Mengenal 2 Kelompok Muslim Chechen Pro-Ukraina Lawan Rusia
isa | CNN Indonesia
Rabu, 09 Mar 2022 18:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mendiang pemimpin Chechen Dzhokhar Dudayev. (AFP/MICHAEL EVSTAFIEV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kelompok Chechen di bawah pimpinan Ramzan Kadyrov mendukung invasi Rusia. Namun ada juga dua kelompok Chechen yang turut mengangkat senjata melawan pasukan Rusia.
Kedua kelompok itu yakni batalion Dzhokhar Dudayev dan Batalion Sheikh Mansur.
Kedua batalion sukarelawan itu telah berperang melawan kelompok separatis yang didukung Rusia dan pasukan reguler di Donbas sejak 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar pejuang mereka melarikan diri dari Rusia setelah Republik Chechnya di Ichkeria jatuh. Wilayah ini memiliki pemerintah independen yang mengendalikan Chechnya saat perang berkecamuk pada 1994-1996 dan 1999-2009.
Sejak invasi dimulai banyak pesan audio dan video beredar di media sosial yang menunjukkan dukungan terhadap Ukraina. Dukungan itu, salah satunya, muncul dari Komandan Batalyon Dzhokhar Dudayev, Adam Osmayev.
"Saya ingin memberi tahu orang-orang Ukraina bahwa orang-orang Chechen sejati, hari ini, membela Ukraina", kata Osmayev dikutip OC Media pada Selasa (8/3).
Ia kemudia menegaskan, "Kami telah berjuang, dan akan terus berjuang untuk Ukraina sampai akhir."
Menurutnya kemenangan akan bersama mereka dengan kehendak Tuhan. Kemenangan itu akan dirayakan di Moskow, Chechnya, Crimea, Sevastopol.
AKhir Februari lalu, Osmayev juga mengimbau orang Chechen bertempur di Garda Nasional Rusia untuk berbalik haluan membela Ukraina.
"Karena seluruh dunia yang beradab membantu Ukraina. Oleh karena itu, saya juga mendesak mereka berpaling ke sisi Ukraina. Di sini, bahkan di antara staf komando, jenderal, ada orang-orang berkebangsaan Checnya mereka akan menjaga Anda," tegasnya.
Ia tak habis pikir orang-orang Chechen yang beberapa kali menjadi sasaran genosida Rusia malah berada di pihak mereka.
"Ini tak bisa diterima oleh apa pun, agama, atau apa pun," lanjut Osmayev.
Dukungan dari kelompok Chechen untuk Ukraina juga muncul dari Balatlion Sheikh Mansur pada 2 Maret lalu.
"Saya bersumpah kepada Anda atas nama Tuhan bahwa setidaknya 90 persen dari populasi Chechen berakar pada orang-orang Ukraina, yang menjadi sasaran genosida yang sama dengan orang-orang saya," kata salah satu pejuang Sheikh Mansur dalam seruan yang beredar di media sosial.
Sebagaimana yang lain, ia juga mendengar pasukan Chechen mendukung Rusia untuk menyerang Ukraina. Sesuatu yang baginya tak masuk akal.
"Orang-orang apa dalam sejarah umat manusia yang kehilangan hampir setengah dari populasi dalam perjuangan demi kebebasan dan kemerdekaan mereka?" kata dia.
Ia lalu berkata, "Saya akan menjawab pertanyaan ini untuk Anda. (Mereka) adalah orang-orang saya, orang-orang Chechen."
Kelompok Sheikh Mansur pernah berupaya melawan pendudukan Rusia di Checnya pada 1785 lalu. Namun, pada 1859 wilayah ini secara resmi dianeksasi Moskow.
Ukraina masih berada dalam gempuran Rusia usai mereka memutuskan invasi ke negara Eropa Timur itu pada 24 Februari.
Ledakan dan pertempuran pun terus terjadi hingga sekarang. Menurut data sementara pemerintah Ukraina korban tewas imbas invasi mencapai 2.000, sementara menurut PBB tercatat 474 warga sipil tewas.
Belum lama ini, Rusia akan menghentikan serangan alias gencatan senjata di Ukraina. Mereka menawarkan koridor kemanusiaan untuk evakuasi warga sipil dari lima kota.
Lima kota itu di antaranya, Kiev, Chernihiv, sumy, Kharkiv, dan Mariupol.
