Kisah Pastor LGBT Brasil Dirikan Gereja Transgender Pertama
CNN Indonesia
Kamis, 18 Nov 2021 10:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Hidup penuh tekanan sejak kecil, Jacque Chanel tak mengira bisa menjadi pastor di gereja transgender pertama Brasil, yang ia dirikan usai perjuangan panjang. (AFP/Miguel Schincariol)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hidup penuh tekanan sejak kecil, Jacque Chanel tak pernah mengira bisa menjadi pastor di gereja transgender pertama di Brasil, yang ia dirikan usai melewati perjuangan panjang.
Di salah satu sudut di Sao Paulo, gereja tersebut berdiri dengan spanduk merah muda terbentang di depannya bertuliskan, "Saya trans, dan saya ingin bermartabat dan dihormati."
Chanel memimpin kebaktian-kebaktian di gereja itu. Dengan demikian, gereja ini mendobrak tradisi dari berbagai aspek, mulai dari jemaat hingga pastor yang memimpinnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak jemaah yang hadir di gereja itu juga merupakan tunawisma. Tiap berdoa, mereka melingkar dan saling bergandengan tangan, bukan berbaris sebagaimana di gereja pada umumnya.
"Saya sangat menderita untuk sampai ke tahap ini," katanya.Chanel merentangkan tangan saat menyapa mereka. Tatapannya tajam, memperlihatkan pengalaman beratnya selam hidup.
Brasil memang merupakan salah satu negara yang berbahaya di dunia bagi orang-orang transgender. Pada 2020 lalu saja, ada sekitar 175 transgender yang terbunuh.
"Kami hidup di masyarakat yang menganiaya kami, mendiskriminasi kami. Apa yang saya lakukan di sini adalah memberi harapan dan kekuatan untuk orang-orang trans," ujar Chanel kepada AFP.
Chanel sendiri lahir dengan nama Ricardo, di Kota Belem, negara bagian Para. Ibunya melihat sisi transgender dalam diri sang anak sebagai penyakit.
Sang ibu lantas mengirim Chanel ke satu pastor di Gereja Kristen Injil untuk "menyembuhkan" transgender-nya. Dia mengingat pastor itu sebagai sosok ayah.
"Dia tak menerima saya menjadi transgender, tapi setidaknya dia peduli kepada saya," ucapnya.
Namun, hidup Chanel kembali 'suram' ketika mengetahui pastor itu dibunuh. Tanpa kehadirannya, Chanel tidak lagi diterima di gereja itu.
Gerakan Kristen Injil yang berkembang di Brasil sebagian besar masih konservatif. Mereka bisa memusuhi orang-orang yang dianggap melanggar nilai-nilai tradisional.
Namun, pengalaman tersebut tak menghentikan langkah Chanel mencari gereja yang akan bersedia merangkulnya.
"Mereka tak akan menerima saya. Mereka akan meletakkan tangan di atas kepala saya untuk mengusir roh-roh jahat," ujar Channel.
Meski terus menjadi korban diskriminasi, Chanel tak pernah berniat melepas kepercayaannya. Dia terus mencoba menjelajahi gereja yang berbeda.
Hingga akhirnya, ia menemukan satu grup injil inklusi, sebuah gerakan yang muncul era 2000-an untuk menyambut orang-orang LGBT Kristen.
"Itu mengubah hidup saya. Namun kemudian, mulai terasa tak adil. Ada 300 gay dan lesbian, dan hanya dua transgender. Apakah itu benar-benar inklusif?" tanya Chanel.
Baca perjuangan Chanel mendirikan gereja di halaman berikutnya >>>
Dia lantas terinspirasi melakukan gerakan serupa untuk kelompok ibadah sendiri, dan mengumpulkan sekitar 200 orang transgender.
Chanel membuka gereja itu sekitar enam bulan lalu, dengan pembukaan perdana via daring.
Dia menyambut jemaat dengan memberi makan. Sepekan sekali, ia juga membagikan sumbangan berupa makanan kepada orang miskin di Sao Paulo.
Chanel mengatakan bahwa kebaktian di gerejanya itu pernah menjadi sasaran serangan kaum Evangelikal konservatif secara online. Namun, ia tetap membuka pintu untuk semua golongan.
"Trans atau tidak, saya mengundang semua orang ke kebaktian mingguan kami. Kami terbuka untuk semua orang," katanya.
Salah satu jemaah yang mengikuti kebaktian di gereja inklusif itu adalah Vanessa Souza.
"Saat saya pergi ke Gereja Katolik, banyak orang memerhatikan saya, terutama saat saya menerima komuni (upacara di Gereja Katolik)," ujar salah satu jemaah.
Souza lalu mengatakan bahwa di gereja bentukan Chanel, ia merasa seperti rumah.
"Di sini berbeda. Tidak ada orang yang melihat saya. Tak ada yang mengamati pakaian saya atau memanggil saya banci. Saya merasa seperti di rumah," katanya.
Saat ini, ia tengah menunggu operasi bedah untuk benar-benar menjadi gender yang dipilih.
Chanel sendiri tak terburu-buru untuk melakukan operasi. Ia tetap menggunakan nama Ricardo di kartu identitasnya.
