Alasan Perempuan China Tolak Aturan Xi Jinping Tambah Jumlah Anak
CNN Indonesia
Senin, 10 Jan 2022 14:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Alasan perempuan China ogah punya lebih dari satu anak. (REUTERS/Aly Song)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah perempuan di China tak mau memiliki anak lebih dari satu. Alasannya beragam, mulai dari mahalnya biaya membesarkan anak hingga keputusan untuk melajang. Hal ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah yang menganjurkan setiap pasangan punya tiga anak.
Salah satu pekerja industri di pusat kota Changsha, Li mengaku tak cukup punya biaya untuk membesarkan anak, bahkan untuk satu.
"Saya tak bisa punya akan lagi. Membesarkan satu anak seperti memasukkan uang Anda ke dalam mesin penghancur kertas. Tak mungkin, saya bisa punya yang lain," kata Li kepada Radio Free Asia, pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, salah satu perempuan yang usia pernikahannya baru tiga tahun, Qiu Xiojia, juga mengalami hal serupa.
"Kami sudah membeli rumah sekarang, dan pembayaran hipotek bulanan lebih tinggi dari gaji bulanan saya. Jadi dari mana uang untuk membiayai anak?" kata Qiu.
Qiu kemudian melanjutkan, "Saya bahkan tak mampu membiayai satu anak, apalagi tiga."
Di kota besar lain Chongqing, perempuan milenial bernama Ma Jing dan suaminya tak punya rencana untuk punya anak, sebab masih menggantungkan hidup pada orang tua.
"Saya hidup dari gaji, dan masih sangat bergantung pada orang tua saya. Properti yang saya tinggali milik mereka, saya mengendarai mobil ibu saya, dan saya masih tidak bisa menabung," seloroh Ma Jing.
Salah satu perempuan di Shanghai, Li Dan, menyatakan sanggup membiayai anak, namun dia memilih untuk tak memiliki buah hati.
"Alasan utama bagi saya, seorang perempuan tua usia subur, tidak ada hubungannya dengan uang. Alasan utamanya karena saya perempuan lajang," tutur Li Dan.
Membesarkan anak-anak di Cina butuh banyak biaya. Orang tua harus mati-matian bahkan untuk membiayai pendidikan satu anak. Sekolah-sekolah negeri pun semakin menuntut pembayaran nominal dalam berbagai jenis, serta pembayaran makanan dan kegiatan ekstrakurikuler.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Presiden China, Xi Jinping mengatakan pendidikan dan bimbingan harus diberikan untuk mempromosikan pernikahan dan nilai-nilai keluarga di antara kaum muda usia pernikahan.
Demi terwujudnya program itu, Politbiro menjanjikan insentif pajak dan perumahan bagi pasangan yang ingin memiliki anak.
Dukungan lain yang dijanjikan berupa perbaikan perawatan sebelum dan sesudah natal, layanan pengasuhan anak, dan pengurangan biaya pendidikan untuk keluarga.
Pada awal April 2020 lalu, China telah merilis data statistik penduduk yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan selama satu dekade terakhir sejak 1950. Diketahui jumlah populasi di China hanya 1,41 miliar.
Data itu juga menunjukkan tingkat kesuburan hanya 1,3 anak-anak per wanita pada tahun 2020. Angka itu setara dengan masyarakat yang menua di Italia dan Jepang.
Sebelumnya China menerapkan satu pasang hanya boleh memiliki satu anak, untuk menghentikan ledakan populasi. Namun pada tahun 2016, kebijakan itu dihapus, dan membatasi satu pasang hanya diizinkan memiliki dua anak untuk menambah populasi lantaran mayoritas penduduk di China berusia lanjut.
Namun langkah tersebut dinilai gagal, lantaran tingginya biaya membesarkan anak di kota-kota China. Alasan itu pula yang menyebabkan banyak pasangan di negeri Tirai Bambu memilih lajang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah perempuan di China tak mau memiliki anak lebih dari satu. Alasannya beragam, mulai dari mahalnya biaya membesarkan anak hingga keputusan untuk melajang. Hal ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah yang menganjurkan setiap pasangan punya tiga anak.
Salah satu pekerja industri di pusat kota Changsha, Li mengaku tak cukup punya biaya untuk membesarkan anak, bahkan untuk satu.
"Saya tak bisa punya akan lagi. Membesarkan satu anak seperti memasukkan uang Anda ke dalam mesin penghancur kertas. Tak mungkin, saya bisa punya yang lain," kata Li kepada Radio Free Asia, pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, salah satu perempuan yang usia pernikahannya baru tiga tahun, Qiu Xiojia, juga mengalami hal serupa.
"Kami sudah membeli rumah sekarang, dan pembayaran hipotek bulanan lebih tinggi dari gaji bulanan saya. Jadi dari mana uang untuk membiayai anak?" kata Qiu.
Qiu kemudian melanjutkan, "Saya bahkan tak mampu membiayai satu anak, apalagi tiga."
Di kota besar lain Chongqing, perempuan milenial bernama Ma Jing dan suaminya tak punya rencana untuk punya anak, sebab masih menggantungkan hidup pada orang tua.
"Saya hidup dari gaji, dan masih sangat bergantung pada orang tua saya. Properti yang saya tinggali milik mereka, saya mengendarai mobil ibu saya, dan saya masih tidak bisa menabung," seloroh Ma Jing.
Salah satu perempuan di Shanghai, Li Dan, menyatakan sanggup membiayai anak, namun dia memilih untuk tak memiliki buah hati.
"Alasan utama bagi saya, seorang perempuan tua usia subur, tidak ada hubungannya dengan uang. Alasan utamanya karena saya perempuan lajang," tutur Li Dan.
Membesarkan anak-anak di Cina butuh banyak biaya. Orang tua harus mati-matian bahkan untuk membiayai pendidikan satu anak. Sekolah-sekolah negeri pun semakin menuntut pembayaran nominal dalam berbagai jenis, serta pembayaran makanan dan kegiatan ekstrakurikuler.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Intensif untuk Punya Lebih dari Satu Anak
Xi Jinping melalui politbiro menawarkan insentif bagi perempuan yang ingin punya tiga anak. (AFP/GREG BAKER)
Presiden China, Xi Jinping mengatakan pendidikan dan bimbingan harus diberikan untuk mempromosikan pernikahan dan nilai-nilai keluarga di antara kaum muda usia pernikahan.
Demi terwujudnya program itu, Politbiro menjanjikan insentif pajak dan perumahan bagi pasangan yang ingin memiliki anak.
Dukungan lain yang dijanjikan berupa perbaikan perawatan sebelum dan sesudah natal, layanan pengasuhan anak, dan pengurangan biaya pendidikan untuk keluarga.
Pada awal April 2020 lalu, China telah merilis data statistik penduduk yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan selama satu dekade terakhir sejak 1950. Diketahui jumlah populasi di China hanya 1,41 miliar.
Data itu juga menunjukkan tingkat kesuburan hanya 1,3 anak-anak per wanita pada tahun 2020. Angka itu setara dengan masyarakat yang menua di Italia dan Jepang.
Sebelumnya China menerapkan satu pasang hanya boleh memiliki satu anak, untuk menghentikan ledakan populasi. Namun pada tahun 2016, kebijakan itu dihapus, dan membatasi satu pasang hanya diizinkan memiliki dua anak untuk menambah populasi lantaran mayoritas penduduk di China berusia lanjut.
Namun langkah tersebut dinilai gagal, lantaran tingginya biaya membesarkan anak di kota-kota China. Alasan itu pula yang menyebabkan banyak pasangan di negeri Tirai Bambu memilih lajang.