5 Fakta Draupadi Murmu, Presiden Perempuan Pribumi Pertama India
CNN Indonesia
Sabtu, 23 Jul 2022 07:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Draupadi Murmu terpilih menjadi presiden baru India pada Kamis (21/7). Ia mencetak sejarah sebagai presiden perempuan pribumi pertama di India. (Reuters/Amit Dave)
Jakarta, CNN Indonesia --
Draupadi Murmu terpilih menjadi presiden baru Indiapada Kamis (21/7). Ia mencetak sejarah sebagai presiden perempuan pribumi pertama di India.
Mantan guru ini memang perempuan kedua yang mengemban jabatan sebagai presiden India, juga komandan tertinggi angkatan bersenjata negara itu.
Namun, ia tercatat sebagai warga pribumi pertama yang bisa duduk di singgasana presiden India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta Draupadi Murmu yang dirangkum Indian Express.
Murmu lahir dalam keluarga suku Santhal pada 1958. Ia merupakan salah satu perempuan di Uparbeda, salah satu desa di distrik terbelakang Mayurbhanj, yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga kuliah.
Ia menempuh pendidikan di Kolese Perempuan Ramadevi, yang kini dikenal sebagai Universitas Perempuan Ramadevi, di Bhubaneswar.
2. Sempat jadi guru
Sebelum masuk ke dunia politik, Murmu sempat menjadi guru di Pusat Pendidikan Integral Sri Aurobindo di Rairangpur, Mayurbhanj.
Setelah itu, ia bekerja sebagai asisten junior di departemen irigasi dan listrik pemerintah negara bagian Odisha.
Murmu sempat menjadi anggota badan legislatif Odisha selama dua periode. Ia terpilih pada 2000 dan 2004.
Murmu juga pernah menjadi menteri transportasi Odisha.
4. Kehilangan tiga anggota keluarga
Sejak 2009, Murmu harus berhadapan dengan berbagai kehilangan. Anak laki-laki pertamanya, Laxman Murmu, meninggal dunia pada 2009.
Anak laki-lakinya yang lain, Sippun Murmu, meninggal pada 2013.
Setahun setelahnya, suaminya, Shyam Charan Murmu, meninggal dunia pada 2014.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
5. Gubernur perempuan pertama Jharkhand
Murmu menjadi perempuan pertama yang mengemban tugas sebagai gubernur negara bagian Jharkhand. Ia dilantik pada 2015.
6. Bela hak pribumi
Pada 2016, pemerintah dari Partai Bharatiya Janata (BJP) sempat meloloskan amandemen dua undang-undang terkait tanah.
Regulasi itu mencakup UU Penyewaan Chotanagpur (CNT) dan UU Penyewaan Santhal Pargana (SPT). Kedua UU tersebut memastikan kemudahan pemindahan tanah untuk industri.
Namun, UU tersebut ditolak oleh masyarakat Adivasi, sebutan bagi penduduk asli India. Murmu sendiri berasal dari Santhal, suku yang merupakan bagian dari kelompok Adivasi.
Masyarakat Adivasi menilai aturan tersebut bakal membatasi hak mereka atas lahan.
Murmu pun menolak penerapan UU tersebut pada 2017. Ia juga meminta penjelasan dari pemerintah untuk mengklarifikasi dampak aturan ini terhadap suku tersebut.
Keberanian Murmu menolak UU tersebut membuat ia mendapatkan penghormatan dan kekaguman dari masyarakat.
Pada 2018, Murmu juga sempat menyatakan kondisi suku terpinggirkan di India masih sangat buruk.
Ia heran karena pemerintah negara bagian Jharkhand sebenarnya sudah bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk memperluas keuntungan layanan perbankan ke suku asli.
Lebih jauh, Murmu juga mendesak buku-buku di India diterjemahkan ke bahasa dan budaya Adivasi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Draupadi Murmu terpilih menjadi presiden baru Indiapada Kamis (21/7). Ia mencetak sejarah sebagai presiden perempuan pribumi pertama di India.
Mantan guru ini memang perempuan kedua yang mengemban jabatan sebagai presiden India, juga komandan tertinggi angkatan bersenjata negara itu.
Namun, ia tercatat sebagai warga pribumi pertama yang bisa duduk di singgasana presiden India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta Draupadi Murmu yang dirangkum Indian Express.
Murmu lahir dalam keluarga suku Santhal pada 1958. Ia merupakan salah satu perempuan di Uparbeda, salah satu desa di distrik terbelakang Mayurbhanj, yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga kuliah.
Ia menempuh pendidikan di Kolese Perempuan Ramadevi, yang kini dikenal sebagai Universitas Perempuan Ramadevi, di Bhubaneswar.
2. Sempat jadi guru
Sebelum masuk ke dunia politik, Murmu sempat menjadi guru di Pusat Pendidikan Integral Sri Aurobindo di Rairangpur, Mayurbhanj.
Setelah itu, ia bekerja sebagai asisten junior di departemen irigasi dan listrik pemerintah negara bagian Odisha.
Murmu sempat menjadi anggota badan legislatif Odisha selama dua periode. Ia terpilih pada 2000 dan 2004.
Murmu juga pernah menjadi menteri transportasi Odisha.
4. Kehilangan tiga anggota keluarga
Sejak 2009, Murmu harus berhadapan dengan berbagai kehilangan. Anak laki-laki pertamanya, Laxman Murmu, meninggal dunia pada 2009.
Anak laki-lakinya yang lain, Sippun Murmu, meninggal pada 2013.
Setahun setelahnya, suaminya, Shyam Charan Murmu, meninggal dunia pada 2014.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
5 Fakta Draupadi Murmu, Presiden Perempuan Pribumi Pertama India
(Foto: AP/Manish Swarup)
5. Gubernur perempuan pertama Jharkhand
Murmu menjadi perempuan pertama yang mengemban tugas sebagai gubernur negara bagian Jharkhand. Ia dilantik pada 2015.
6. Bela hak pribumi
Pada 2016, pemerintah dari Partai Bharatiya Janata (BJP) sempat meloloskan amandemen dua undang-undang terkait tanah.
Regulasi itu mencakup UU Penyewaan Chotanagpur (CNT) dan UU Penyewaan Santhal Pargana (SPT). Kedua UU tersebut memastikan kemudahan pemindahan tanah untuk industri.
Namun, UU tersebut ditolak oleh masyarakat Adivasi, sebutan bagi penduduk asli India. Murmu sendiri berasal dari Santhal, suku yang merupakan bagian dari kelompok Adivasi.
Masyarakat Adivasi menilai aturan tersebut bakal membatasi hak mereka atas lahan.
Murmu pun menolak penerapan UU tersebut pada 2017. Ia juga meminta penjelasan dari pemerintah untuk mengklarifikasi dampak aturan ini terhadap suku tersebut.
Keberanian Murmu menolak UU tersebut membuat ia mendapatkan penghormatan dan kekaguman dari masyarakat.
Pada 2018, Murmu juga sempat menyatakan kondisi suku terpinggirkan di India masih sangat buruk.
Ia heran karena pemerintah negara bagian Jharkhand sebenarnya sudah bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk memperluas keuntungan layanan perbankan ke suku asli.
Lebih jauh, Murmu juga mendesak buku-buku di India diterjemahkan ke bahasa dan budaya Adivasi.