Kronologi Erdogan Usir 10 Dubes Negara Asing

CNN Indonesia
Minggu, 24 Oct 2021 10:54 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengusir sepuluh dubes negara asing dari negaranya. Berikut sebab dan kronologinya. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengusir sepuluh dubes negara asing dari negaranya. (AFP/ADEM ALTAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memerintahkan menteri luar negerinya untuk mengusir sepuluh duta besar negara asing dari negaranya pada Sabtu (23/10).

Seperti dilansir AFP, pengusiran sepuluh duta besar negara asing, termasuk dari Jerman dan Amerika Serikat, dilakukan Erdogan karena mereka kompak menyerukan dukungan terhadap tokoh aktivis, Osman Kavala.

Berikut kronologinya


Pernyataan Bersama Sepuluh Dubes

Kasus ini dimulai ketika sepuluh duta besar berbagai negara di Ankara mengeluarkan pernyataan bersama berisikan kritikan terhadap penahanan Kavala yang mereka anggap sebagai "bayang-bayang" Turki. Pernyataan ini disampaikan pada Senin (17/10).

Dalam pernyataan bersama itu, AS, Jerman, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, dan Swedia menyerukan penyelesaian yang adil dan cepat untuk kasus (Kavala).

Pemanggilan Dubes dan Rencana Pengusiran Mereka

Akibat aksi ini, Kementerian Luar Negeri Turki memanggil sepuluh duta besar negara tadi pada Selasa (18/10).

Pada Sabtu (23/10), Erdogan mengumumkan bahwa dirinya telah mengusir sepuluh duta besar negara yang ikut serta mendukung Kavala.

"Saya telah memerintahkan menteri luar negeri kami untuk mengumumkan sepuluh duta besar negara asing tersebut akan di-persona non grata secepatnya," ujar Erdogan, Sabtu (23/10).

Walaupun demikian, Erdogan tak menyebut waktu tepat kesepuluh duta besar tersebut resmi diusir. Namun, Erdogan menegaskan, "Mereka harus pergi dari sini pada hari mereka tidak lagi bisa di Turki."

Mengenal Osman Kavala dan Penangkapannya

Kavala sendiri merupakan filantropis sekaligus aktivis kelahiran Paris. Turki menahan pria 64 tahun itu sejak 2017 tanpa vonis hukuman.

Meski tidak terlalu dikenal secara internasional, Kavala telah dinilai menjadi simbol bagi para pendukungnya di tengah tindakan keras rezim Erdogan dalam merespons upaya kudeta gagal 2016 lalu.

Mengutip New York Times, Kavala menjadi tahanan politik yang paling terkemuka di Turki. Penangkapannya sendiri dilakukan karena pemerintah beranggapan Kavala mencoba menggulingkan pemerintahan Erdogan. Ia dituduh membiayai dan mengatur protes anti-pemerintah yang berlangsung pada 2013 yang dimulai di Taman Gezi.

Erdogan menilai protes yang terjadi merupakan upaya untuk menggulingkan kekuasaannya, bukan protes yang terjadi secara spontan. Erdogan juga mengklaim dirinya berhasil menggagalkan 'kelicikan' yang mencoba membebaskan Kavala.

Sementara itu, Kavala menilai penangkapannya merupakan bagian dari drama politik Erdogan yang masih ingin berkuasa atas Turki. Kavala juga berpendapat bahwa hakim dan jaksa bersikap sesuai dengan wacana politik Erdogan.

"Karena saya adalah aktor utama dalam dakwaan fiktif dan juga satu-satunya terdakwa yang ditangkap dalam kasus ini, saya yakin situasi saya dinilai sebagai contoh kasus istimewa yang terjadi karena alasan politik," tulis Kavala.

(pwn/agt)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER