Jakarta, CNN Indonesia -- Gereja Unifikasi cabang Jepang menjadi sorotan usai Tetsuya Yamagami menembak eks Perdana Menteri Shinzo Abe pekan lalu. Di balik insiden itu mengapa organisasi ini tumbuh subur di Negeri Sakura?
Operasi gereja ini sangat bergantung atas donasi dari pengikutnya di Jepang. Di luar itu, politikus konservatif juga punya peran dalam memperluas pengaruh Gereja Unifikasi. Menurut pengamat peran mereka bak 'papan reklame.'
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerja Unifikasi berdiri pada 1954 di Korea Selatan oleh Sun-myung Moon. Moon mendeklarasikan dirinya sbagai mesiah dan mengaku paling anti-komunis.
Di Jepang, Gereja Unifikasi berdiri pada 1959 usai misionaris Choi Sang-ik menyelundup ke negara itu.
Gereja ini mendorong orang-orang untuk bisa melampaui ras dan agama, membangun kembali bahtera rumah tangga sebagai wadah cinta sejati yang abadi.
[Gambas:Video CNN]
Pengamat Korea Selatan sekaligus anggota Gereja Anglikan, Reverand Tahk, mengatakan kesuksesan gereja ini di Jepang terhadap pemujaan leluhur tradisional, memberi lahan subur bagi sekte ini.
Mereka berhasil menyentuh perhatian sebagian warga Jepang terkait kesejahteraan leluhur mereka yang meninggal serta kemakmuran duniawi mereka.
"Budaya dan tradisi agama Jepang, yang berfokus mendoakan kesejahteraan leluhur yang sudah meninggal dan berkah mereka untuk keturunannya, ternyata menjadi ladang yang subur bagi gereja ini mencampuradukkan agama dan imperialisme," ujar Reverend Tahk kepada This Week in Asia yang dikutip South China Morning Post.
Gereja Unifikasi di Jepang meraup jutaan dolar setiap tahun. Mereka menjual rosario, patung Buddha, dan jus ginseng yang konon membawa roh pengembara ke surga.
Gereja juga mendorong para anggotanya untuk memberi donasi khusus untuk kematian, bahkan dengan mengambil pinjaman. Namun, juru bicara Gereja Unifiksi di Seoul membantah tudingan itu.
"Bagaimana Anda memaksa pengikut untuk berdonasi? Ini semua adalah tuduhan keji yang dibuat mantan anggota yang telah memutuskan hubungan dengan gereja dan sekarang menginginkan kembali sumbangan mereka di masa lalu," kata jubir itu.
Mereka, lanjutnya, terhasut kekuatan luar untuk berbicara hal-hal buruk soal gereja.
Di Negeri Sakura mereka memiliki 600 ribu pengikut, dua kali lipat dari jumlah anggota di Korea Selatan.
Anggota Gereja Unifikasi di dunia dan hubungannya dengan kelompok elite Jepang, baca di halaman berikutnya...
Anggota Gereja Unifikasi di Dunia dan Hubungannya dengan Politikus Jepang
Bendera Gereja Unifikasi di Seoul, Korsel. (AFP/KIM JAE-HWAN)
Secara global, Gereja Unifikasi memiliki 10 juta anggota di 194 negara. Namun, pengamat menilai angka itu sengaja dilebih-lebihkan.
Hubungan antara gereja dan politisi konservatif Jepang mencuat pada 1999. Saat itu, media Jepang merilis daftar 128 politisi yang diduga memiliki hubungan dengan organisasi dan gerakan anti komunis.
Kakek Abe, Nobusuke Kishi, yang juga mantan perdana menteri dilaporkan pernah mengunjung Gereja Unifikasi pada 1970. Ia juga disebut membangun hubungan dengan Federasi Internasional Kemenenagan atas Komunisme.
Kepala Institut Penelitian Gereja Bid'ah Korea, Pastor Park Hyung, mengatakan narasi anti komunisme sebagai perekat. Moon membangun hubungan dengan pihak berwenang di Korsel dan politisi Jepang dari Partai Demokratik Liberal dengan narasi tersebut.
Gereja ini sempat menjadi pembicaraan global saat mereka menggelar pernikahan massal dari ribuan pasangan dalam satu waktu.
Gereja Unifikasi berafiliasi dengan sejumlah media di Korea Selatan, Jepang dan Inggris. Termasuk Washington Times. Gereja ini menjadi
Setelah Moon meninggal pada 2012, muncul perdebatan di internal keluarga siapa yang akan melanjutkan menjadi pemimpin. Saat itu perseteruan beerkecamuk antara istri Moon, Han Hak-ja dan anak laki-lakinya.
"Ia kemudian berpisah dan pengaruhnya di sini dan di luar negeri menurun," kata Park.