ANALISIS

Mengungkap Alasan Rusia Belum Kuasai Ukraina Jelang 1 Bulan Invasi

CNN Indonesia
Selasa, 22 Mar 2022 13:03 WIB
Mengungkap Alasan Rusia Belum Kuasai Ukraina Jelang 1 Bulan Invasi
Konvoi militer Rusia. (Foto: RU-RTR Russian Television via AP)

Koordinasi Buruk

Pasukan Rusia juga dinilai punya masalah komunikasi yang kentara. Hal itu terlihat saat tentara Rusia diketahui menggunakan telepon seluler komersil serta saluran telepon tak aman lainnya untuk saling berkoordinasi di medan perang.

Tindakan semacam itu membuat komunikasi pasukan Rusia dinilai lebih mudah dicegat. Kondisi ini dianggap menguntungkan Ukraina, karena bisa membantu mengembangkan strategi dan menyerang balik.

Semua indikasi dari sumber-sumber ini mengarah pada apa yang dikatakan para pengamat perang sebagai operasi militer yang putus asa dan kacau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal salah satu prinsip perang adalah kesatuan komando, demikian menurut pengamat militer sekaligus mantan Komandan Angkatan Darat AS di Eropa, Letnan Jenderal Mark Hertling.

"Artinya, seseorang harus bertanggung jawab secara keseluruhan untuk mengatur serangan, logistik, pasukan cadangan dan ukuran keberhasilan dan kegagalan dari berbagai unit operasi dan menyesuaikan tindakan berdasarkan hal itu," kata Hertling kepada CNN, Senin (21/3).

Menurut Hetling, meskipun Rusia menunjuk seorang komandan lapangan dan AS gagal mengidentifikasi, ia terbukti tidak kompeten mengatur operasi tempur Negeri Beruang Merah.

Selama invasi berlangsung, pasukan Rusia juga dilaporkan banyak yang gugur. Tabloid pro-Rusia di Ukraina melaporkan hampir 10 ribu pasukan Negeri Beruang Merah gugur selama 26 hari invasi berlangsung. 

Ukraina juga mengklaim telah membunuh setidaknya lima jenderal dan perwira tinggi Rusia sejauh ini. Jika terkonfirmasi ini menjadi kerugian yang sangat besar bagi Rusia.

Sebab, dalam peperangan, peristiwa jenderal terbunuh dinilai jarang terjadi. Hal ini pun semakin memperbesar pertanyaan terkait koordinasi pasukan Rusia di Ukraina.

"Intinya komando dan kendali mereka (Rusia_ telah hancur," kata Pensiunan Jenderal Angkatan Darat AS, David Petraus, Minggu (20/3).

Sementara itu, pensiunan Letnan Jenderal Ben Hodges mengatakan Rusia mengambil risiko besar jika berkeras memperluas invasi dalam kondisi pasukannya seperti itu.

Mengatur operasi di wilayah yang luas, lanjutnya, membutuhkan komunikasi yang luas dan sumber daya komando, serta kontrol intelijen.

"(Itu) tidak dimiliki Rusia. Saya tak melihat apapun yang dilakukan Angkatan Laut berkoordinasi dengan Angkatan Udara atau Angkatan Darat," ujar Hodges.

Sumber AS yang lain juga mengatakan hal serupa. Dalam pandangan dia, Rusia mengalami kesulitan yang luar biasa terkait kontrol selama operasi di seluruh unit.

"Beberapa di antaranya mungkin karena tindakan Ukraina sendiri," lanjut dia. Pasukan Kyiv memang berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kota-kota di negaranya dan menghalau pasukan Moskow.

Di lapangan, pasukan Rusia kerap putus komunikasi dengan komandan senior mereka.

"Orang-orang di lapangan keluar dan mereka punya tujuan, tapi tak punya cara merespons pesan di radio (jika terjadi kesalahan)," kata sumber yang lain.

Beberapa tentara Rusia meninggalkan kendaraan lapis baja di lapangan dan pergi begitu saja.

Sejak Rusia mulai menginvasi pada 24 Februari lalu, mereka membombardir kota di Ukraina dengan rudal dan artileri. Pasukan Moskow menghancurkan rumah sakit bersalin, stasiun, sekolah dan area sipil lain.

Namun, invasi darat terhenti di tengah perlawanan sengit dari Ukraina.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>



[Gambas:Video CNN]
Jakarta, CNN Indonesia --

Peperangan antara Rusia vs Ukraina belum menandakan tanda-tanda akan mereda menyusul invasi Moskow yang berlangsung hampir satu bulan.

Hingga kini, pasukan Rusia masih terus menggempur sejumlah kota strategis Ukraina terlepas dari sederet upaya dialog antara kedua negara demi mengakhiri perang.

Walau masih membombardir kota-kota di Ukraina, pasukan Rusia belum juga berhasil menduduki wilayah baru setelah Kota Kherson di pekan ketiga invasi berlangsung. Konvoi militer Rusia menuju Ibu Kota Kyiv juga dikabarkan mandek hingga dibubarkan sebagian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampai saat ini, banyak pihak akhirnya dibuat penasaran soal siapa yang memegang komando tertinggi pasukan Rusia di Ukraina.

Menurut sejumlah sumber, Amerika Serikat sendiri hingga kini tidak dapat memastikan apakah Rusia telah menunjuk seorang komandan militer yang bertanggung jawab untuk memimpin "operasi militer" di Ukraina.

Sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan AS bahkan meyakini Rusia bahkan tak menunjuk komandan tertinggi di lapangan sehingga membuat agresi militernya terhadap Ukraina kacau dan tanpa tujuan yang jelas.

Operasi Militer Kacau

Sejauh ini, banyak pengamat militer menganggap operasi militer Rusia di Ukraina kacau dan tidak terkoordinasi dengan baik.

Tanpa komandan tingkat atas di lapangan, kata sejumlah pejabat AS, unit-unit militer Rusia di Ukraina hanya bersaing memperebutkan sumber daya tanpa tujuan jelas. Para pasukan Rusia juga disebut bertempur tanpa ada koordinasi yang jelas antar masing-masing divisi dan unitnya.

Beragam unit militer yang berpartisipasi dalam serangan Rusia ke Ukraina gagal terhubung satu sama lain. Menurut sejumlah sumber, para unit militer Rusia di Ukraina tampaknya bertindak secara independen tanpa skenario operasional.

Sebab, pasukan Rusia belum juga menduduki kota-kota besar, terutama Ibu Kota Kyiv, meski telah 26 hari menggempur Ukraina. Sejumlah konvoi militer Rusia di Ukraina bahkan disebut mandek dan kehabisan logistik hingga menghambat pergerakan.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>

Koordinasi Buruk

Konvoi militer Rusia. (Foto: RU-RTR Russian Television via AP)

Koordinasi Buruk

Pasukan Rusia juga dinilai punya masalah komunikasi yang kentara. Hal itu terlihat saat tentara Rusia diketahui menggunakan telepon seluler komersil serta saluran telepon tak aman lainnya untuk saling berkoordinasi di medan perang.

Tindakan semacam itu membuat komunikasi pasukan Rusia dinilai lebih mudah dicegat. Kondisi ini dianggap menguntungkan Ukraina, karena bisa membantu mengembangkan strategi dan menyerang balik.

Semua indikasi dari sumber-sumber ini mengarah pada apa yang dikatakan para pengamat perang sebagai operasi militer yang putus asa dan kacau.

Padahal salah satu prinsip perang adalah kesatuan komando, demikian menurut pengamat militer sekaligus mantan Komandan Angkatan Darat AS di Eropa, Letnan Jenderal Mark Hertling.

"Artinya, seseorang harus bertanggung jawab secara keseluruhan untuk mengatur serangan, logistik, pasukan cadangan dan ukuran keberhasilan dan kegagalan dari berbagai unit operasi dan menyesuaikan tindakan berdasarkan hal itu," kata Hertling kepada CNN, Senin (21/3).

Menurut Hetling, meskipun Rusia menunjuk seorang komandan lapangan dan AS gagal mengidentifikasi, ia terbukti tidak kompeten mengatur operasi tempur Negeri Beruang Merah.

Selama invasi berlangsung, pasukan Rusia juga dilaporkan banyak yang gugur. Tabloid pro-Rusia di Ukraina melaporkan hampir 10 ribu pasukan Negeri Beruang Merah gugur selama 26 hari invasi berlangsung. 

Ukraina juga mengklaim telah membunuh setidaknya lima jenderal dan perwira tinggi Rusia sejauh ini. Jika terkonfirmasi ini menjadi kerugian yang sangat besar bagi Rusia.

Sebab, dalam peperangan, peristiwa jenderal terbunuh dinilai jarang terjadi. Hal ini pun semakin memperbesar pertanyaan terkait koordinasi pasukan Rusia di Ukraina.

"Intinya komando dan kendali mereka (Rusia_ telah hancur," kata Pensiunan Jenderal Angkatan Darat AS, David Petraus, Minggu (20/3).

Sementara itu, pensiunan Letnan Jenderal Ben Hodges mengatakan Rusia mengambil risiko besar jika berkeras memperluas invasi dalam kondisi pasukannya seperti itu.

Mengatur operasi di wilayah yang luas, lanjutnya, membutuhkan komunikasi yang luas dan sumber daya komando, serta kontrol intelijen.

"(Itu) tidak dimiliki Rusia. Saya tak melihat apapun yang dilakukan Angkatan Laut berkoordinasi dengan Angkatan Udara atau Angkatan Darat," ujar Hodges.

Sumber AS yang lain juga mengatakan hal serupa. Dalam pandangan dia, Rusia mengalami kesulitan yang luar biasa terkait kontrol selama operasi di seluruh unit.

"Beberapa di antaranya mungkin karena tindakan Ukraina sendiri," lanjut dia. Pasukan Kyiv memang berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kota-kota di negaranya dan menghalau pasukan Moskow.

Di lapangan, pasukan Rusia kerap putus komunikasi dengan komandan senior mereka.

"Orang-orang di lapangan keluar dan mereka punya tujuan, tapi tak punya cara merespons pesan di radio (jika terjadi kesalahan)," kata sumber yang lain.

Beberapa tentara Rusia meninggalkan kendaraan lapis baja di lapangan dan pergi begitu saja.

Sejak Rusia mulai menginvasi pada 24 Februari lalu, mereka membombardir kota di Ukraina dengan rudal dan artileri. Pasukan Moskow menghancurkan rumah sakit bersalin, stasiun, sekolah dan area sipil lain.

Namun, invasi darat terhenti di tengah perlawanan sengit dari Ukraina.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>

Minim Latihan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3