Kadyrov sendiri merupakan salah satu loyalis Putin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Kota Bucha merupakan tempat dari 'horor' pendudukan Rusia di Ukraina. Setelah pasukan Moskow mundur dari kota itu, pihak Ukraina harus berhadapan dengan puluhan mayat tergeletak di jalan.
Sebagaimana diberitakan Reuters, satu mayat ditemukan dalam kondisi kaki terikat dan memiliki lubang besar di dahi.
Beberapa meter di dekatnya, ada mayat lain tergeletak di semak-semak.
"Jangan sentuh badannya. Mungkin saja dipasangi ranjau," kata salah satu polisi yang tak mau disebutkan namanya.
Polisi itu menyampaikan, beberapa warga mengubur lima mayat lain di gundukan tanah tanpa tanda yang dilalui Reuters.
Sejak berada di Bucha pada Minggu (3/4), Reuters melaporkan sedikitnya lima mayat yang memiliki luka tembak di kepala.
Kota Bucha dikuasai pasukan Rusia lebih dari satu bulan. Setelah penarikan tentara Moskow, pihak berwenang menemukan lebih dari 300 orang terbunuh di daerah itu.
Kengerian di Bucha membuat pemerintah Ukraina menuding Rusia melakukan genosida dan kejahatan perang.
Kremlin membantah tuduhan itu dan menilainya sebagai bagian dari propaganda.
Meski demikian, Majelis Umum PBB menangguhkan keanggotaan Rusia dalam Dewan Keamanan PBB, Kamis (7/4).
Seorang saksi mata mengatakan, pasukan Chechen diduga terlibat dalam pembantaian dan eksekusi ratusan warga di Bucha, Ukraina.
Salah satu saksi mata warga di Bucha, Eduard Karpenko, mengatakan satu tetangganya digiring oleh seorang tentara yang diduga berasal dari Chechnya. Informasi ini ia dapatkan dari dua tentara pengawas Rusia, dikutip dari Reuters.
Tetangga Karpenko, diketahui bernama Oleksandr Yeremich, merupakan anggota dari Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina. Karpenko juga menunjukkan salinan paspor pria itu kepada Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Reuters belum bisa memverifikasi secara independen beberapa detail lain.
Tentara yang diduga dari Chechen ini kemudian menggiring Yeremich ke tempat tak terlihat, ke ujung pagar kayu. Setelahnya, Karpenko mendengar empat suara tembakan.
"Mereka membawanya ke ujung pagar dan menembaknya dengan tembakan terakhir di kepala," ujar Karpenko.
Kesaksian ini juga dibenarkan oleh dua pria yang berada dekat Karpenko. Mereka menolak memberikan identitasnya mengonfirmasi Yeremich digiring oleh tentara kubu Rusia dan setelahnya mendengar suara tembakan.
Karpenko bercerita, ia dan dua pria lain harus menunggu sampai malam agar bisa mengambil mayat Yeremich, sesuai perintah tentara Rusia.
"Kami menutupnya dengan beberapa selimut dan menariknya ke kuburan. Sangat banyak darah," katanya.
Ia juga menyampaikan, Yeremich dikubur di halaman dekat lokasi kejadian. Kuburannya ditandai dengan tongkat kayu panjang dan bingkai besi berbentuk seperti peti mati.
Karpenko dan dua pria tersebut menggantungkan topi bisbol untuk menandai lokasi penembakan Yeremich.
Dugaan keterlibatan pasukan Chechen dalam kebrutalan di Bucha, baca di halaman selanjutnya...
Kadyrov sendiri merupakan salah satu loyalis Putin.
Sementara itu, Kota Bucha merupakan tempat dari 'horor' pendudukan Rusia di Ukraina. Setelah pasukan Moskow mundur dari kota itu, pihak Ukraina harus berhadapan dengan puluhan mayat tergeletak di jalan.
Sebagaimana diberitakan Reuters, satu mayat ditemukan dalam kondisi kaki terikat dan memiliki lubang besar di dahi.
Beberapa meter di dekatnya, ada mayat lain tergeletak di semak-semak.
"Jangan sentuh badannya. Mungkin saja dipasangi ranjau," kata salah satu polisi yang tak mau disebutkan namanya.
Polisi itu menyampaikan, beberapa warga mengubur lima mayat lain di gundukan tanah tanpa tanda yang dilalui Reuters.
Sejak berada di Bucha pada Minggu (3/4), Reuters melaporkan sedikitnya lima mayat yang memiliki luka tembak di kepala.
Kota Bucha dikuasai pasukan Rusia lebih dari satu bulan. Setelah penarikan tentara Moskow, pihak berwenang menemukan lebih dari 300 orang terbunuh di daerah itu.
Kengerian di Bucha membuat pemerintah Ukraina menuding Rusia melakukan genosida dan kejahatan perang.
Kremlin membantah tuduhan itu dan menilainya sebagai bagian dari propaganda.
Meski demikian, Majelis Umum PBB menangguhkan keanggotaan Rusia dalam Dewan Keamanan PBB, Kamis (7/4).