Kronologi Donetsk-Luhansk di Pusaran Perang Rusia vs Ukraina
CNN Indonesia
Rabu, 09 Mar 2022 19:22 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tank-tank Rusia di wilayah Donetsk. (REUTERS/ALEXANDER ERMOCHENKO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dua kota di ujung timur Ukraina, Donetsk dan Luhansk menjadi perhatian dunia ketika menyatakan kemerdekaanya pada 2014 lalu. Dua wilayah itu ingin menjadi negara republik independen.
Ibukota Ukraina, Kyiv pun menegang. Terlebih lagi ketika Presiden Rusia Vladimir Putin terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Donetsk-Luhansk.
Putin juga mengirim pasukan untuk membantu kelompok separatis di dua wilayah itu untuk menghadapi militer pemerintah. Sebagian warga Donetsk dan Luhansk mendeklarasikan Negara Republik Donetsk dan Luhansk melalui sebuah referendum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ditarik ke belakang, bibit separatisme Donetsk dan Luhansk sedianya sudah ada ketika Uni Soviet runtuh pada 1991 lalu. Perbedaan pandangan politik membuat warga Donetsk dan Luhansk kerap memilih calon presiden yang berbeda dibandingkan daerah lain di Ukraina.
Patung pendiri Uni Soviet Vladimir Lenin setinggi 13,5 meter yang masih berdiri di Lenin Square, pusat kota Donetsk, sekaligus menjadi indikasi bahwa ada kedekatan personal warga setempat dengan Rusia.
Hingga pada 2010, seorang politikus pro-Rusia sekaligus mantan gubernur wilayah Donetsk, Viktor Yanukovych, terpilih menjadi presiden. Namun bukan persatuan, melainkan perseturuan yang muncul ke permukaan.
Rentetan unjuk rasa besar-besaran di Kyiv terjadi pada musim dingin 2013-2014. Tuntutan utama para pendemo adalah Yanukovych lengser dari jabatan karena menolak relasi Ukraina dengan Uni Eropa.
Sebanyak 130 orang tewas selama unjuk rasa. Yanukovych yang tertekan memilih hengkang ke Rusia. Di saat yang berdekatan, Parlemen Ukraina sepakat melengserkan Yanukovych.
Kekosongan jabatan di pemerintahan Ukraina dimanffatkan oleh Putin untuk merebut Krimea, sebuah semenanjung di bagian selatan Ukraina yang menjadi salah satu lokasi strategis pelabuhan.
Sementara, warga Donetsk dan Luhansk mengadakan referendum pemisahan diri pada 11 Mei 2014. Hasilnya, mayoritas warga dua wilayah tersebut ingin berpisah dari Ukraina.
Namun, PBB tidak mengakui referendum itu sebagai bagian dari demokrasi. Alhasil, warga yang sudah menyatakan diri pisah dari Ukraina meresmikan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR).
Awal mula Ukraina dekati NATO, baca di halaman berikutnya...
Pada 2015, Petro Poroshenko sebagai presiden Ukraina yang baru menghasilkan perjanjian damai Minsk dengan Rusia untuk mengakhiri kekerasan. Namun di saat yang sama, Proshenko juga memulai pendekatan dengan Uni Eropa dan NATO.
Hal itulah yang membuat Putin meradang. Mantan agen intelijen KGB itu berpendapat bahwa kedekatan Ukraina dengan Uni Eropa dan NATO berpotensi ancaman bagi Rusia. Sebab, ada kemungkinan pangkalan militer NATO dibangun di dekat perbatasan Rusia-Ukraina.
Desas-desus invasi Rusia pun semakin bergelora pada November 2021 ketika Ukraina dipimpin oleh Volodymyr Zelensky yang meneruskan lobi-lobi dengan Uni Eropa.
Citra satelit menunjukkan konsentrasi pasukan militer Rusia berada di dekat perbatasan Ukraina. Jumlahnya diperkirakan mencapai 100.000 tentara lengkap dengan alutsista mereka.
Latihan militer skala besar juga dilakukan Rusia pada Januari 2022. Putin menepis anggapan bakal melakukan invasi. Di sisi lain, ia meminta NATO menyetop aktivitas di Eropa Timur sekaligus meminta agar negara-negara pecahan Uni Soviet tidak diterima sebagai anggota.
Dalam sebuah essay panjang yang ditulis Putin pada Juli 2021 lalu, seperti dikutip CNN International, Putin menyebut Rusia dan Ukraina adalah 'satu bangsa' sekaligus menuding Barat telah mengacak-acak identitas Ukraina.
Putin akhirnya memutuskan invasi Rusia bergulir pada 24 Februari lalu. Ia berdalih hal tersebut dilakukan untuk melindungi warga wilayah Donbas yang meliputi Donetsk dan Luhansk dari kungkungan pemerintah Ukraina.
Di pekan kedua invasi Rusia ke Ukraina, wilayah Donetsk dan Luhansk masih menjadi zona panas pertempuran. Bahkan, wilayah perang pun meluas hingga ke Chernobyl dan sempat menyentuh Kyiv.