"Itu memberi saya kesempatan mengajar ke orang-orang setiap ada yang mengajukan pertanyaan," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hidup penuh tekanan sejak kecil, Jacque Chanel tak pernah mengira bisa menjadi pastor di gereja transgender pertama di Brasil, yang ia dirikan usai melewati perjuangan panjang.
Di salah satu sudut di Sao Paulo, gereja tersebut berdiri dengan spanduk merah muda terbentang di depannya bertuliskan, "Saya trans, dan saya ingin bermartabat dan dihormati."
Chanel memimpin kebaktian-kebaktian di gereja itu. Dengan demikian, gereja ini mendobrak tradisi dari berbagai aspek, mulai dari jemaat hingga pastor yang memimpinnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak jemaah yang hadir di gereja itu juga merupakan tunawisma. Tiap berdoa, mereka melingkar dan saling bergandengan tangan, bukan berbaris sebagaimana di gereja pada umumnya.
"Saya sangat menderita untuk sampai ke tahap ini," katanya.Chanel merentangkan tangan saat menyapa mereka. Tatapannya tajam, memperlihatkan pengalaman beratnya selam hidup.
Brasil memang merupakan salah satu negara yang berbahaya di dunia bagi orang-orang transgender. Pada 2020 lalu saja, ada sekitar 175 transgender yang terbunuh.
"Kami hidup di masyarakat yang menganiaya kami, mendiskriminasi kami. Apa yang saya lakukan di sini adalah memberi harapan dan kekuatan untuk orang-orang trans," ujar Chanel kepada AFP.
Chanel sendiri lahir dengan nama Ricardo, di Kota Belem, negara bagian Para. Ibunya melihat sisi transgender dalam diri sang anak sebagai penyakit.
Sang ibu lantas mengirim Chanel ke satu pastor di Gereja Kristen Injil untuk "menyembuhkan" transgender-nya. Dia mengingat pastor itu sebagai sosok ayah.
"Dia tak menerima saya menjadi transgender, tapi setidaknya dia peduli kepada saya," ucapnya.
Namun, hidup Chanel kembali 'suram' ketika mengetahui pastor itu dibunuh. Tanpa kehadirannya, Chanel tidak lagi diterima di gereja itu.
Gerakan Kristen Injil yang berkembang di Brasil sebagian besar masih konservatif. Mereka bisa memusuhi orang-orang yang dianggap melanggar nilai-nilai tradisional.
Namun, pengalaman tersebut tak menghentikan langkah Chanel mencari gereja yang akan bersedia merangkulnya.
"Mereka tak akan menerima saya. Mereka akan meletakkan tangan di atas kepala saya untuk mengusir roh-roh jahat," ujar Channel.
Meski terus menjadi korban diskriminasi, Chanel tak pernah berniat melepas kepercayaannya. Dia terus mencoba menjelajahi gereja yang berbeda.
Hingga akhirnya, ia menemukan satu grup injil inklusi, sebuah gerakan yang muncul era 2000-an untuk menyambut orang-orang LGBT Kristen.
"Itu mengubah hidup saya. Namun kemudian, mulai terasa tak adil. Ada 300 gay dan lesbian, dan hanya dua transgender. Apakah itu benar-benar inklusif?" tanya Chanel.
Baca perjuangan Chanel mendirikan gereja di halaman berikutnya >>>
Chanel Jengkel hingga Bangun Gereja Sendiri
Hidup penuh tekanan sejak kecil, Jacque Chanel tak mengira bisa menjadi pastor di gereja transgender pertama Brasil, yang ia dirikan usai perjuangan panjang. (AFP/Miguel Schincariol)
Dia lantas terinspirasi melakukan gerakan serupa untuk kelompok ibadah sendiri, dan mengumpulkan sekitar 200 orang transgender.
Chanel membuka gereja itu sekitar enam bulan lalu, dengan pembukaan perdana via daring.
Dia menyambut jemaat dengan memberi makan. Sepekan sekali, ia juga membagikan sumbangan berupa makanan kepada orang miskin di Sao Paulo.
Chanel mengatakan bahwa kebaktian di gerejanya itu pernah menjadi sasaran serangan kaum Evangelikal konservatif secara online. Namun, ia tetap membuka pintu untuk semua golongan.
"Trans atau tidak, saya mengundang semua orang ke kebaktian mingguan kami. Kami terbuka untuk semua orang," katanya.
Salah satu jemaah yang mengikuti kebaktian di gereja inklusif itu adalah Vanessa Souza.
"Saat saya pergi ke Gereja Katolik, banyak orang memerhatikan saya, terutama saat saya menerima komuni (upacara di Gereja Katolik)," ujar salah satu jemaah.
Souza lalu mengatakan bahwa di gereja bentukan Chanel, ia merasa seperti rumah.
"Di sini berbeda. Tidak ada orang yang melihat saya. Tak ada yang mengamati pakaian saya atau memanggil saya banci. Saya merasa seperti di rumah," katanya.
Saat ini, ia tengah menunggu operasi bedah untuk benar-benar menjadi gender yang dipilih.
Chanel sendiri tak terburu-buru untuk melakukan operasi. Ia tetap menggunakan nama Ricardo di kartu identitasnya.
"Itu memberi saya kesempatan mengajar ke orang-orang setiap ada yang mengajukan pertanyaan," katanya.