China Bakal Kirim 1 Miliar Dosis Vaksin ke Afrika usai Geger Omicron

has | CNN Indonesia
Selasa, 30 Nov 2021 09:37 WIB
China bakal kirim 1 miliar dosis vaksin Covid-19 ke Afrika dalam tiga tahun mendatang. China mengumumkan ini saat Afrika jadi perhatian akibat varian Omicron. Ilustrasi vaksin Covid-19. (AFP/Khaled Desouki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Xi Jinping mengumumkan bahwa China bakal mengirimkan 1 miliar dosis vaksin Covid-19 ke kawasan Afrika dalam tiga tahun mendatang. Xi mengumumkan keputusan ini saat Afrika sedang jadi perhatian akibat kemunculan Covid-19 varian Omicron.

Xi menjabarkan bahwa keseluruhan 1 miliar dosis itu termasuk 600 juta dosis yang murni didonasikan. Sementara itu, 400 juta dosis lainnya akan disalurkan melalui produksi bersama antara perusahaan China dengan negara-negara Afrika.

Dalam pernyataannya di konferensi Kerja Sama China-Afrika itu, Xi juga mengumumkan bahwa Negeri Tirai Bambu bakal membangun 10 proyek kesehatan dan mengirimkan 1.500 ahli kesehatan ke kawasan Afrika.


Selain itu, Xi juga bakal membangun pusat yuan lintas batas China-Afrika demi memberikan institusi finansial ke Afrika dengan kredit hingga US$10 miliar. Namun, ia tak menjelaskan lebih lanjut mengenai pusat yuan ini.

Lebih jauh, China juga bakal menggelontorkan dana perdagangan US$10 miliar untuk mendukung ekspor Afrika, menciptakan zona kerja sama perdagangan dan ekonomi, dan membangun taman industri China-Afrika.

Pengumuman ini datang di tengah banjir kritik atas kesepakatan "infrastruktur-demi-komoditas" yang dianggap sejumlah ahli dapat membuat negara-negara terlilit utang berkepanjangan.

Sementara itu, saat ini Afrika sedang menjadi sorotan karena kemunculan Covid-19 varian Omicron yang disebut-sebut lebih mudah menular.

Tak lama setelah Afrika Selatan mengumumkan temuan varian baru itu, sejumlah negara langsung menutup pintu. Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa, pun mengecam larangan perjalanan yang diterapkan sejumlah negara. Menurutnya, keputusan itu "sangat tidak adil."

"Larangan perjalanan ini tak didukung fakta ilmiah, maupun efektif mencegah penyebaran varian ini. Satu-satunya akibat dari larangan ini adalah merusak ekonomi dari negara-negara terkait, mengurangi kemampuan untuk merespons dan pulih dari pandemi," tutur Ramaphosa.

Setelah itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengkritik negara-negara dunia yang langsung menutup pintunya bagi pendatang dari Afrika karena kemunculan Covid-19 varian Omicron.

Direktur WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti, menyatakan bahwa negara-negara dunia seharusnya mengambil keputusan berdasarkan data ilmiah dan regulasi kesehatan internasional.

"Larangan perjalanan kemungkinan hanya berdampak sedikit untuk mengurangi penyebaran Covid-19, tapi menyengsarakan kehidupan," ujar Moeti dalam pernyataan yang dikutip Associated Press, Minggu (28/11).

[Gambas:Video CNN]

Moeti kemudian berkata, "Jika larangan diterapkan, seharusnya tidak invasif atau mengganggu, dan harus berdasarkan ilmiah, sesuai dengan Regulasi Kesehatan Internasional, yang merupakan bagian dari hukum internasional yang diakui 190 negara."

Lebih jauh, Moeti memuji Afrika Selatan karena mengikuti regulasi kesehatan internasional dengan langsung menginformasikan kepada WHO setelah laboratorium negaranya mengidentifikasi varian Omicron.

"WHO mendukung negara-negara Afrika yang punya keberanian untuk memberikan informasi kesehatan publik yang menyelamatkan nyawa, membantu melindungi dunia dari penyebaran Covid-19," ucap Moeti.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER