Kenapa Putin Buru-buru Umumkan Kemenangan Rusia di Mariupol?
CNN Indonesia
Sabtu, 23 Apr 2022 08:24 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Tentara Rusia berjaga-jaga di Kota Mariupol. (AFP/ALEXANDER NEMENOV)
Sementara itu, kemungkinan ini juga telah diwanti-wanti oleh pihak Ukraina.
"Menjelang 9 Mei, Putin menetapkan tujuan parade kemenangan untuk perang ini," kata Sekretaris Dewan Keamanan Ukraina, Oleksiy Danilov.
Melihat kemungkinan itu, ditambah dengan serangan Rusia yang berfokus ke Donbas, bukan tidak mungkin Putin sengaja buru-buru mengakui kemenangan di Mariupol demi tenggat 9 Mei itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, masa depan wilayah Mariupol disebut kini berada di tangan Putin.
Wali Kota Mariupol, Vadym Boichenko mengatakan bahwa Putin sendiri dapat memutuskan nasib 100 ribu warga sipil yang masih terjebak di kota itu, Kamis (21/4).
"Penting untuk mengetahui masih ada kehidupan di sana, mereka berada di tangan satu orang, Vladimir Putin. Dan seluruh kematian yang terjadi setelah saat ini berada di tangannya juga," tutur Boichenko.
Mariupol telah lama digempur pasukan Rusia. Kota itu terancam mengalami krisis kemanusiaan akibat kurangnya listrik, pangan, dan air imbas kedudukan Rusia.
Pihak Ukraina memprediksi sebanyak puluhan ribu warga sipil tewas di Mariupol.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Palang Merah menilai kematian warga sipil di sana setidaknya mencapai ribuan.
Beberapa jurnalis yang mengunjungi Mariupol juga menemukan mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Hampir semua gedung di sana hancur dan masyarakat di ruang bawah tanah kedinginan. Mereka hanya keluar untuk memasak sisa makanan dan mengubur mayat di kebun.
Dalam pertemuan di Kremlin yang disiarkan di televisi, Putin mengucapkan selamat kepada menteri pertahanan Rusia dan pasukannya karena telah sukses bertempur untuk membebaskan Mariupol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putin juga menilai pasukan Rusia tak harus bertempur di pabrik baja Azovstal yang kini jadi tempat perlindungan kubu Ukraina. Menurut Putin, pasukan Rusia cukup mengamankan area tersebut secara ketat.
Meski pabrik Azovstal belum dikuasai, Putin terlihat terburu-buru mengklaim kemerdekaan atas Mariupol.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Ned Price, menilai pengakuan itu merupakan "bagian dari penyesatan informasi sesuai panduan perang mereka yang telah usang."
Namun, beberapa pejabat Barat menilai Putin berupaya menunjukkan sebuah kemenangan tertentu pada 9 Mei.
Sebagaimana diberitakan CNN, 9 Mei merupakan Hari Kemerdekaan Rusia. Di hari itu, Rusia merayakan kekalahan Nazi pada Perang Dunia II dengan parade pasukan dan senjata besar.
Menurut beberapa pejabat, Putin ingin merayakan kemenangan atas perangnya pada hari itu. Terlebih, kemenangan di Mariupol dinilai penting karena anggapan Rusia bahwa daerah itu merupakan markas utama Batalion Azov yang dituduh Neo-Nazi.
"Putin akan melakukan parade kemenangan pada 9 Mei tidak peduli status perang atau dialog damai," seorang pejabat pertahanan Eropa.
Tentara Rusia berjaga-jaga di Kota Mariupol. (AFP/ALEXANDER NEMENOV)
Sementara itu, kemungkinan ini juga telah diwanti-wanti oleh pihak Ukraina.
"Menjelang 9 Mei, Putin menetapkan tujuan parade kemenangan untuk perang ini," kata Sekretaris Dewan Keamanan Ukraina, Oleksiy Danilov.
Melihat kemungkinan itu, ditambah dengan serangan Rusia yang berfokus ke Donbas, bukan tidak mungkin Putin sengaja buru-buru mengakui kemenangan di Mariupol demi tenggat 9 Mei itu.
Di sisi lain, masa depan wilayah Mariupol disebut kini berada di tangan Putin.
Wali Kota Mariupol, Vadym Boichenko mengatakan bahwa Putin sendiri dapat memutuskan nasib 100 ribu warga sipil yang masih terjebak di kota itu, Kamis (21/4).
"Penting untuk mengetahui masih ada kehidupan di sana, mereka berada di tangan satu orang, Vladimir Putin. Dan seluruh kematian yang terjadi setelah saat ini berada di tangannya juga," tutur Boichenko.
Mariupol telah lama digempur pasukan Rusia. Kota itu terancam mengalami krisis kemanusiaan akibat kurangnya listrik, pangan, dan air imbas kedudukan Rusia.
Pihak Ukraina memprediksi sebanyak puluhan ribu warga sipil tewas di Mariupol.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Palang Merah menilai kematian warga sipil di sana setidaknya mencapai ribuan.
Beberapa jurnalis yang mengunjungi Mariupol juga menemukan mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Hampir semua gedung di sana hancur dan masyarakat di ruang bawah tanah kedinginan. Mereka hanya keluar untuk memasak sisa makanan dan mengubur mayat di kebun.