Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu lalu, Inggris sempat mengalami krisis suplai bahan bakar minyak (BBM) dan menyebabkan antrean pembeli mengular di berbagai pom bensin.
Salah satu penyebab krisis ini adalah Inggris kekurangan pekerja pengemudi truk berat heavy weight vehicle (HGV). Kekurangan pekerja ini menyebabkan keterlambatan pengiriman pasokan BBM.
Menurut warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Inggris, Oki Earlivan, kebijakan Brexit menjadi salah satu penyebab terjadinya kekurangan pekerja di negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya sopir-sopir ini berasal dari Uni Eropa, terutama dari Eropa Barat. Kemarin itu, dengan Brexit, tentunya mereka harus membayar pajak lebih mahal untuk masuk ke dalam UK. Karena mereka harus mendapatkan visa. Padahal sebelumnya sopir-sopir tersebut tidak perlu memakai visa. Karena sekarang sudah terjadi Brexit, maka dia harus apply under skilled worker visa. Itu yang menyebabkan kendala pada sopir-sopir tersebut," kata Oki ketika diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (30/11).
Oki merupakan salah satu WNI yang ikut merasakan antrean panjang kala menunggu pengisian BBM.
Selain menyinggung masalah sopir, Oki mengatakan Inggris mengalami kekurangan pelayan restoran imbas kebijakan Brexit.
"Kalau untuk kekurangan pegawai restoran, saat ini terjadi di berbagai restoran dan juga bar. Banyak sekali terpampang di depan restoran atau bar, itu dibutuhkan pegawai secepatnya, dibutuhkan full time atau part time. Jadi sampai dengan hari ini mereka masih membutuhkan pegawai-pegawai untuk di bar dan restoran," cerita Oki lagi.
Oki juga menyampaikan kebanyakan pekerja non high skill worker di Inggris diisi oleh pekerja-pekerja dari Eropa.
Tak hanya kekurangan sopir dan pelayan, Inggris juga sempat mengalami kekurangan suplai bahan makanan, salah satunya snack.
"Ada beberapa groceries yang biasanya itu dikirim dari Eropa, dari negara-negara Uni Eropa, seperti dari Polandia, dari Jerman, itu ada beberapa stok yang tidak ada karena adanya Brexit kemarin," tutur Oki.
Cerita WNI lainnya soal krisis rantai suplai di Inggris, baca di halaman berikutnya...
Masalah Rantai Pasokan di Inggris
Warga Inggris sempat panic buying setelah Brexit pada 2020. (AFP/DANIEL LEAL-OLIVAS)
Cerita Oki soal krisis pekerja kasar di Inggris pascaBrexit dibenarkan WNI lain di negara itu, Muhammad Fahmi Ardi.
Fahmi yang berprofesi sebagai konsultan arsitektur lanskap di London mengatakan, kira-kira separuh lebih pekerja kasar di Inggris berasal dari negara-negara Uni Eropa, termasuk dari Eropa Timur.
Ia kemudian menduga ada semacam keengganan bagi sebagian besar warga Inggris untuk bekerja sebagai pekerja kasar seperti sopir truk, petugas kebersihan, pekerja gudang, hingga pelayan restoran. Ketersediaan lowongan ini pun kemudian lambat laun banyak diisi imigran-imigran dari Uni Eropa.
Pasca-Brexit, Inggris mulai merasakan kekurangan para pekerja sektor esensial tersebut, terutama dari negara-negara Eropa.
"Mereka (pekerja Eropa dari luar Inggris) biasanya tak perlu visa kerja untuk bekerja. Sekarang mereka harus ada visa kerja (setelah Brexit)," ujar Fahmi.
"Biayanya tentu tidak murah untuk urus visa kerja. Gaji mereka pun juga tidak mencukupi jika ditambah harus urus visa kerja karena memang mereka pekerja low income," ia menambahkan.
Fahmi menilai kebutuhan dan gaya hidup yang tinggi membuat sebagian warga Inggris pilih-pilih untuk mencari pekerjaan dengan gaji sesuai harapan mereka.
"Jadi sebenarnya inflasi di Inggris pun salah satu faktornya karena persoalan supply chain (rantai suplai). Itu karena pekerjanya banyak yang hengkang dari Inggris."
"Contohnya di sini pernah terjadi kekurangan stok keripik kentang, termasuk suplai BBM (Bahan Bakar Minyak). Penyebabnya karena supply chain yang sempat tersendat," tutur Fahmi.