Sebelumnya, Moskow juga sempat menyepakati gencatan senjata sementara di beberapa kota. Namun, mereka tetap melakukan penembakan saat evakuasi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kelompok Chechen di bawah pimpinan Ramzan Kadyrov mendukung invasi Rusia. Namun ada juga dua kelompok Chechen yang turut mengangkat senjata melawan pasukan Rusia.
Kedua kelompok itu yakni batalion Dzhokhar Dudayev dan Batalion Sheikh Mansur.
Kedua batalion sukarelawan itu telah berperang melawan kelompok separatis yang didukung Rusia dan pasukan reguler di Donbas sejak 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar pejuang mereka melarikan diri dari Rusia setelah Republik Chechnya di Ichkeria jatuh. Wilayah ini memiliki pemerintah independen yang mengendalikan Chechnya saat perang berkecamuk pada 1994-1996 dan 1999-2009.
Sejak invasi dimulai banyak pesan audio dan video beredar di media sosial yang menunjukkan dukungan terhadap Ukraina. Dukungan itu, salah satunya, muncul dari Komandan Batalyon Dzhokhar Dudayev, Adam Osmayev.
"Saya ingin memberi tahu orang-orang Ukraina bahwa orang-orang Chechen sejati, hari ini, membela Ukraina", kata Osmayev dikutip OC Media pada Selasa (8/3).
Ia kemudia menegaskan, "Kami telah berjuang, dan akan terus berjuang untuk Ukraina sampai akhir."
Menurutnya kemenangan akan bersama mereka dengan kehendak Tuhan. Kemenangan itu akan dirayakan di Moskow, Chechnya, Crimea, Sevastopol.
AKhir Februari lalu, Osmayev juga mengimbau orang Chechen bertempur di Garda Nasional Rusia untuk berbalik haluan membela Ukraina.
"Karena seluruh dunia yang beradab membantu Ukraina. Oleh karena itu, saya juga mendesak mereka berpaling ke sisi Ukraina. Di sini, bahkan di antara staf komando, jenderal, ada orang-orang berkebangsaan Checnya mereka akan menjaga Anda," tegasnya.
Ia tak habis pikir orang-orang Chechen yang beberapa kali menjadi sasaran genosida Rusia malah berada di pihak mereka.
"Ini tak bisa diterima oleh apa pun, agama, atau apa pun," lanjut Osmayev.
Kelompok Sheikh Mansur
Para pemuka agama Chechen. (HECTOR MATA / AFP)
Dukungan dari kelompok Chechen untuk Ukraina juga muncul dari Balatlion Sheikh Mansur pada 2 Maret lalu.
"Saya bersumpah kepada Anda atas nama Tuhan bahwa setidaknya 90 persen dari populasi Chechen berakar pada orang-orang Ukraina, yang menjadi sasaran genosida yang sama dengan orang-orang saya," kata salah satu pejuang Sheikh Mansur dalam seruan yang beredar di media sosial.
Sebagaimana yang lain, ia juga mendengar pasukan Chechen mendukung Rusia untuk menyerang Ukraina. Sesuatu yang baginya tak masuk akal.
"Orang-orang apa dalam sejarah umat manusia yang kehilangan hampir setengah dari populasi dalam perjuangan demi kebebasan dan kemerdekaan mereka?" kata dia.
Ia lalu berkata, "Saya akan menjawab pertanyaan ini untuk Anda. (Mereka) adalah orang-orang saya, orang-orang Chechen."
Kelompok Sheikh Mansur pernah berupaya melawan pendudukan Rusia di Checnya pada 1785 lalu. Namun, pada 1859 wilayah ini secara resmi dianeksasi Moskow.
Ukraina masih berada dalam gempuran Rusia usai mereka memutuskan invasi ke negara Eropa Timur itu pada 24 Februari.
Ledakan dan pertempuran pun terus terjadi hingga sekarang. Menurut data sementara pemerintah Ukraina korban tewas imbas invasi mencapai 2.000, sementara menurut PBB tercatat 474 warga sipil tewas.
Belum lama ini, Rusia akan menghentikan serangan alias gencatan senjata di Ukraina. Mereka menawarkan koridor kemanusiaan untuk evakuasi warga sipil dari lima kota.
Lima kota itu di antaranya, Kiev, Chernihiv, sumy, Kharkiv, dan Mariupol.
Sebelumnya, Moskow juga sempat menyepakati gencatan senjata sementara di beberapa kota. Namun, mereka tetap melakukan penembakan saat evakuasi.