Putra Mahkota Saudi Disebut Sempat Ingin Bunuh Raja Abdullah

has | CNN Indonesia
Senin, 25 Oct 2021 13:57 WIB
Mantan pejabat intelijen Arab Saudi mengklaim Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) sempat menyatakan ingin membunuh Raja Abdullah. Mantan pejabat intelijen Arab Saudi mengklaim bahwa Pangeran Mohammed bin Salman sempat menyatakan ingin membunuh Raja Abdullah sebelum meninggal pada 2015. (REUTERS/HANDOUT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang mantan pejabat intelijen Arab Saudi, Saad al-Jabri, mengklaim Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) sempat menyatakan ingin membunuh Raja Abdullah sebelum meninggal pada 2015.

Dalam wawancara dengan CBS News, al-Jabri mengatakan bahwa MbS melontarkan pernyataan tersebut pada 2014, kala bertemu dengan kepala intelijen yang juga Menteri Dalam Negeri Saudi saat itu, Mohammed bin Nayef.

Menurut al-Jabri, dalam pertemuan itu MbS menyatakan bahwa ia dapat membunuh Raja Abdullah agar ayahnya, Salman bin Abdulaziz, bisa mewarisi takhta kerajaan.


"Dia berkata kepadanya, 'Saya ingin membunuh Raja Abdullah. Saya dapat racun dari Rusia. Cukup bersalaman dengan dia, hidupnya akan berakhir,'" ucap al-Jabri, seperti dikutip Associated Press, Minggu (24/10).

Ia mengatakan masalah itu kemudian ditangani oleh keluarga kerajaan secara internal. Al-Jabri tak mengungkap bukti lebih lanjut, tapi ia mengklaim bahwa video yang merekam momen itu masih ada.

Setahun setelah itu, Raja Abdullah meninggal dunia karena masalah kesehatan. Raja Salman pun dilantik sebagai penggantinya pada Januari 2015.

Al-Jabri memanfaatkan wawancara dengan CBS News ini untuk memperingatkan MbS agar tak membunuhnya karena ia memegang sejumlah video yang dapat membocorkan rahasia kerajaan, sebagian berkaitan dengan AS.

Dalam wawancara itu, al-Jabri juga menunjukkan sejumlah video singkat kepada koresponden CBS, Scott Pelley. Al-Jabri mengatakan bahwa video itu bisa dirilis jika ia dibunuh.

Ia sendiri kini hidup di pengasingan di Kanada. Sejak ia angkat kaki dari Saudi, Riyadh terus memburunya. Sejumlah entitas Saudi menggugat al-Jabri di pengadilan AS dan Kanada dengan tuduhan pencurian sekitar US$500 miliar dari anggaran kontraterorisme.

Sementara itu, Saudi juga menahan putra dan putri al-Jabri pada Maret 2020 lalu. Menantunya juga diculik dari satu negara asing dan dipaksa kembali ke Saudi, di mana ia dilaporkan ditahan dan disiksa.

[Gambas:Video CNN]

Human Rights Watch menyatakan bahwa penahanan anggota keluarga al-Jabri tersebut merupakan upaya Saudi untuk menekan agar eks pejabat tersebut mau kembali ke Saudi.

Di sisi lain, al-Jabri juga melayangkan surat gugatan terhadap MbS di pengadilan AS dengan tuduhan pangeran itu mencoba menjebak dan membunuhnya di Kanada dan Negeri Paman Sam.

Al-Jabri mengatakan bahwa MbS tak akan berhenti sampai "melihat saya mati" karena "dia takut dengan informasi yang saya punya."

(has/bac)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER