKEYEVA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama tiga hari berturut, Rusia mencatat rekor kasus harian dan kematian akibat Covid-19. Melonjaknya kasus virus corona disebut karena tingkat vaksinasi yang rendah dan kepercayaan rendah masyarakat terhadap vaksin dan pemerintah.
Kamis (14/10), kasus Covid-19 di Rusia pecah rekor dengan 31.299 kasus. Sementara angka kematian harian mencapai 986 jiwa, demikian dikutip dari Global News.
Pada Rabu (13/10), Rusia mencatat kasus harian dan kematian tertinggi sejak pandemi dengan 28.717 kasus dan 984 kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di rekor sebelumnya, pada Selasa (12/10) lalu, Moskow melaporkan kasus harian Covid-19 dengan 28.190 dan angka kematian 973 jiwa.
Meningkatnya kasus Covid-19 di negara itu, membuat Presiden Rusia Vladimir Putin meminta percepatan program vaksinasi nasional.
Kremlin mengatakan, peningkatan kasus Covid karena masih banyak warga yang belum divaksin.
Menurut Medical News Today, meningkatnya kasus Covid-19 di Rusia selama bulan Oktober disebut karena beberapa hal.
Perdana Menteri Rusia, Mikhail Minshustun, mengaku betul-betul prihatin atas kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi di negaranya.
"Jumlah yang sakit dan sehat atau morbiditas meningkat di sebagian besar wilayah Rusia. Ada dua kali lebih banyak pasien di rumah sakit dibanding tahun lalu," kata Mishustin.
Saat varian Delta menyerang Rusia, tingkat vaksinasi negara itu disebut masih rendah.
Mishustin bahkan menyatakan tingkat vaksinasi tak cukup menahan laju penyebaran virus corona. Narasi ini menjadi ironi lantaran Rusia merupakan negara pertama yang vaksin buatannya, Sputnik V, disahkan sebagai vaksin Covid-19.
Putin terus menyerukan agar warga negaranya segera divaksin karena Covid-19 berbahaya bagi kehidupan masyarakatnya.
Sejauh ini baru ada 29 persen atau 43 juta dari populasi yang sudah divaksin secara penuh.
Skeptis dan Takut akan Vaksin
September lalu, lembaga survei independen meneliti warga Rusia yang resisten terhadap vaksin. Hasil penelitian itu menunjukkan 33 persen mengaku takut akan efek samping vaksin. Sedangkan 20 persen menyatakan menunggu uji klinis rampung dan 16 persen mengungkapkan tak menemukan alasan untuk diinokulasi.
Rusia telah menyelesaikan uji klinis vaksin Sputnik V pada 30 September.
Dari jumlah orang yang disurvei, sebanyak 57 persen mengatakan tak takut divaksin. Angka yang tak jauh beda dengan mereka yang menentang upaya vaksinasi.
Warga skeptis terhadap pemerintah, baca di halaman berikutnya...
Seorang filsuf dan ahli bioetika asal Rusia, Anna Gotlib, mengatakan faktor lain yang turut berkontribusi yakni ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
"Mereka sulit percaya akan vaksin buatan negaranya. Tapi mereka tidak percaya vaksin buata Barat. Pada akhirnya, mereka tidak memilih keduanya," terang Gotlib.
Menurutnya, warga Rusia juga memiliki sejarah panjang menyoal kepercayaan terhadap pengobatan alternatif atau pengobatan rumahan.
Gotlib juga menggambarkan bagaimana disinformasi soal Covid-19 dan vaksin membanjiri media Rusia.
"Saat orang mengeluh betapa cepatnya disinformasi menyebar di AS, mereka tak tahu betapa buruknya kondisi yang hampir sama di Rusia," kata Gotlib.
"Sampai-sampai saat Anda melihat media Rusia kadang sulit melewatkan klaim (omong kosong) anti vaksin yang tak berbasis ilmiah."
Selain itu, beberapa pihak menilai maraknya tes antibodi di Rusia menjadi pemicu orang enggan divaksin. Padahal tes itu tak membentuk antibodi, namun untuk mendeteksi infeksi virus corona.
Enggan Menerapkan Kembali Pembatasan
Pemerintah Rusia enggan memberlakukan pembatasan sosial yang mungkin bisa menekan laju penularan virus corona. Mereka khawatir tindakan tersebut berdampak buruk pada perekonomian negara.
Bar, restoran, dan klub disebut tetap buka di seluruh negeri.
Meski kasus melonjak, Global News melaporkan, Kremlin mengesampingkan penguncian wilayah baru yang pernah dilakukan selama awal pandemi.
Pemerintah mengklaim belum mau menerapkan lockdown selama fasilitas kesehatan tak kewalahan dan tetap bisa bekerja sebagaimana mestinya.
Moskow pernah meminta pelaku usaha untuk menerapkan tes PCR bagi konsumen restoran dan bar. Tetapi aturan itu tak bertahan lama, lantaran mereka mengaku kehilangan pendapatan.
Namun, pada 5 Oktober lalu, Walikota Moskow Sergei Sobyanin mengumumkan pengujian PCR massal akan dimulai dalam satu atau dua pekan di kota itu.
Demi menekan laju penularan virus, beberapa wilayah Rusia lain akan menjadikan bukti vaksinasi sebagai syarat masuk ke sejumlah tempat publik.
Di hari yang sama, Wakil Perdana Menteri Tatiana Golikova juga mengatakan pemerintah federal sekarang merekomendasikan wilayah untuk menetapkan kode QR vaksinasi sebagai syarat menghadiri pertemuan besar.
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama tiga hari berturut, Rusia mencatat rekor kasus harian dan kematian akibat Covid-19. Melonjaknya kasus virus corona disebut karena tingkat vaksinasi yang rendah dan kepercayaan rendah masyarakat terhadap vaksin dan pemerintah.
Kamis (14/10), kasus Covid-19 di Rusia pecah rekor dengan 31.299 kasus. Sementara angka kematian harian mencapai 986 jiwa, demikian dikutip dari Global News.
Pada Rabu (13/10), Rusia mencatat kasus harian dan kematian tertinggi sejak pandemi dengan 28.717 kasus dan 984 kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di rekor sebelumnya, pada Selasa (12/10) lalu, Moskow melaporkan kasus harian Covid-19 dengan 28.190 dan angka kematian 973 jiwa.
Meningkatnya kasus Covid-19 di negara itu, membuat Presiden Rusia Vladimir Putin meminta percepatan program vaksinasi nasional.
Kremlin mengatakan, peningkatan kasus Covid karena masih banyak warga yang belum divaksin.
Menurut Medical News Today, meningkatnya kasus Covid-19 di Rusia selama bulan Oktober disebut karena beberapa hal.
Perdana Menteri Rusia, Mikhail Minshustun, mengaku betul-betul prihatin atas kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi di negaranya.
"Jumlah yang sakit dan sehat atau morbiditas meningkat di sebagian besar wilayah Rusia. Ada dua kali lebih banyak pasien di rumah sakit dibanding tahun lalu," kata Mishustin.
Saat varian Delta menyerang Rusia, tingkat vaksinasi negara itu disebut masih rendah.
Mishustin bahkan menyatakan tingkat vaksinasi tak cukup menahan laju penyebaran virus corona. Narasi ini menjadi ironi lantaran Rusia merupakan negara pertama yang vaksin buatannya, Sputnik V, disahkan sebagai vaksin Covid-19.
Putin terus menyerukan agar warga negaranya segera divaksin karena Covid-19 berbahaya bagi kehidupan masyarakatnya.
Sejauh ini baru ada 29 persen atau 43 juta dari populasi yang sudah divaksin secara penuh.
Skeptis dan Takut akan Vaksin
September lalu, lembaga survei independen meneliti warga Rusia yang resisten terhadap vaksin. Hasil penelitian itu menunjukkan 33 persen mengaku takut akan efek samping vaksin. Sedangkan 20 persen menyatakan menunggu uji klinis rampung dan 16 persen mengungkapkan tak menemukan alasan untuk diinokulasi.
Rusia telah menyelesaikan uji klinis vaksin Sputnik V pada 30 September.
Dari jumlah orang yang disurvei, sebanyak 57 persen mengatakan tak takut divaksin. Angka yang tak jauh beda dengan mereka yang menentang upaya vaksinasi.
Warga skeptis terhadap pemerintah, baca di halaman berikutnya...
Tak Percaya Pemerintah
Foto ilustrasi, suasana pemakaman pasien Covid-19 di Rusia. (AP Photo)
Seorang filsuf dan ahli bioetika asal Rusia, Anna Gotlib, mengatakan faktor lain yang turut berkontribusi yakni ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
"Mereka sulit percaya akan vaksin buatan negaranya. Tapi mereka tidak percaya vaksin buata Barat. Pada akhirnya, mereka tidak memilih keduanya," terang Gotlib.
Menurutnya, warga Rusia juga memiliki sejarah panjang menyoal kepercayaan terhadap pengobatan alternatif atau pengobatan rumahan.
Gotlib juga menggambarkan bagaimana disinformasi soal Covid-19 dan vaksin membanjiri media Rusia.
"Saat orang mengeluh betapa cepatnya disinformasi menyebar di AS, mereka tak tahu betapa buruknya kondisi yang hampir sama di Rusia," kata Gotlib.
"Sampai-sampai saat Anda melihat media Rusia kadang sulit melewatkan klaim (omong kosong) anti vaksin yang tak berbasis ilmiah."
Selain itu, beberapa pihak menilai maraknya tes antibodi di Rusia menjadi pemicu orang enggan divaksin. Padahal tes itu tak membentuk antibodi, namun untuk mendeteksi infeksi virus corona.
Enggan Menerapkan Kembali Pembatasan
Pemerintah Rusia enggan memberlakukan pembatasan sosial yang mungkin bisa menekan laju penularan virus corona. Mereka khawatir tindakan tersebut berdampak buruk pada perekonomian negara.
Bar, restoran, dan klub disebut tetap buka di seluruh negeri.
Meski kasus melonjak, Global News melaporkan, Kremlin mengesampingkan penguncian wilayah baru yang pernah dilakukan selama awal pandemi.
Pemerintah mengklaim belum mau menerapkan lockdown selama fasilitas kesehatan tak kewalahan dan tetap bisa bekerja sebagaimana mestinya.
Moskow pernah meminta pelaku usaha untuk menerapkan tes PCR bagi konsumen restoran dan bar. Tetapi aturan itu tak bertahan lama, lantaran mereka mengaku kehilangan pendapatan.
Namun, pada 5 Oktober lalu, Walikota Moskow Sergei Sobyanin mengumumkan pengujian PCR massal akan dimulai dalam satu atau dua pekan di kota itu.
Demi menekan laju penularan virus, beberapa wilayah Rusia lain akan menjadikan bukti vaksinasi sebagai syarat masuk ke sejumlah tempat publik.
Di hari yang sama, Wakil Perdana Menteri Tatiana Golikova juga mengatakan pemerintah federal sekarang merekomendasikan wilayah untuk menetapkan kode QR vaksinasi sebagai syarat menghadiri pertemuan besar.