Jakarta, CNN Indonesia -- Pendeta Sun Myung Moon mendirikan Gereja Unifikasi pada 1954 di Korea Selatan. Moon mendeklarasikan diri sebagai mesiah dan kerap menggunakan narasi anti-komunis untuk membangun relasi.
Nama Gereja Unifikasi berikut pendirinya mencuat usai pelaku penembak eks perdana menteri Jepang Shinzo Abe, Tetsuya Yamagami, menilai Abe terlibat organisasi itu.
Ia dendam lantaran Gereja Unifikasi membuat ibunya mengalami kesulitan ekonomi, karena habis-habisan menyumbang ke gereja ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari klaim Yamagami siapa sebetulnya Sun Myung-moon? Moon lahir pada 1920 di Gwangju Sangsa Ri, provinsi Utara Pyongan demikian dikutip Britannica.
Ia besar di gereja protestan Presbyterian. Saat berusia 15 tahun, ia bermimpi bahwa Yesus menampak diri di hadapannya dan meminta dia melakukan misi khusus. Moon lalu merasa harus melakukan sesuatu.
"[saya] pergi ke Jepang dan ke Amerika agar dunia bisa mengetahui kehebatan orang Korea," demikian menurut otobiografi Moon, As a Peace Loving Global Citizen yang dirilis pada 2010 dikutip Foreign Policy.
[Gambas:Video CNN]
Usai lulus dari sekolah menengah, Moon melanjutkan pendidikannya di Jepang dan aktif dalam gerakan independen warga Korea. Dalam buku autobiografinya, Moon menunjukkan penderitaan yang ia alami.
"[Moon] bahkan tak ingat berapa kali ia ditangkap polisi, dipukul, disiksa dan dijebloskan dalam sel. Bahkan Bahkan di bawah siksaan terburuk, saya menolak memberi mereka informasi yang mereka cari," kata dia.
Saat kembali ke Korea, khotbah dan dakwah Moon menarik perhatian pihak berwenang karena dianggap mengganggu tatanan sosial.
Pihak berwenang kemudian menjatuhkan hukuman lima tahun di kamp kerja paksa pada 1948.
"Di penjara pihak berwenang memukul saya tanpa henti dan menuntut agar saya mengakui kejahatan saya," tulis moon.
Ia kemudian melanjutkan, "Bahkan ketika saya muntah darah dan tampak di ambang kematian saya tak pernah membiarkan diri kehilangan kesadaran."
Moon tak henti-hentinya berdoa agar tak mati sia-sia. Namun, dalam doanya, ia meminta agar Tuhan tak khawatir.
"Sun Myung-moon belum mati. Saya tak akan membiarkan diri ini mati dengan cara yang menyedihkan seperti ini," kata dia.
Saat Moon masih meringkuk di kamp kerja paksa, perang Korea pecah. Sehari sebelum jadwal eksekusi dia tiba, militer AS menyerang.
Moon lalu kembali ke Korea Selatan dan mendirikan Gereja Unifikasi pada 1954. Saat itu kondisi ekonomi negara ini belum stabil dan dalam situasi miskin.
"Korea sangat miskin, jadi mereka memutuskan melakukan bisnis, [untuk mengumpulkan pendapatan dan mendukung misi gereja]," kata juru bicara Gereja Unifikasi.
Menurut Moon, Yesus belum menuntaskan tugasnya karena ia tak menikah. Moon kemudian mengajak pengikut untuk berpartisipasi dalam tujuan Tuhan itu.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Moon Dipercaya Pengikutnya Bisa Bangun Kerajaan Tuhan di Bumi
Mengenal pendiri Gereja Unifikasi. (AP/Lee Jin-man)
Para pengikut Moon atau Moonies percaya bisa membantu membangun Kerajaan Tuhan di Bumi. Salah satu caranya dengan menerima berkat pernikahan mereka di acara pernikahan massal yang digelar Gereja Unifikasi.
Nikah massal itu menarik perhatian dunia karena mengawinkan ribuan pasangan dalam satu waktu.
Terkait teologis, Moon menilai Tuhan menciptakan dunia dengan dua elemen Sung Sang (maskulin) dan Hyung Sang (feminim). Ia juga menganggap tujuan penciptaan manusia untuk menjalani kesenangan dalam mencintai.
Di awal-awal pendirian gereja, mereka melukis gambar prajurit AS dan keluarga mereka, dan menjualnya untuk mendapatkan dana.
Bisnis itu berkembang dengan cepat. Lalu pada 1963, Moon mendirikan Grup Tongil yang artinya penyatuan. Ia melebarkan sayap dari konstruksi, resor hingga senjata.
Sebagian besar perusahaan Tongil diperjualbelikan secara pribadi. Forbes melaporkan pada April 2010 bahwa aset Tongil Group berjumlah US$1,5 miliar atau sekitar Rp22 triliun.
Saat kerajaan bisnisnya semakin tumbuh, Moon memposisikan diri dalam kampanye guna menghentikan penyebaran komunisme.
Bagi Moon komunisme adalah ideologi tak bertuhan yang mencoba mendominasi manusia dan mengambil hubungan mereka dari orang tua surgawi mereka.
Dia lalu mendirikan Federasi Internasional untuk Kemenangan Melawan Komunisme pada 1968. Pada 1985, Moon mendanai sebuah konferensi di Jenewa, Swiss, yang bertajuk "Akhir Kekaisaran Soviet."
Dia bahkan menjadi semacam maestro media, menciptakan dan mensponsori outlet untuk membantu mengkhotbahkan pandangannya.
Moon mendirikan surat kabar konservatif Washington Times dan menghabiskan lebih dari US$1,7 miliar atau sekitar Rp25 triliun. Ia adalah laki-laki yang berambisi dengan keagungan.
"Seluruh dunia ada ri tanganku, dan saya akan menaklukan dunia," kata dia.
Relasi dengan Politisi Dunia
Narasi anti-komunis ternyata menjadi santapan yang lezat bagi para politikus di Jepang dan Korea Selatan.
Di Jepang, ia bahkan menjalin relasi dengan eks perdana menteri Nobusuke Kishi dan Partai Liberal Demokratik (LDP).
Moon juga memupuk persahabatan dengan eks presiden Amerika Serikat, George HW Bush.
Pendiri organisasi ini juga kerap berusaha mempertahankan kepentingan agama dan bisnisnya menjadi kepentingan politik.
Ia pernah bertemu dengan Presiden Uni Soviet, Mikhail S Gorbachev pada 1990. Namun, ia disebut kesulitan mendekat pemimpin korea Utara sata itu, Kim Jong Il.