Jakarta, CNN Indonesia --
Dua kota di ujung timur Ukraina, Donetsk dan Luhansk menjadi perhatian dunia ketika menyatakan kemerdekaanya pada 2014 lalu. Dua wilayah itu ingin menjadi negara republik independen.
Ibukota Ukraina, Kyiv pun menegang. Terlebih lagi ketika Presiden Rusia Vladimir Putin terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Donetsk-Luhansk.
Putin juga mengirim pasukan untuk membantu kelompok separatis di dua wilayah itu untuk menghadapi militer pemerintah. Sebagian warga Donetsk dan Luhansk mendeklarasikan Negara Republik Donetsk dan Luhansk melalui sebuah referendum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ditarik ke belakang, bibit separatisme Donetsk dan Luhansk sedianya sudah ada ketika Uni Soviet runtuh pada 1991 lalu. Perbedaan pandangan politik membuat warga Donetsk dan Luhansk kerap memilih calon presiden yang berbeda dibandingkan daerah lain di Ukraina.
Patung pendiri Uni Soviet Vladimir Lenin setinggi 13,5 meter yang masih berdiri di Lenin Square, pusat kota Donetsk, sekaligus menjadi indikasi bahwa ada kedekatan personal warga setempat dengan Rusia.
Hingga pada 2010, seorang politikus pro-Rusia sekaligus mantan gubernur wilayah Donetsk, Viktor Yanukovych, terpilih menjadi presiden. Namun bukan persatuan, melainkan perseturuan yang muncul ke permukaan.
Rentetan unjuk rasa besar-besaran di Kyiv terjadi pada musim dingin 2013-2014. Tuntutan utama para pendemo adalah Yanukovych lengser dari jabatan karena menolak relasi Ukraina dengan Uni Eropa.
Sebanyak 130 orang tewas selama unjuk rasa. Yanukovych yang tertekan memilih hengkang ke Rusia. Di saat yang berdekatan, Parlemen Ukraina sepakat melengserkan Yanukovych.
Kekosongan jabatan di pemerintahan Ukraina dimanffatkan oleh Putin untuk merebut Krimea, sebuah semenanjung di bagian selatan Ukraina yang menjadi salah satu lokasi strategis pelabuhan.
Sementara, warga Donetsk dan Luhansk mengadakan referendum pemisahan diri pada 11 Mei 2014. Hasilnya, mayoritas warga dua wilayah tersebut ingin berpisah dari Ukraina.
Namun, PBB tidak mengakui referendum itu sebagai bagian dari demokrasi. Alhasil, warga yang sudah menyatakan diri pisah dari Ukraina meresmikan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR).
Awal mula Ukraina dekati NATO, baca di halaman berikutnya...
Awal Ukraina Dekati NATO
Milisi Ukraina pro-Rusia duduki wilayah Luhansk. (LREUTERS/ALEXANDER ERMOCHENKO)
Pada 2015, Petro Poroshenko sebagai presiden Ukraina yang baru menghasilkan perjanjian damai Minsk dengan Rusia untuk mengakhiri kekerasan. Namun di saat yang sama, Proshenko juga memulai pendekatan dengan Uni Eropa dan NATO.
Hal itulah yang membuat Putin meradang. Mantan agen intelijen KGB itu berpendapat bahwa kedekatan Ukraina dengan Uni Eropa dan NATO berpotensi ancaman bagi Rusia. Sebab, ada kemungkinan pangkalan militer NATO dibangun di dekat perbatasan Rusia-Ukraina.
Desas-desus invasi Rusia pun semakin bergelora pada November 2021 ketika Ukraina dipimpin oleh Volodymyr Zelensky yang meneruskan lobi-lobi dengan Uni Eropa.
Citra satelit menunjukkan konsentrasi pasukan militer Rusia berada di dekat perbatasan Ukraina. Jumlahnya diperkirakan mencapai 100.000 tentara lengkap dengan alutsista mereka.
Latihan militer skala besar juga dilakukan Rusia pada Januari 2022. Putin menepis anggapan bakal melakukan invasi. Di sisi lain, ia meminta NATO menyetop aktivitas di Eropa Timur sekaligus meminta agar negara-negara pecahan Uni Soviet tidak diterima sebagai anggota.
Dalam sebuah essay panjang yang ditulis Putin pada Juli 2021 lalu, seperti dikutip CNN International, Putin menyebut Rusia dan Ukraina adalah 'satu bangsa' sekaligus menuding Barat telah mengacak-acak identitas Ukraina.
Putin akhirnya memutuskan invasi Rusia bergulir pada 24 Februari lalu. Ia berdalih hal tersebut dilakukan untuk melindungi warga wilayah Donbas yang meliputi Donetsk dan Luhansk dari kungkungan pemerintah Ukraina.
Di pekan kedua invasi Rusia ke Ukraina, wilayah Donetsk dan Luhansk masih menjadi zona panas pertempuran. Bahkan, wilayah perang pun meluas hingga ke Chernobyl dan sempat menyentuh Kyiv.