Xi Jinping ke Kampung Uighur: Islam di China Harus Berdasar Sosialis
CNN Indonesia
Senin, 18 Jul 2022 14:14 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Perdana dalam 8 tahun, Presiden China Xi Jinping mengunjungi Xinjiang, kampung etnis minoritas Muslim Uighur yang selama ini diduga menerima persekusi sistematis. (Foto: (Li Xueren/Xinhua via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Xi Jinping mengunjungi wilayah otonomi Xinjiang, rumah jutaan etnis minoritas Muslim Uighur di barat laut China pada pekan lalu.
Ini merupakan lawatan pertama Xi sejak delapan tahun lalu silam dan berlangsung ketika dunia mengkritik China habis-habisan soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur, terutama soal kebebasan beragama hingga penahanan massal.
Selama empat hari mulai Selasa (12/7) lalu, Xi mengunjungi sejumlah situs di Xinjiang termasuk perkebunan kapas diduga tempat mempekerjakan orang Uighur secara paksa, zona perdagangan dan museum.
Laporan lembaga penyiaran negara CCTV merilis lawatan Xi tersebut pada Jumat dalam acara berita malam berdurasi 34 menit.
Sebuah foto dirilis kantor berita resmi Xinhua memperlihatkan Xi Jinping tanpa mengenakan masker dikelilingi penduduk Uighur yang tersenyum sambil bertepuk tangan. Banyak dari mereka mengenakan baju tradisional Uighur dan peci.
Dalam lawatannya, Xi mendesak pejabat Xinjiang untuk selalu mendengarkan suara rakyat demi memenangkan hati mereka dan membuat mereka bersatu.
Meski begitu, Xi juga tetap menekankan bahwa langkah-langkah keamanan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas sosial harus menjadi teratur.
Dilansir Reuters, CCTV juga mengutip Xi yang mengatakan bahwa praktik agama Islam di China harus seusai dengan sensitivitas nilai Tiongkok. Ia juga mendorong XInjiang mempersiapkan tim perwakilan agama yang "dapat diandalkan secara politik".
Xi juga meminta para pejabat China terutama di Xinjiang meningkatkan upaya menegakkan prinsip bahwa Islam harus berorientasi China. Selain itu, agama-agama di China, termasuk Islam, juga harus beradaptasi dengan masyarakat sosialis yang dianut oleh Partai Komunis China.
"Kita harus lebih menjunjung tinggi prinsip pengembangan Islam dalam konteks China dan memberikan bimbingan aktif untuk adaptasi agama ke masyarakat sosialis [...] dan membina sekelompok peneliti agama yang memiliki pendirian politik yang kuat dan prestasi akademik yang baik, berpegang pada pandangan Marxis tentang agama, dan pandai dalam mengembangkan inovasi," kata Xi seperti dikutip Xinhua.
Pada 2018 lalu, laporan kelompok pemerhati HAM dunia ramai-ramai menuding China telah menempatkan setidaknya 1 juta warga Uighur dalam kamp penahanan yang dinilai seperti kamp konsentrasi.
Di kamp tersebut, pemerintah China dituduh mendoktrin para etnis Uighur soal Partai Komunis dan sosialis di China. Mereka juga dilarang melakukan aktivitas agama.
China awalnya menyangkal keberadaan kamp, kemudian mengatakan "penampungan" itu didirikan sebagai "pusat pelatihan pendidikan vokasi lengkap dengan asrama di mana orang dapat "secara sukarela" memeriksakan diri untuk belajar tentang hukum, bahasa China, dan keterampilan kejuruan.
China mengklaim pada 2019 semua peserta pelatihan kamp tersebut telah "lulus".
"Inti dari perjalanan Xi ke Xinjiang adalah untuk melihat hasil dari kebijakan yang telah dia lakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk menstabilkan Xinjiang dan untuk menyimpulkan bahwa pendekatan dan strateginya untuk Xinjiang telah berhasil," kata Li Mingjiang, profesor di S Sekolah Studi Internasional Rajaratnam di Singapura.
Perjalanan tersebut menandai penampilan publik pertama Xi sejak ia mengunjungi Hong Kong peringatan 25 tahun kekuasaan China atas bekas jajahan Inggris itu pada 1 Juli lalu.
Lawatan Xi ke Hong Kong berlangsung ketika wilayah otonomi itu telah didera berbagai rangkaian demonstrasi menuntut demokrasi dalam beberapa tahun terakhir
Sementara itu, Xi dilaporkan terakhir kali melawat Xinjiang yaitu pada 2014, ketika ia menyerukan "perjuangan habis-habisan melawan terorisme, infiltrasi, dan separatisme", menurut New York Times.
Otoritas setempat kemudian meningkatkan upaya untuk melacak, mengontrol, dan mendidik kembali orang-orang Uyghur.
Presiden Xi Jinping mengunjungi wilayah otonomi Xinjiang, rumah jutaan etnis minoritas Muslim Uighur di barat laut China pada pekan lalu.
Ini merupakan lawatan pertama Xi sejak delapan tahun lalu silam dan berlangsung ketika dunia mengkritik China habis-habisan soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur, terutama soal kebebasan beragama hingga penahanan massal.
Selama empat hari mulai Selasa (12/7) lalu, Xi mengunjungi sejumlah situs di Xinjiang termasuk perkebunan kapas diduga tempat mempekerjakan orang Uighur secara paksa, zona perdagangan dan museum.
Laporan lembaga penyiaran negara CCTV merilis lawatan Xi tersebut pada Jumat dalam acara berita malam berdurasi 34 menit.
Sebuah foto dirilis kantor berita resmi Xinhua memperlihatkan Xi Jinping tanpa mengenakan masker dikelilingi penduduk Uighur yang tersenyum sambil bertepuk tangan. Banyak dari mereka mengenakan baju tradisional Uighur dan peci.
Dalam lawatannya, Xi mendesak pejabat Xinjiang untuk selalu mendengarkan suara rakyat demi memenangkan hati mereka dan membuat mereka bersatu.
Meski begitu, Xi juga tetap menekankan bahwa langkah-langkah keamanan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas sosial harus menjadi teratur.
Dilansir Reuters, CCTV juga mengutip Xi yang mengatakan bahwa praktik agama Islam di China harus seusai dengan sensitivitas nilai Tiongkok. Ia juga mendorong XInjiang mempersiapkan tim perwakilan agama yang "dapat diandalkan secara politik".
Xi juga meminta para pejabat China terutama di Xinjiang meningkatkan upaya menegakkan prinsip bahwa Islam harus berorientasi China. Selain itu, agama-agama di China, termasuk Islam, juga harus beradaptasi dengan masyarakat sosialis yang dianut oleh Partai Komunis China.
"Kita harus lebih menjunjung tinggi prinsip pengembangan Islam dalam konteks China dan memberikan bimbingan aktif untuk adaptasi agama ke masyarakat sosialis [...] dan membina sekelompok peneliti agama yang memiliki pendirian politik yang kuat dan prestasi akademik yang baik, berpegang pada pandangan Marxis tentang agama, dan pandai dalam mengembangkan inovasi," kata Xi seperti dikutip Xinhua.
Xi Jinping ke Kampung Uighur: Islam di China Harus Sesuai Komunis
Xi Jinping saat bertemu pejabat Xinjiang. (Foto: Li Gang/Xinhua via AP)
Pada 2018 lalu, laporan kelompok pemerhati HAM dunia ramai-ramai menuding China telah menempatkan setidaknya 1 juta warga Uighur dalam kamp penahanan yang dinilai seperti kamp konsentrasi.
Di kamp tersebut, pemerintah China dituduh mendoktrin para etnis Uighur soal Partai Komunis dan sosialis di China. Mereka juga dilarang melakukan aktivitas agama.
China awalnya menyangkal keberadaan kamp, kemudian mengatakan "penampungan" itu didirikan sebagai "pusat pelatihan pendidikan vokasi lengkap dengan asrama di mana orang dapat "secara sukarela" memeriksakan diri untuk belajar tentang hukum, bahasa China, dan keterampilan kejuruan.
China mengklaim pada 2019 semua peserta pelatihan kamp tersebut telah "lulus".
"Inti dari perjalanan Xi ke Xinjiang adalah untuk melihat hasil dari kebijakan yang telah dia lakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk menstabilkan Xinjiang dan untuk menyimpulkan bahwa pendekatan dan strateginya untuk Xinjiang telah berhasil," kata Li Mingjiang, profesor di S Sekolah Studi Internasional Rajaratnam di Singapura.
Perjalanan tersebut menandai penampilan publik pertama Xi sejak ia mengunjungi Hong Kong peringatan 25 tahun kekuasaan China atas bekas jajahan Inggris itu pada 1 Juli lalu.
Lawatan Xi ke Hong Kong berlangsung ketika wilayah otonomi itu telah didera berbagai rangkaian demonstrasi menuntut demokrasi dalam beberapa tahun terakhir
Sementara itu, Xi dilaporkan terakhir kali melawat Xinjiang yaitu pada 2014, ketika ia menyerukan "perjuangan habis-habisan melawan terorisme, infiltrasi, dan separatisme", menurut New York Times.
Otoritas setempat kemudian meningkatkan upaya untuk melacak, mengontrol, dan mendidik kembali orang-orang Uyghur.