Kebrutalan Pasukan Chechen, dari Konflik Grozny hingga Ukraina
CNN Indonesia
Jumat, 08 Apr 2022 08:39 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tentara Chechen saat melakukan latihan tempur bersama pasukan khusus Rusia Spetznaz beberapa waktu lalu. (AFP/ALEXANDER NEMENOV)
Sementara itu, pasukan Chechen loyalis Kadyrov dikenal kejam, terutama ketika ikut operasi militer Rusia di Suriah dan Ukraina.
Chechnya, yang kini dipimpin Kadyrov, menjadi salah satu lubang hitam kejahatan hak asasi manusia.
Sebagaimana dilansir The Guardian, Kadyrov menggunakan uang Rusia untuk membangun negaranya yang hancur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pasukan loyalisnya kerap menangkap orang tanpa proses hukum. Beberapa kelompok yang menjadi 'incaran' antara lain terduga militan, pengkritik pemerintah, orang yang memiliki 'model' janggut salah, dan orang yang diduga gay.
Banyak testimoni yang mengatakan pasukan Chechen pro-Kadyrov melakukan penyiksaan, bahkan pembunuhan.
Sebut saja kasus Zelimkhan Khangoshvili, mantan komandan separatis Chechnya yang ditembak mati di Berlin pada 2019.
Saat Khangoshvili meninggalkan rumah untuk pergi ke masjid di Berlin, seorang pria menembaknya sebanyak dua kali. Ia langsung meninggal dunia.
Sementara itu, terduga pembunuhnya memiliki paspor Rusia dengan identitas palsu. Ini menimbulkan spekulasi bahwa Khangoshvili dibunuh oleh pasukan Rusia atau pasukan Chechen pro-Kadyrov.
Sebelumnya, mantan ajudan Kadyrov, Umar Israilov, ditembak mati di Wina pada 2009. Ia dibunuh setelah sempat mengaku pernah disiksa oleh pemimpin Chechnya tersebut.
Sejarah Perang Chechnya vs Militer Rusia
Kondisi yang terjadi di Ukraina saat ini disebut mirip dengan apa yang terjadi di Chechnya pada 1990-an.
Sebagaimana diberitakan NPR, pergolakan di Chechnya terjadi selama dua abad. Namun, titik penting status Chechnya terjadi kala Uni Soviet runtuh pada 1991.
Setelah Soviet runtuh, Rusia dan Chechnya mengalami ketegangan. Ketegangan ini berujung pada invasi Rusia di negara itu.
Rusia menyerang Chechnya dengan serangan udara dan artileri berat. Ribuan pasukan dan puluhan ribu warga sipil tewas dalam perang ini.
Ibu kota Chechnya, Grozny, hancur berantakan. Kota itu menghadapi serangan bom parah dari pihak Rusia.
Namun, Rusia kalah dan Presiden Boris Yeltsin menandatangani perjanjian damai dengan Chechen pada 1996.
Tiga tahun kemudian, Putin kembali menyerang Chechnya. Berbeda dengan yang pertama, serangan Putin efektif. Chechnya berhasil dikuasai Rusia hanya dalam beberapa bulan.
Setelahnya, Putin menempatkan Akhmad Kadyrov, pemberontak Chechen yang berpindah haluan, menjadi pemimpin negara itu.
Nahas, Kadyrov terbunuh pada 2004 dan digantikan oleh anaknya, Ramzan Kadyrov.
Kekejaman Pasukan Chechen Kala Perang Melanda Chechnya
Laporan Human Rights Watch yang dirilis pada Februari 2000 mengatakan pasukan Chechen kerap melakukan kekerasan serius dalam perang.
"Pasukan Chechen, khususnya yang menilai dirinya sebagai pasukan Islam, tak terlalu peduli dengan keselamatan populasi warga sipil," demikian pernyataan HRW dalam rilis pers mereka.
"Tetua desa yang mencoba menghentikan pasukan Chechen masuk ke desa mereka ditembak, atau dipukul parah, dalam berbagai situasi," lanjut rilis tersebut.
Tak hanya itu, pasukan Chechen disebut bertanggung jawab atas penyiksaan brutal kala periode antar perang. Mereka kerap menculik dan menyandera orang-orang.
Muncul pula dugaan pasukan Chechen mengeksekusi tentara Rusia yang tertangkap dalam perang.
Tak hanya itu, laporan Amnesty Internasional mengatakan pasukan Chechen loyalis Dudayev bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia.
Pada Juni 1995, kelompok Chechen bersenjata membunuh lebih dari 100 warga sipil di Kota Budennovsk, Rusia. Mereka juga menjadikan 1.000 orang sebagai sandera dan ditahan di rumah sakit lokal.
Bahkan, beberapa sandera dilaporkan dipaksa untuk menjadi 'tameng' pasukan Chechen saat militer Rusia menyerang mereka.
Selain itu, pasukan Chechen pernah menargetkan warga sipil pro-Moskow. Mereka dilaporkan bertanggung jawab atas pengeboman yang melukai warga sipil.
Saat konflik Chechnya dengan Rusia masih panas, seorang perempuan sempat meledakkan dirinya di tengah ribuan orang. Kala itu, banyak masyarakat berkumpul untuk merayakan perayaan Muslim di desa Ilishkan-Yurt, Grozny.
Sebanyak 18 orang tewas dan 145 orang terluka akibat bom bunuh diri ini.
Ternyata, serangan ini menyasar pemimpin Chechnya pro-Rusia, Akhmad Kadyrov. Beberapa pekan setelah, pemimpin pasukan Chechen, Shamil Basayev, mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman tersebut.
Basayev sendiri masih berada dalam kubu Dudayev. Ia pernah menjadi komandan kala Dudayev menyatakan kemerdekaan Chechnya dalam perang pertama, seperti dikutip dari The Guardian.
Tentara Chechen saat melakukan latihan tempur bersama pasukan khusus Rusia Spetznaz beberapa waktu lalu. (AFP/ALEXANDER NEMENOV)
Sementara itu, pasukan Chechen loyalis Kadyrov dikenal kejam, terutama ketika ikut operasi militer Rusia di Suriah dan Ukraina.
Chechnya, yang kini dipimpin Kadyrov, menjadi salah satu lubang hitam kejahatan hak asasi manusia.
Sebagaimana dilansir The Guardian, Kadyrov menggunakan uang Rusia untuk membangun negaranya yang hancur.
Sementara itu, pasukan loyalisnya kerap menangkap orang tanpa proses hukum. Beberapa kelompok yang menjadi 'incaran' antara lain terduga militan, pengkritik pemerintah, orang yang memiliki 'model' janggut salah, dan orang yang diduga gay.
Banyak testimoni yang mengatakan pasukan Chechen pro-Kadyrov melakukan penyiksaan, bahkan pembunuhan.
Sebut saja kasus Zelimkhan Khangoshvili, mantan komandan separatis Chechnya yang ditembak mati di Berlin pada 2019.
Saat Khangoshvili meninggalkan rumah untuk pergi ke masjid di Berlin, seorang pria menembaknya sebanyak dua kali. Ia langsung meninggal dunia.
Sementara itu, terduga pembunuhnya memiliki paspor Rusia dengan identitas palsu. Ini menimbulkan spekulasi bahwa Khangoshvili dibunuh oleh pasukan Rusia atau pasukan Chechen pro-Kadyrov.
Sebelumnya, mantan ajudan Kadyrov, Umar Israilov, ditembak mati di Wina pada 2009. Ia dibunuh setelah sempat mengaku pernah disiksa oleh pemimpin Chechnya tersebut.
Kondisi yang terjadi di Ukraina saat ini disebut mirip dengan apa yang terjadi di Chechnya pada 1990-an.
Sebagaimana diberitakan NPR, pergolakan di Chechnya terjadi selama dua abad. Namun, titik penting status Chechnya terjadi kala Uni Soviet runtuh pada 1991.
Setelah Soviet runtuh, Rusia dan Chechnya mengalami ketegangan. Ketegangan ini berujung pada invasi Rusia di negara itu.
Rusia menyerang Chechnya dengan serangan udara dan artileri berat. Ribuan pasukan dan puluhan ribu warga sipil tewas dalam perang ini.
Ibu kota Chechnya, Grozny, hancur berantakan. Kota itu menghadapi serangan bom parah dari pihak Rusia.
Namun, Rusia kalah dan Presiden Boris Yeltsin menandatangani perjanjian damai dengan Chechen pada 1996.
Tiga tahun kemudian, Putin kembali menyerang Chechnya. Berbeda dengan yang pertama, serangan Putin efektif. Chechnya berhasil dikuasai Rusia hanya dalam beberapa bulan.
Setelahnya, Putin menempatkan Akhmad Kadyrov, pemberontak Chechen yang berpindah haluan, menjadi pemimpin negara itu.
Nahas, Kadyrov terbunuh pada 2004 dan digantikan oleh anaknya, Ramzan Kadyrov.