4 Demo 'Berdarah' di Sejumlah Negara, Myanmar hingga Kazakhstan

CNN Indonesia
Sabtu, 08 Jan 2022 06:43 WIB
Sejumlah negara tengah menghadapi demonstrasi yang berujung rusuh hingga menelan korban jiwa. Sejumlah negara tengah menghadapi demonstrasi yang berujung rusuh hingga menelan korban jiwa. (Foto: AP/Vladimir Tretyakov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kazakshtan tengah berada dalam status darurat nasional setelah protes kenaikan BBM dan gas LPG yang berlangsung sejak awal tahun baru.

Protes yang semula terjadi di beberapa kota besar, terutama Almaty, terus meluas hingga berujung rusuh dan menewaskan hampir 50 orang, termasuk puluhan polisi yang disebut dipenggal.

Tak hanya Kazakhstan, demo berdarah juga pernah terjadi beberapa negara lainnya. Berikut 4 negara tersebut.


1. Myanmar

Myanmar tengah dilanda krisis politik sejak pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi, digulingkan dari bangku pemerintahan oleh junta militer.

Akibat kudeta ini, Myanmar memiliki dua pemerintahan yang saling serang, yakni kubu junta militer dan kubu Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang didukung sipil. 

Junta militer juga harus menghadapi kelompok pemberontakan sipil dan banyak kelompok militan di pedalaman yang telah bersumpah menentang kekuasaan militer.

Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), mencatat lebih dari seribu orang tewas sejak kudeta hingga Agustus 2021.

"Berdasarkan catatan AAPP, 1.001 orang-orang tak bersalah telah dibunuh. Jumlah korban aktualnya mungkin lebih tinggi lagi," ujar Sekretaris AAPP Tate Naing kepada Reuters.

Namun, angka ini bakal semakin bertambah mengingat demo Myanmar masih terus terjadi. Desember lalu, Pasukan Pertahanan Nasional Karenni (KNDF) mengaku mengubur lebih dari 30 jasad yang terbakar akibat korban serangan brutal junta militer.

Sebanyak 35 orang, termasuk empat anak-anak dan dua staf LSM Save The Children, tewas dibakar dalam bentrokan antara kelompok pemberontakan sipil dan junta militer di dekat Desa Mo So saat malam Natal, 24 Desember 2021.

2. Kazakhstan

Kazakhstan tengah dilanda protes massal yang diawali oleh lonjakan harga gas LPG. Akibat protes ini, sebanyak 28 polisi dan 16 demonstran tewas sampai pada Jumat (7/1), dikutip dari Sputnik News.

Mengutip ABC News, di antara 28 polisi yang meninggal ada petugas yang ditemukan dipenggal. Selain itu, lebih dari 3.000 orang telah ditahan akibat kerusuhan ini.

Awalnya, kerusuhan ini terjadi karena kenaikan gas LPG. Sebelum protes, harga LPG di angka 120 tenge atau sekitar Rp3.900 per liter. Pemerintah kemudian menurunkan menjadi 50 tenge atau sekitar Rp1.600.

Namun, kemarahan warga ternyata tak hanya dari kenaikan harga barang. Mereka memprotes pemerintah Kazakhstan yang otoriter dan elite politik korup. Selain itu, warga juga tak puas akan kesenjangan sosial dan ekonomi dan implementasi nyata demokrasi yang tak begitu terlihat.

Demonstran juga menuntut mantan presiden Kazakhstan 1989-2019, Nursultan Nazarbayev, untuk berhenti mengurusi pemerintahan. Nazarbayev kini berperan sebagai sebagai dewan keamanan dan Pemimpin Bangsa; peran konstitusional yang memiliki keistimewaan dalam membuat kebijakan dan kebal hukum.

Dua negara yang juga dirundung demo berdarah dapat dibaca di halaman berikutnya >>>

Sejumlah negara tengah menghadapi demonstrasi yang berujung rusuh hingga menelan korban jiwa.

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER