Kondisi Miris Pemakaman di Hong Kong karena 'Ledakan' Covid
CNN Indonesia
Rabu, 06 Apr 2022 14:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Peti mati ramah lingkungan di Hong Kong. (AP/Kin Cheung)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jasa pemakaman di Hong Kong kewalahan menghadapi kenaikan permintaan pemakaman di tengah lonjakan kasus Covid-19. Dalam tiga hari terakhir, kota ini mencatat lebih dari 50 kematian akibat virus corona per hari.
"Saya tidak pernah melihat sangat banyak jasad ditumpuk bersamaan," kata Direktur Pemakaman, Lok Chung, dikutip dari Reuters.
Masalah lain yang didapatkan adalah kekurangan kertas tradisional Tiongkok untuk pemakaman. Dalam adat Tiongkok, kertas tersebut digunakan untuk membuat replika rumah hingga mobil untuk dibakar sebagai persembahan orang meninggal.
Kekurangan ini terjadi karena masalah transportasi dari Kota Shenzen, yang menyuplai banyak barang. Namun, kota itu kini mengalami lonjakan kasus Covid-19, membuat pengiriman barang dari sana terhambat.
Hong Kong juga menghadapi peningkatan permintaan peti mati. Pada 14 hingga 26 Maret, Hong Kong menerima lebih dari 3.570 peti mati.
Pejabat kebersihan Hong Kong, Irene Young, mengatakan bahwa China memberikan 95 persen dari 250 peti mati yang dibutuhkan kota itu per hari. Namun, pembatasan Covid-19 yang terjadi menghambat pasokan peti tersebut.
Ini menjadi salah satu penyebab Hong Kong kekurangan peti mati tradisional yang dibuat dari kayu.
Dalam mengatasi masalah itu, organisasi non-pemerintah, Forget Thee Not, bekerja sama dengan pembuat peti mati ramah lingkungan, LifeArt Asia, memberikan 300 peti mati dan 1.000 kotak pengawet jasad ke enam rumah sakit pemerintah Hong Kong.
Antrean jenazah untuk dikremasi di tengah lonjakan Covid-19 di Hong Kong, baca di halaman selanjutnya...
Tak hanya berkutat masalah peti mati, tingkat kremasi di Hong Kong juga meningkat.
Young mengatakan, kementeriannya mengkremasi hampir 300 orang per hari. Angka ini meningkat dua kali lipat daripada biasanya.
Kondisi tersebut membuat enam krematorium di Hong Kong bekerja nyaris 24 jam.
Selain itu, kapasitas pemakaman publik di Hong Kong turut ditingkatkan. Sebelumnya, rumah makam hanya bisa menampung 1.350 jenazah. Kini, mereka bisa menampung hingga 4.600 jenazah.
Selain berhadapan dengan kekurangan ruangan dan barang, pihak pemakaman juga berkutat dengan kekurangan staf.
Hades Chan, salah satu direktur pemakaman, menilai tantangan lain muncul kala staf pemakaman terinfeksi Covid-19.
"Hampir seperempat orang tidak bisa bekerja. Sehingga beberapa rumah makam harus mengumpulkan staf mereka agar bisa berjalan," katanya.
Hong Kong sendiri berhadapan dengan ribuan kasus Covid-19. Angka ini melonjak, mengingat kasus harian Covid-19 di China tak pernah menyentuh angka seribu pada Januari dan Februari lalu.
China juga terus menerapkan strategi nol-Covid mereka, pun memberlakukan penguncian (lockdown) demi menekan penyebaran virus corona.
Namun, Hong Kong masih mengalami ribuan kasus Covid-19 beberapa hari terakhir.
Pada Minggu (3/4), Hong Kong mencatat 3.709 kasus baru Covid-19 dengan 111 kematian.
Pada Senin (4/4), Hong Kong melaporkan penambahan kasus Covid sebanyak 3.138 dengan 90 kematian.
Lalu, Hong Kong mencatat kenaikan kasus Covid sebanyak 3.254, Selasa (5/4). Kematian akibat Covid di hari itu juga bertambah hingga 87 kasus.
Jakarta, CNN Indonesia --
Jasa pemakaman di Hong Kong kewalahan menghadapi kenaikan permintaan pemakaman di tengah lonjakan kasus Covid-19. Dalam tiga hari terakhir, kota ini mencatat lebih dari 50 kematian akibat virus corona per hari.
"Saya tidak pernah melihat sangat banyak jasad ditumpuk bersamaan," kata Direktur Pemakaman, Lok Chung, dikutip dari Reuters.
Masalah lain yang didapatkan adalah kekurangan kertas tradisional Tiongkok untuk pemakaman. Dalam adat Tiongkok, kertas tersebut digunakan untuk membuat replika rumah hingga mobil untuk dibakar sebagai persembahan orang meninggal.
Kekurangan ini terjadi karena masalah transportasi dari Kota Shenzen, yang menyuplai banyak barang. Namun, kota itu kini mengalami lonjakan kasus Covid-19, membuat pengiriman barang dari sana terhambat.
Hong Kong juga menghadapi peningkatan permintaan peti mati. Pada 14 hingga 26 Maret, Hong Kong menerima lebih dari 3.570 peti mati.
Pejabat kebersihan Hong Kong, Irene Young, mengatakan bahwa China memberikan 95 persen dari 250 peti mati yang dibutuhkan kota itu per hari. Namun, pembatasan Covid-19 yang terjadi menghambat pasokan peti tersebut.
Ini menjadi salah satu penyebab Hong Kong kekurangan peti mati tradisional yang dibuat dari kayu.
Dalam mengatasi masalah itu, organisasi non-pemerintah, Forget Thee Not, bekerja sama dengan pembuat peti mati ramah lingkungan, LifeArt Asia, memberikan 300 peti mati dan 1.000 kotak pengawet jasad ke enam rumah sakit pemerintah Hong Kong.
Antrean jenazah untuk dikremasi di tengah lonjakan Covid-19 di Hong Kong, baca di halaman selanjutnya...
Peti mati ramah lingkungan di Hong Kong. (AP/Kin Cheung)
Tak hanya berkutat masalah peti mati, tingkat kremasi di Hong Kong juga meningkat.
Young mengatakan, kementeriannya mengkremasi hampir 300 orang per hari. Angka ini meningkat dua kali lipat daripada biasanya.
Kondisi tersebut membuat enam krematorium di Hong Kong bekerja nyaris 24 jam.
Selain itu, kapasitas pemakaman publik di Hong Kong turut ditingkatkan. Sebelumnya, rumah makam hanya bisa menampung 1.350 jenazah. Kini, mereka bisa menampung hingga 4.600 jenazah.
Selain berhadapan dengan kekurangan ruangan dan barang, pihak pemakaman juga berkutat dengan kekurangan staf.
Hades Chan, salah satu direktur pemakaman, menilai tantangan lain muncul kala staf pemakaman terinfeksi Covid-19.
"Hampir seperempat orang tidak bisa bekerja. Sehingga beberapa rumah makam harus mengumpulkan staf mereka agar bisa berjalan," katanya.
Hong Kong sendiri berhadapan dengan ribuan kasus Covid-19. Angka ini melonjak, mengingat kasus harian Covid-19 di China tak pernah menyentuh angka seribu pada Januari dan Februari lalu.