Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat Nancy Pelosi dikabarkan berkeras mengunjungi Taiwan terlepas dari rentetan ancaman dan penentangan China.
Sejauh ini, Pelosi menolak mengonfirmasi kunjungannya ke Taiwan. Namun, ia sempat menegaskan lawatannya ke Taiwan adalah penting bagi AS sebagai bentuk dukungan terhadap Taipei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Taiwan menuturkan belum mendapatkan informasi pasti mengenai kunjungan Pelosi ke pulau itu.
Taiwan juga tak masuk dalam rencana perjalanan resmi Pelosi ke sejumlah negara Asia. Meski begitu, sejumlah pejabat AS dan Taiwan mengatakan Pelosi tetap akan mengunjungi Taiwan besok, Rabu (3/8) menggunakan pesawat militer.
Duta Besar China untuk PBB Zhang Hun juga menyebut kunjungan Pelosi akan "sangat berbahaya, sangat provokatif".
"Jika AS bersikeras melakukan kunjungan (Pelosi), China akan mengambil tindakan tegas dan kuat untuk menjaga kedaulatan dan integritas teritorial kami," katanya dalam sebuah pengarahan.
[Gambas:Video CNN]
The Global Times, tabloid yang dikelola pemerintah China, memprediksi bahwa Pelosi mungkin menggunakan "alasan darurat seperti kesalahan pesawat atau pengisian bahan bakar" untuk mendarat di bandara Taiwan.
"Jika dia berani berhenti di Taiwan, itu akan menjadi momen untuk memicu situasi di Selat Taiwan," kicau Hu Xijin, mantan editor Global Times dan sekarang menjadi komentator.
Pemerintah AS sendiri tidak sepenuhnya mendukung kunjungan Pelosi ke Taiwan. Sejumlah pejabat Gedung Putih bahkan disebut berusaha mencegah perjalanan Pelosi ke Taiwan dengan menjelaskan risikonya jika benar-benar terjadi.
Lantas, bagaimana sebenarnya respons Taiwan dan wargannya terkait kunjungan Pelosi dan ancaman China?
Jika Pelosi benar-benar mengunjungi Taiwan, itu akan menjadi kunjungan ketua DPR AS yang pertama sejak 25 tahun terakhir.
Sampai saat ini, Taiwan cenderung diam menyikapi kisruh rencana latawan Pelosi ke wilayahnya. Padahal, AS dan China terus saling melontarkan peringatan terkait rencana kunjungan Pelosi tersebut.
China memperingatkan lawatan Pelosi bisa memberikan sinyal keliru bagi Taiwan yang dianggapnya wilayah pembangkang karena ngotot ingin merdeka. Menurut Beijing, kunjungan Pelosi, pejabat tertinggi ketiga di AS, juga melanggar prinsip Satu China.
Namun, AS tak tinggal diam. Washington mengultimatum China agar tak bersikap berlebihan menanggapi lawatan Pelosi ke Taiwan. Gedung Putih bahkan mendesak China tak menjadikan kunjungan Pelosi ini menjadi krisis yang dapat merusak stabilitas dan keamanan di kawasan.
Menurut pengamat politik internasional, sikap diam Taiwan memiliki banyak arti yang justru bisa menyelamatkan wilayah itu dari cekcok AS-China ini.
"Merupakan kepentingan pemerintah Taiwan untuk tetap bersikap diam dan menahan diri dari memberikan persepsi bahwa Taiwan secara aktif mendukung kunjungan Pelosi," ujar pengamat politik program studi Taiwan di Universitas Nasional Australia, Wen-ti Sung.
"Jika Taiwan tetap diam dan Pelosi datang, itu mungkin akan dinilai sebagai keputusan yang dibuat oleh AS atau Pelosi," ujar Wen-ti.
"Namun, jika Taiwan secara terbuka mengundangnya [Pelosi] untuk berkunjung, Beijing dapat membingkai itu sebagai tindakan Taiwan. Negara-negara di kawasan, seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Australia, mungkin bakal kurang simpati dengan Taiwan, karena mereka merasa Taiwan secara aktif menimbulkan masalah [karena mengundang Pelosi]," lanjutnya.
Warga Taiwan anggap lawatan Pelosi biasa saja? Baca di halaman berikutnya >>>
Kenapa Taiwan Bungkam saat AS-China Ribut Kunjungan Ketua DPR Pelosi?
Sejak Tsai menjabat sebagai presiden, pejabat tinggi negara asing semakin rajin mengunjungi Taiwan sebagai bentuk dukungan. (Foto: AFP/CNA Pool)
Media lokal Taiwan sendiri tak begitu menyoroti rencana lawatan Pelosi, meski kunjungan ini menuai perhatian dunia internasional.
CNN melaporkan pemberitaan di Taiwan lebih fokus pada skandal yang mewarnai pemilihan lokal, pun latihan militer terbesar pulau itu.
Menurut anggota parlemen Taiwan, Wang Ting-yu, warga di pulau itu telah terbiasa dengan ancaman China.
Pendapat ini juga didukung oleh warga keturunan Taiwan-Amerika yang kini tinggal di Taipei, Brian Hioe. Hioe menuturkan masyarakat Taiwan tak begitu khawatir dengan konsekuensi kunjungan Pelosi ke pulau itu, mengingat Beijing seringkali menuturkan ancaman yang mirip di masa lampau.
"Ancaman China seringkali terjadi sehingga telah dianggap seperti wacana biasa. Masyarakat di sini tak benar-benar berpikir secara serius akan kemungkinan konsekuensi dari kunjungan Pelosi," kata Hioe.
Mengomentari sorotan dunia terkait kunjungan Pelosi, Hioe menuturkan sorotan itu dapat membuat pemerintah China merasa harus bereaksi.
"Pada saat ini, karena sudah banyak opini dan diskusi terkait respons China [akan kunjungan Pelosi], saya pikir China merasa mereka harus memberikan respons," ujar Hioe.
Sementara itu, sejumlah analis menilai jika Pelosi tak jadi berkunjung ke Taiwan, AS bakal dianggap takut atas respons China.
Meski demikian, spekulasi yang beredar terkait respons China atas kunjungan Pelosi dapat membuat Beijing mau tak mau harus melakukan sesuatu agar tak 'kehilangan muka.'
Salah satu spekulasi muncul dari seorang pengamat studi AS di Akademi Ilmu Sosial China, Lu Xiang. Lu mengatakan kepada The Global Times bahwa Beijing bakal merespons kunjungan Pelosi dengan tindakan tegas.
Lu menuturkan militer China mungkin saja akan mendeklarasikan kontrol ruang udara reguler di seluruh atau sebagian wilayah Taiwan jika Pelosi berkunjung ke pulau itu. Tak hanya itu, China mungkin bakal melakukan penerbangan di dekat Taiwan.
[Gambas:Photo CNN]