Korut dan Krisis Pangan yang Berulang di Tiga Rezim Kim

CNN Indonesia
Jumat, 19 Nov 2021 14:16 WIB
Krisis pangan dan kelaparan bukan hal baru lagi bagi Korut. Tragedi serupa terjadi di masa kepemimpinan Kim Il-sung, Kim Jong-il, hingga kini Kim Jong-un. Potret kehidupan Korea Utara di Ibu Kota Pyongyang. ((AFP PHOTO/Ed JONES)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah himpitan sanksi internasional dan pandemi Covid-19, warga Korea Utara yang sebagian besar berada dalam kemiskinan kian terpuruk dengan wabah kelaparan yang memburuk.

Sejak April lalu, Korut dilaporkan dilanda krisis pangan akut hingga stok pangan darurat pun dikabarkan habis.

Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un pun mengakui krisis yang tengah melanda warganya itu dalam sebuah rapat dengan Komite Pusat Partai Buruh pada Juni lalu.


"Situasi pangan rakyat semakin sulit karena sektor agrikultur gagal memenuhi rencana produksi gandum, dampak kerusakan akibat topan tahun lalu," ujar Kim dalam rapat tersebut seperti dikutip kantor media pemerintah Korut, KCNA, Selasa (15/6).

Kim pun berjanji akan mengerahkan segala upaya di bidang pertanian tahun ini. Ia juga akan membicarakan berbagai cara untuk menangani dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pangan.

Pun, dia memerintahkan jajaran pemerintahannya untuk mempelajari langkah-langkah antisipasi guna meminimalkan dampak bencana, berkaca dari yang sudah terjadi.

Mengutip News Week, krisis pangan itu diduga salah satunya terjadi karena impor bahan makan dari China turun hingga 90 persen.

Seperti dikutip dari CNN, di Pyongyang, harga beberapa barang pokok dilaporkan meroket. Para ahli mengatakan harga beras dan bahan bakar relatif stabil tetapi bahan pokok impor seperti gula, minyak kedelai dan harga tepung merangkak naik.

Bahan pokok yang diproduksi secara lokal juga melonjak dalam beberapa bulan terakhir. Penduduk Korut mengatakan harga kentang naik tiga kali lipat di pasar Tongil.

Pada Juni lalu, harga kebutuhan pokok juga melonjak imbas krisis pangan yang terjadi di Korea Utara.

Para ahli menuturkan harga beras dan bahan bakar relatif stabil, namun bahan pokok impor seperti gula, minyak kedelai dan harga tepung meroket.

Bahan pokok produksi lokal juga melambung dalam beberapa bulan terakhir. Harga kentang bahkan sempat naik tiga kali lipat di Pasar Tongil.

Harga barang bukan pokok seperti teh hitam dan kopi juga meroket. Tiap bungkus teh dibanderol US$70 atau setara Rp1 juta, sementara kopi dihargai US$100 atau Rp sekitar Rp1,4 juta.

Krisis pangan yang melanda Korut diduga terjadi lantaran impor bahan pangan dari China turun hingga 90 persen.

Selain itu, pandemi Covid-19 dan bencana topan juga memicu krisis pangan di Pyongyang.

"Situasi pangan rakyat semakin sulit karena sektor agrikultur gagal memenuhi rencana produksi gandum, dampak kerusakan akibat topan tahun lalu," ujar Kim dalam rapat dengan komite pusat Partai Buruh, seperti dikutip kantor media pemerintah Korut, KCNA pada Juni lalu.

Di bulan yang sama, Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan, tahun ini Korea Utara kekurangan sekitar 860 ribu ton makanan, atau setara lebih dari dua bulan pasokan nasional.

Krisis pangan Korut terjadi sejak kakek Kim Jong-un dapat dibaca di halaman berikutnya >>>

Krisis Pangan dan Wabah Kelaparan Era Kim Il-sung dan Kim Jong-il

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER