6 Jurus Ekstrem Xi Jinping soal 'Resesi Seks' di China
CNN Indonesia
Minggu, 21 Agu 2022 12:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
6 jurus ekstrem Xi Jinping atasi 'resesi seks' di China. (AFP/NOEL CELIS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden China,Xi Jinping, menerapkan kebijakan ekstrem terkait 'resesi' seks untuk menambah populasi di negara itu, menyusul angka pertumbuhan penduduk yang terus menurun.
'Resesi seks' menjadi perbincangan usai sebuah laporan dengan judul The Challenges of Law Birth rate in China rilis di Wiley. Frasa 'resesi seks' merujuk pada keengganan warga China untuk menikah dan angka kelahiran yang rendah.
Dalam laporan itu menyebutkan, pada 2021 populasi di China menurun secara signifikan, bahkan terendah sejak 1949.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingkat kelahiran didefinisikan sebagai jumlah tahunan kelahiran hidup per 1000 individu dalam populasi tertentu.
Di China, tercatat 7,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2021. Angka ini tercatat 8,52 per 1.000 orang pada tahun sebelumnya.
Tahun lalu pula, sekitar 11 juta bayi lahir. Angka ini menurun dibanding pada 2016, dengan 18 juta kelahiran.
Penurunan populasi itu dikarenakan berbagai faktor. Misalnya penduduk yang memutuskan hanya mempunyai satu anak meski pemerintah menekankan anak lebih dari satu.
Angka kelahiran yang rendah pada akhirnya juga dipicu tingkat pernikahan. Menurut laporan itu, jumlah pendaftaran pernikahan di China turun selama tujuh tahun berturut-turut pada 2020, dengan hanya 8,1 juta pasangan yang menikah. Angka ini menurun 12 persen dari 2019.
Saat ini, China tengah menerapkan kebijakan tiga anak dalam satu rumah tangga. Bahkan, mereka akan memberikan insentif khusus bagi warga yang memiliki anak lebih dari satu.
Di tahun-tahun sebelumnya, Beijing pernah menerapkan kebijakan satu anak untuk menghentikan ledakan populasi.
Namun pada 2016, kebijakan tersebut dihapus. Pemerintah kemudian mengizinkan sepasang suami-istri hanya boleh memiliki dua anak untuk menambah populasi lantaran mayoritas penduduk di China berusia lanjut.
Langkah itu juga dinilai gagal lantaran biaya hidup yang semakin melejit di kota-kota China. Alasan tersebut juga yang membuat banyak orang di Negeri Tirai Bambu memilih lajang.
1. Janjikan Insentif Pajak dan Rumah
Xi mengatakan pendidikan dan bimbingan harus diberikan untuk mempromosikan pernikahan dan nilai-nilai keluarga di antara kaum muda usia pernikahan.
Demi terwujudnya program itu, Politbiro menjanjikan insentif pajak dan perumahan bagi pasangan yang ingin memiliki anak.
2. Sediakan Layanan Pengasuh Anak
Menurut laporan RFA, pemerintah China menjanjikan layanan penitipan bayi dan anak yang lebih baik di tingkat lokal.
Selain itu, mereka juga akan mengucurkan pendanaan bagi pembangunan fasilitas layanan penitipan anak di tahun-tahun awal.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
3. Bangun Lingkungan Kerja Ramah Ibu Hamil
Pemerintah China juga berjanji membangun lingkungan kerja ramah kehamilan.
Beijing juga mendorong kerja yang fleksibel, dan tempat kerja yang ramah keluarga dan melindungi hak tenaga kerja dan pekerjaan orang tua.
Namun, perempuan China masih menghadapi hambatan besar dalam mencari kerja. Mereka juga takut hamil karena khawatir bos akan memecatnya karena tengah mengandung.
Pada 2021 lalu, pemerintah menutup ratusan ribu les privat sebagai upaya memangkas bebas pekerjaan rumah dan kegiatan pendidikan di luar jam keluarga dan sekolah.
Sebelumnya, banyak warga China yang menyewa guru privat untuk anak-anaknya karena tekanan pendidikan yang tinggi.
Selain itu, pasar kerja yang menginginkan lulusan dari sekolah terbaik dan anak yang pintar juga menjadi faktor para orang tua melakukan hal tersebut.
Pada 2016, tercatat lebih dari 73 persen siswa di pendidikan dasar dan menengah mengikuti bimbel usai sekolah.
China disebut memasukkan lebih dari selusin layanan kesuburan dalam skema asuransi kesehatan yang didukung pemerintah untuk menambah angka kelahiran.
Beijing akan menanggung 16 layanan medis yang menggunakan teknolog reproduksi terbantu (ART) mulai 26 Maret 2021.
Cakupan ART itu bisa membantu meringankan biaya bagi pasangan yang ingin memiliki anak, tetapi berpenghasilan rendah.
6. Naikkan Usia Pensiun
Perdana Menteri China, Li Keqiang, mengatakan akan menaikkan usia pensiun secara bertahap berdasarkan undang-undang.
Namun, Provinsi Jiangsu lebih dulu menerapkan hal itu. Mulai Maret 2021, karyawan yang memenuhi syarat pensiun bisa mengajukan penundaan pensiun tak kurang dari satu tahun sejak usia pensiun.
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden China,Xi Jinping, menerapkan kebijakan ekstrem terkait 'resesi' seks untuk menambah populasi di negara itu, menyusul angka pertumbuhan penduduk yang terus menurun.
'Resesi seks' menjadi perbincangan usai sebuah laporan dengan judul The Challenges of Law Birth rate in China rilis di Wiley. Frasa 'resesi seks' merujuk pada keengganan warga China untuk menikah dan angka kelahiran yang rendah.
Dalam laporan itu menyebutkan, pada 2021 populasi di China menurun secara signifikan, bahkan terendah sejak 1949.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingkat kelahiran didefinisikan sebagai jumlah tahunan kelahiran hidup per 1000 individu dalam populasi tertentu.
Di China, tercatat 7,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2021. Angka ini tercatat 8,52 per 1.000 orang pada tahun sebelumnya.
Tahun lalu pula, sekitar 11 juta bayi lahir. Angka ini menurun dibanding pada 2016, dengan 18 juta kelahiran.
Penurunan populasi itu dikarenakan berbagai faktor. Misalnya penduduk yang memutuskan hanya mempunyai satu anak meski pemerintah menekankan anak lebih dari satu.
Angka kelahiran yang rendah pada akhirnya juga dipicu tingkat pernikahan. Menurut laporan itu, jumlah pendaftaran pernikahan di China turun selama tujuh tahun berturut-turut pada 2020, dengan hanya 8,1 juta pasangan yang menikah. Angka ini menurun 12 persen dari 2019.
Saat ini, China tengah menerapkan kebijakan tiga anak dalam satu rumah tangga. Bahkan, mereka akan memberikan insentif khusus bagi warga yang memiliki anak lebih dari satu.
Di tahun-tahun sebelumnya, Beijing pernah menerapkan kebijakan satu anak untuk menghentikan ledakan populasi.
Namun pada 2016, kebijakan tersebut dihapus. Pemerintah kemudian mengizinkan sepasang suami-istri hanya boleh memiliki dua anak untuk menambah populasi lantaran mayoritas penduduk di China berusia lanjut.
Langkah itu juga dinilai gagal lantaran biaya hidup yang semakin melejit di kota-kota China. Alasan tersebut juga yang membuat banyak orang di Negeri Tirai Bambu memilih lajang.
1. Janjikan Insentif Pajak dan Rumah
Xi mengatakan pendidikan dan bimbingan harus diberikan untuk mempromosikan pernikahan dan nilai-nilai keluarga di antara kaum muda usia pernikahan.
Demi terwujudnya program itu, Politbiro menjanjikan insentif pajak dan perumahan bagi pasangan yang ingin memiliki anak.
2. Sediakan Layanan Pengasuh Anak
Menurut laporan RFA, pemerintah China menjanjikan layanan penitipan bayi dan anak yang lebih baik di tingkat lokal.
Selain itu, mereka juga akan mengucurkan pendanaan bagi pembangunan fasilitas layanan penitipan anak di tahun-tahun awal.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
6 Jurus Ekstrem Xi Jinping soal 'Resesi Seks' di China
Jurus ekstrem Xi Jinping terkait 'resesi seks' di China. (AFP/WANG ZHAO)
3. Bangun Lingkungan Kerja Ramah Ibu Hamil
Pemerintah China juga berjanji membangun lingkungan kerja ramah kehamilan.
Beijing juga mendorong kerja yang fleksibel, dan tempat kerja yang ramah keluarga dan melindungi hak tenaga kerja dan pekerjaan orang tua.
Namun, perempuan China masih menghadapi hambatan besar dalam mencari kerja. Mereka juga takut hamil karena khawatir bos akan memecatnya karena tengah mengandung.
Pada 2021 lalu, pemerintah menutup ratusan ribu les privat sebagai upaya memangkas bebas pekerjaan rumah dan kegiatan pendidikan di luar jam keluarga dan sekolah.
Sebelumnya, banyak warga China yang menyewa guru privat untuk anak-anaknya karena tekanan pendidikan yang tinggi.
Selain itu, pasar kerja yang menginginkan lulusan dari sekolah terbaik dan anak yang pintar juga menjadi faktor para orang tua melakukan hal tersebut.
Pada 2016, tercatat lebih dari 73 persen siswa di pendidikan dasar dan menengah mengikuti bimbel usai sekolah.
China disebut memasukkan lebih dari selusin layanan kesuburan dalam skema asuransi kesehatan yang didukung pemerintah untuk menambah angka kelahiran.
Beijing akan menanggung 16 layanan medis yang menggunakan teknolog reproduksi terbantu (ART) mulai 26 Maret 2021.
Cakupan ART itu bisa membantu meringankan biaya bagi pasangan yang ingin memiliki anak, tetapi berpenghasilan rendah.
6. Naikkan Usia Pensiun
Perdana Menteri China, Li Keqiang, mengatakan akan menaikkan usia pensiun secara bertahap berdasarkan undang-undang.
Namun, Provinsi Jiangsu lebih dulu menerapkan hal itu. Mulai Maret 2021, karyawan yang memenuhi syarat pensiun bisa mengajukan penundaan pensiun tak kurang dari satu tahun sejak usia pensiun.