Junta Militer Myanmar Vonis Suu Kyi 6 Tahun Bui Gegara 4 Kasus Korupsi

rds | CNN Indonesia
Senin, 15 Agu 2022 18:42 WIB
Junta militer Myanmar kembali menjatuhkan vonis kepada pemimpin de facto negara yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, terkait empat kasus korupsi. Junta militer Myanmar kembali menjatuhkan vonis kepada pemimpin de facto negara yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, terkait empat kasus korupsi. (Foto: REUTERS/Cathal McNaughton)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengadilan junta militer Myanmar menyatakan pemimpin de facto negara yang dikudeta, Aung San Suu Kyi, bersalah dalam empat kasus korupsi dan memvonisnya hukuman enam tahun penjara, Senin (15/8).

Menurut sumber, junta militer Myanmar menganggap Suu Kyi bersalah karena menyalahgunakan dana dari Yayasan Daw Khin Kyi untuk membangun rumah, menyewakan tanah milik pemerintah dengan potongan harga.

Meski begitu, belum ada konfirmasi resmi dari juru bicara junta militer Myanmar, Zaw Min Tun, soal vonis baru terhadap Suu Kyi ini.

Sebelumnya, Suu Kyi dikabarkan sedang menjalani proses hukum oleh pengadilan independen Myanmar dan junta militer menolak kritik asing sebagai upaya campur tangan.

Suu Kyi, perempuan peraih Hadiah Nobel Perdamaian berusia 77 tahun, telah didakwa dengan setidaknya 18 pelanggaran mulai dari tuduhan korupsi hingga pelanggaran pemilihan umum sejak dikudeta pada Febaruari 2021 lalu.

[Gambas:Video CNN]

Sejak dikudeta, Suu Kyi juga ditahan junta militer. Dikutip Reuters, Suu Kyi semula masih menjadi tahanan rumah junta militer.

Namun, belakangan ia dipindahkan ke sel isolasi di penjara ibu kota Naypyidaw.

Ia terancam dihukum penjara maksimum 190 tahun jika dinyatakan bersalah atas seluruh dakwaan.

Sejauh ini, Suu Kyi telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 11 tahun penjara dalam beberapa kasus.

Pihak Suu Kyi menyebut seluruh tuduhan itu tidak masuk akal dan menyangkal semua dakwaan.

"Ini adalah serangan besar-besaran terhadap hak-haknya, dan bagian dari kampanye untuk menguburnya dan partainya, NLD, selamanya," kata Wakil Direktur Asia Human Rights Watch, Phil Robertson.



(rds/rds)

[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER