Video Viral Guru Perempuan Mesir Menari Perut Picu Kegaduhan
CNN Indonesia
Minggu, 16 Jan 2022 06:38 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto ilustrasi. (iStock/Motortion)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah video yang menunjukkan tarian perut seorang guru perempuan di Mesir viral dan menimbulkan kegaduhan di antara warga. Tarian dari ibu tiga anak ini memicu kembali perdebatan soal hak-hak perempuan di negara itu.
Melansir The Straits Times, video pendek Aya Youssef, seorang guru sekolah dasar yang direkam melalui ponsel menunjukkan dirinya yang mengenakan hijab, celana panjang, serta atasan lengan panjang menari bersama rekan-rekannya menikmati pelayaran sungai di tepi sungai Nil.
Video yang tersebar sejak bulan lalu tersebut kemudian memicu sejumlah perdebatan di masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa kritikus menuding wanita 30 tahun tersebut melanggar nilai-nilai konservatif masyarakat. Sementara yang lainnya menunjukkan pembelaan terhadap sang guru.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus terkait perempuan merebak di Mesir. Beberapa kasus di antaranya menjadi sasaran kampanye pencemaran nama baik di media sosial, serta memicu amarah publik yang menuntut para wanita bertanggung jawab atas perbuatannya.
Youssef, dalam wawancaranya dengan saluran TV swasta, mengatakan bahwa dirinya 'senang' dalam perjalanan yang dilakukannya di video. Ia juga mengutarakan bahwa gerakan tubuhnya hanyalah spontanitas.
Sempat Dipecat, Namun Dipulihkan Kembali
Setelah video tarian tersebut menyebar luas di media sosial, beberapa warganet yang tidak senang memberikan komentar pedas terhadap ibu tiga anak itu.
Seorang pengguna Twitter mengatakan tindakan guru itu 'memalukan', sementara yang lain mengatakan dia 'tidak dapat membayangkan bagaimana seorang wanita yang sudah menikah menari dengan cara cabul seperti ini'.
Namun, di antara sekian banyak komentar negatif, terdapat pula beberapa komentar yang memberikan dukungan kepada sang wanita.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Mesir di wilayah Dakahlia merujuk guru tersebut ke komite disiplin, yang berujung pada pemecatan sang wanita dari pekerjaannya. Namun, di tengah protes yang berlangsung, ia dikabarkan kembali dipekerjakan di minggu ini.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Nihad Abu al-Qumsan, kepala Pusat Hak Perempuan Mesir, membela guru tersebut, bahkan hingga menawarinya pekerjaan.
"Kami akan bertanya kepada pengadilan tentang aturan menari yang benar, sehingga semua wanita akan mematuhi aturan yang benar jika mereka menari di pernikahan saudara laki-laki atau anak laki-laki mereka, atau pun di hari ulang tahun," kata al-Qumsan.
Imbas dari viralnya video tersebut, Aya Youssef harus menerima tuntutan cerai dari suaminya. Kabar perceraian ini memantik amarah aktris populer Mesir, Somaya el-Khashab.
"Mengapa para pria tidak rujuk kembali dengan istrinya?" tanya Khashab.
"Ada begitu banyak perempuan yang berdiri di samping laki-lakinya bahkan ketika mereka pergi ke penjara, misalnya, atau tidak meninggalkan suami mereka ketika kondisi mereka memburuk," ucapnya.
Kepada media, Youssef mengaku tidak tahu siapa yang memposting video itu secara online. Ia juga mengatakan akan menindak hukum mereka yang memfitnah dan merusak rumahnya.
Kasus 'mempermalukan' seperti ini bukan lah yang pertama kali terjadi di Mesir.
Sebelumnya, dua pemuda ditangkap minggu ini setelah seorang siswi 17 tahun bunuh diri bulan lalu. Ia dilaporkan menelan racun setelah diduga diperas dengan foto yang diedit secara digital. Peristiwa tersebut terjadi setelah sang siswi menolak tegas berhubungan dengan mereka.
Pada Juli lalu, pengadilan Kairo juga menghukum dua wanita selama enam dan sepuluh tahun penjara karena 'melanggar moral publik' setelah keduanya menerbitkan video Tiktok.
Mesir sejak dulu dianggap sebagai tempat kelahiran tari perut, namun sejumlah penari perut dan penyanyi top banyak yang dikecam karena konten yang dianggap terlalu terbuka.
Para penari lokal Mesir saat ini dikabarkan semakin menyusut, sebagian besar disebabkan karena negara tersebut menjadi lebih konservatif selama setengah abad terakhir.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah video yang menunjukkan tarian perut seorang guru perempuan di Mesir viral dan menimbulkan kegaduhan di antara warga. Tarian dari ibu tiga anak ini memicu kembali perdebatan soal hak-hak perempuan di negara itu.
Melansir The Straits Times, video pendek Aya Youssef, seorang guru sekolah dasar yang direkam melalui ponsel menunjukkan dirinya yang mengenakan hijab, celana panjang, serta atasan lengan panjang menari bersama rekan-rekannya menikmati pelayaran sungai di tepi sungai Nil.
Video yang tersebar sejak bulan lalu tersebut kemudian memicu sejumlah perdebatan di masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa kritikus menuding wanita 30 tahun tersebut melanggar nilai-nilai konservatif masyarakat. Sementara yang lainnya menunjukkan pembelaan terhadap sang guru.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus terkait perempuan merebak di Mesir. Beberapa kasus di antaranya menjadi sasaran kampanye pencemaran nama baik di media sosial, serta memicu amarah publik yang menuntut para wanita bertanggung jawab atas perbuatannya.
Youssef, dalam wawancaranya dengan saluran TV swasta, mengatakan bahwa dirinya 'senang' dalam perjalanan yang dilakukannya di video. Ia juga mengutarakan bahwa gerakan tubuhnya hanyalah spontanitas.
Sempat Dipecat, Namun Dipulihkan Kembali
Setelah video tarian tersebut menyebar luas di media sosial, beberapa warganet yang tidak senang memberikan komentar pedas terhadap ibu tiga anak itu.
Seorang pengguna Twitter mengatakan tindakan guru itu 'memalukan', sementara yang lain mengatakan dia 'tidak dapat membayangkan bagaimana seorang wanita yang sudah menikah menari dengan cara cabul seperti ini'.
Namun, di antara sekian banyak komentar negatif, terdapat pula beberapa komentar yang memberikan dukungan kepada sang wanita.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Mesir di wilayah Dakahlia merujuk guru tersebut ke komite disiplin, yang berujung pada pemecatan sang wanita dari pekerjaannya. Namun, di tengah protes yang berlangsung, ia dikabarkan kembali dipekerjakan di minggu ini.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Pembelaan dari Aktivis Perempuan Mesir
Foto ilustrasi. Tari perut di Mesir. (AFP/PATRICK BAZ)
Nihad Abu al-Qumsan, kepala Pusat Hak Perempuan Mesir, membela guru tersebut, bahkan hingga menawarinya pekerjaan.
"Kami akan bertanya kepada pengadilan tentang aturan menari yang benar, sehingga semua wanita akan mematuhi aturan yang benar jika mereka menari di pernikahan saudara laki-laki atau anak laki-laki mereka, atau pun di hari ulang tahun," kata al-Qumsan.
Imbas dari viralnya video tersebut, Aya Youssef harus menerima tuntutan cerai dari suaminya. Kabar perceraian ini memantik amarah aktris populer Mesir, Somaya el-Khashab.
"Mengapa para pria tidak rujuk kembali dengan istrinya?" tanya Khashab.
"Ada begitu banyak perempuan yang berdiri di samping laki-lakinya bahkan ketika mereka pergi ke penjara, misalnya, atau tidak meninggalkan suami mereka ketika kondisi mereka memburuk," ucapnya.
Kepada media, Youssef mengaku tidak tahu siapa yang memposting video itu secara online. Ia juga mengatakan akan menindak hukum mereka yang memfitnah dan merusak rumahnya.
Kasus 'mempermalukan' seperti ini bukan lah yang pertama kali terjadi di Mesir.
Sebelumnya, dua pemuda ditangkap minggu ini setelah seorang siswi 17 tahun bunuh diri bulan lalu. Ia dilaporkan menelan racun setelah diduga diperas dengan foto yang diedit secara digital. Peristiwa tersebut terjadi setelah sang siswi menolak tegas berhubungan dengan mereka.
Pada Juli lalu, pengadilan Kairo juga menghukum dua wanita selama enam dan sepuluh tahun penjara karena 'melanggar moral publik' setelah keduanya menerbitkan video Tiktok.
Mesir sejak dulu dianggap sebagai tempat kelahiran tari perut, namun sejumlah penari perut dan penyanyi top banyak yang dikecam karena konten yang dianggap terlalu terbuka.
Para penari lokal Mesir saat ini dikabarkan semakin menyusut, sebagian besar disebabkan karena negara tersebut menjadi lebih konservatif selama setengah abad terakhir.