Osman Kavala, Dibela 10 Dubes yang Bikin Erdogan Geram

CNN Indonesia
Minggu, 24 Oct 2021 10:00 WIB
Nama Osman Kavala kembali mencuat setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memerintahkan mengusir 10 dubes negara asing. Poster wajah Osman Kavala, aktivis yang ditangkap Recep Tayyip Erdogan. (AFP/OZAN KOSE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Osman Kavala kembali mencuat setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memerintahkan mengusir 10 Duta Besar (dubes) negara asing.

Sebelumnya, 10 duta besar negara asing di Turki mengeluarkan pernyataan bersama yang mengkritik penahanan Kavala.

Aktivis yang lahir Prancis ini ditangkap sejak 2017 tanpa proses persidangan.


Aksi sepuluh duta besar ini membuat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan marah dan mengusir sepuluh duta besar negara asing yang menyerukan dukungan pada Kavala.

"Saya telah memerintahkan menteri luar negeri kami untuk mengumumkan 10 duta besar negara. asing tersebut akan di-persona non grata secepatnya yang memungkinkan," ujar Erdogan, Sabtu (23/10).

Erdogan tak memberitahu kapan tepatnya para 10 duta besar tersebut resmi diusir. Namun, Erdogan menegaskan, "Mereka harus pergi dari sini pada hari mereka tidak lagi bisa di Turki."

Para dubes yang akan diusir antara lain dari AS, Jerman, Denmark, Finlandia, Prancis, Belanda, Swediam Kanada, Norwegia, dan Selandia Baru.

Kavala merupakan pengusaha, filantropis, dan aktivis yang kerap menghadapi serangkaian tuduhan. Mulai dari protes anti-pemerintah 2013 hingga dugaan keterkaitan upaya kudeta militer yang gagal pada 2016 lalu.

Mengutip New York Times, Kavala menjadi tahanan politik yang paling terkemuka di Turki. Ia dibesarkan dan tinggal di Istanbul. Kavala berasal dari keluarga pedagang tembakau yang pindah dari Yunani ke Istanbul pada 1920-an.

Kavala belajar tentang ilmu manajemen di Universitas Teknik Timur Tengah di Ankara. Ia juga mempelajari ilmu ekonomi di Universitas Manchester, Inggris.

Kavala melakukan studi untuk gelar doktornya di The New School for Social Research di New York. Namun, studinya terhenti saat ayahnya meninggal dunia pada 1892.

Di usia 26, Kavala pergi ke Istanbul dan mengambil-alih perusahaan keluarganya, Kavala Group. Ia menikah dengan peneliti ilmu sosial Ayse Bugra pada 1988.

Kavala juga dikenal tertarik dengan isu lingkungan dan hak masyarakat sipil. Ia pernah menolak proyek pembangunan hotel di Turki setelah menonton "Turtle Diary" dan mengetahui bahwa pantai merupakan tempat yang penting bagi perkembangbiakan penyu.



Kavala Menekuni Isu Budaya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER