WHO: Varian Omicron Berisiko Sangat Tinggi, Bisa Picu Lonjakan Covid

has | CNN Indonesia
Selasa, 30 Nov 2021 07:03 WIB
WHO memperingatkan dunia bahwa virus corona varian Omicron berisiko sangat tinggi dan bisa memicu lonjakan Covid-19 baru. Ilustrasi. (AFP/Fabrice Coffrini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan dunia bahwa virus corona varian Omicron berisiko sangat tinggi dan bisa memicu lonjakan Covid-19 baru.

WHO menyatakan bahwa saat ini memang masih banyak ketidakpastian terkait varian Omicron. Namun, bukti sejauh ini meningkatkan kemungkinan varian itu punya mutasi yang dapat menghindari respons sistem imun dan memperkuat kemampuannya untuk menular.

"Tergantung dari karakteristiknya, kemungkinan bisa ada lonjakan Covid-19 di masa mendatang, yang bisa berdampak parah, tergantung pada sejumlah faktor, termasuk di mana lonjakan terjadi," demikian pernyataan WHO yang dikutip Associated Press, Senin (29/11).


Menutup pernyataan itu, WHO menulis, "Secara umum, risiko global sangat tinggi."

WHO menegaskan bahwa sementara para ilmuwan masih terus mencari bukti untuk memahami Omicron, negara-negara di dunia harus mempercepat vaksinasi.

Hingga saat ini, memang belum ada data ilmiah yang benar-benar menunjukkan seberapa ganas corona varian Omicron ini, termasuk terkait tingkat penularan, juga kemampuannya menyebabkan gejala serius dan menghindari vaksin.

Belum ada pula kasus kematian akibat Covid-19 varian Omicron. Namun, sejumlah kasus menunjukkan corona varian Omicron itu menginfeksi orang yang sudah divaksinasi lengkap.

Sebelumnya, para ilmuwan memang sudah memperingatkan bahwa virus corona akan terus mencari jalan untuk menembus pertahanan vaksin di dunia. Omicron sendiri pertama kali merebak di kawasan Afrika yang tingkat vaksinasinya masih di bawah tujuh persen.

"Kemunculan varian Omicron benar-benar sesuai dengan prediksi para ilmuwan yang memperingatkan peningkatan penularan virus di daerah dengan akses vaksinasi terbatas sehingga evolusinya begitu cepat," ujar Richard Hatchett selaku kepala Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), salah satu kelompok penggagas COVAX.

Di tengah ketidakpastian ini, sejumlah negara langsung menutup pintu bagi pendatang dari kawasan Afrika. Namun, WHO memperingatkan agar negara-negara dunia tak gegabah mengambil keputusan penutupan wilayah.

Direktur WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti, menyatakan bahwa negara-negara dunia seharusnya mengambil keputusan berdasarkan data ilmiah dan regulasi kesehatan internasional.

"Larangan perjalanan kemungkinan hanya berdampak sedikit untuk mengurangi penyebaran Covid-19, tapi menyengsarakan kehidupan," ujar Moeti dalam pernyataan yang dikutip Associated Press, Minggu (28/11).

Lebih jauh, Moeti memuji Afrika Selatan karena mengikuti regulasi kesehatan internasional dengan langsung menginformasikan kepada WHO setelah laboratorium negaranya mengidentifikasi varian Omicron.

[Gambas:Video CNN]

"WHO mendukung negara-negara Afrika yang punya keberanian untuk memberikan informasi kesehatan publik yang menyelamatkan nyawa, membantu melindungi dunia dari penyebaran Covid-19," ucap Moeti.

Moeti melontarkan pernyataan ini tak lama setelah Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa, mengecam larangan perjalanan yang diterapkan sejumlah negara. Menurutnya, keputusan itu "sangat tidak adil."

"Larangan perjalanan ini tak didukung fakta ilmiah, maupun efektif mencegah penyebaran varian ini. Satu-satunya akibat dari larangan ini adalah merusak ekonomi dari negara-negara terkait, mengurangi kemampuan untuk merespons dan pulih dari pandemi," tutur Ramaphosa.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER