Taliban Raih Banyak Dukungan di Pembicaraan Moskow

CNN Indonesia
Minggu, 24 Oct 2021 02:09 WIB
Rusia, China, Pakistan, India, Iran, dan lima negara bekas Uni Soviet bergabung dengan Taliban untuk mendesak PBB menyelenggarakan konferensi secepat mungkin. Ilustrasi dialog kelompok Taliban. (AFP/KARIM JAAFAR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Taliban mendapat dukungan 10 kekuatan regional dalam pembicaraan di Moskow pada Rabu (20/10) untuk gagasan konferensi donor PBB. Aksi ini diklaim dapat membantu mencegah keruntuhan ekonomi dan bencana kemanusiaan di Afghanistan.

Rusia, China, Pakistan, India, Iran, dan lima negara bekas Uni Soviet bergabung dengan Taliban untuk mendesak PBB menyelenggarakan konferensi secepat mungkin guna membangun kembali Afghanistan.

Dilansir dari Reuters, mereka mengatakan itu harus dilakukan 'dengan pemahaman, tentu saja, bahwa beban utama ... harus ditanggung oleh pasukan yang kontingen militernya hadir di negara ini selama 20 tahun terakhir'.


Hal tersebut pun merujuk pada langkah Amerika Serikat dan sekutunya yang menginvasi Afghanistan setelah serangan 11 September 2001 hingga penarikan pasukan yang membuka jalan bagi Taliban merebut kendali pada Agustus lalu.

Amerika Serikat memilih absen dalam pembicaraan dengan alasan teknis, tetapi mereka membuka kemungkinan bergabung dalam agenda di masa mendatang.

Rusia memimpin seruan terhadap bantuan internasional dengan menyadari bahwa konflik dari Afghanistan mengancam stabilitas regional.

"Tidak ada yang tertarik dengan kelumpuhan total seluruh negara bagian, yang berbatasan, antara lain, CIS (Persemakmuran Negara-negara Merdeka)," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Kebangkitan Taliban telah menimbulkan ketakutan dunia akan kembalinya kekuasaan Islam garis keras pada 1990-an, ketika mereka menjadi tuan rumah gerakan al Qaeda Osama bin Laden dan melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan. Termasuk rajam di depan umum dan marginalisasi perempuan di tempat kerja dan sekolah.

Sejak kembali berkuasa, Taliban menyatakan telah bergerak secepat mungkin untuk membuka pemerintahan dan menjamin hak-hak perempuan. Mereka mengklaim tidak mewakili ancaman bagi negara lain.

"Afghanistan tidak akan pernah membiarkan tanahnya digunakan sebagai pangkalan bagi siapa pun untuk mengancam keamanan negara lain," kata Menteri Luar Negeri Afghanistan yang berasal dari Taliban, Amir Khan Muttaqi.

Selain itu, Wakil Perdana Menteri yang memimpin delegasi, Abdul Salam Hanafi, mengatakan, "mengisolasi Afghanistan bukanlah kepentingan siapa pun."

Sementara pemerintahan di seluruh dunia, termasuk Rusia, menolak memberikan pengakuan resmi kepada pemerintahan Taliban, komunike tersebut mengakui 'realitas baru' dari kenaikan mereka ke kekuasaan.

Mencari Pengaruh

Inisiatif Rusia yang menjadi tuan rumah pembicaraan itu merupakan upaya untuk meningkatkan pengaruh di kawasan tersebut setelah penarikan Amerika Serikat.

Ketakutan utamanya adalah risiko ketidakstabilan di Asia Tengah dan kemungkinan arus migran dan aktivitas militan Islam yang diarahkan dari Afghanistan.

Kekhawatiran telah meningkat setelah serangkaian serangan oleh afiliasi Afghanistan dari ISIS- yang dijuluki ISIS-K karena berasal dari Provinsi Khorasan- di masjid dan target lain yang telah membuat ratusan orang tewas.

Rusia telah berperang di Afghanistan pada 1980-an dan memiliki hubungan militer dan politik yang erat dengan bekas republik Uni Soviet di Asia Tengah yang berbatasan dengan Afghanistan.

Selain mengatakan tidak ada kelompok militan yang beroperasi dari Afghanistan, Taliban mengklaim akan melindungi hak-hak perempuan dan kalangan minoritas.

Meski demikian, banyak perempuan dan anak-anak perempuan dilarang pergi bekerja atau sekolah. Dan, kabinet sementara hanya mencakup laki-laki.

(ryn/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER