"Di Korut, Anda masih tak dapat memiliki makan meski Anda bekerja seharian. Tidak peduli seberapa banyak saya membayar pajak, pemasukan di sini [AS] tinggi. Apakah saya harus menyebutnya sebagai surga di bumi? Saya merasa saya pergi ke surga setelah hidup di Korut yang seperti neraka," ujar Kang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diberitakan Radio Free Asia, Kang sendiri memiliki pekerjaan utama di laboratorium gigi Korea. Ia kemudian bekerja sif malam untuk membantu masyarakat difabel.
Kang juga harus bekerja di toko kelontong Korea pada akhir pekan.
"Saya jarang punya waktu untuk pulang ke rumah. Tempat kerja saya pada siang hari, malam hari, dan rumah saya berjarak bak segitiga. Saya pergi bolak-balik ke tempat kerja saya, dan saya pergi ke rumah satu kali sepekan," tutur Kang.
Meski begitu, Kang mengatakan hidupnya di AS masih jauh lebih nyaman ketimbang di Korut.
"Di Korut, Anda masih tak dapat memiliki makan meski Anda bekerja seharian. Tidak peduli seberapa banyak saya membayar pajak, pemasukan di sini [AS] tinggi. Apakah saya harus menyebutnya sebagai surga di bumi? Saya merasa saya pergi ke surga setelah hidup di Korut yang seperti neraka."Kang Mi Young
Sebelum berhasil kabur ke AS, Kang harus melewati berbagai siksaan. Ia dan keluarganya sempat dua kali tertangkap kala berupaya kabur dari Korut.
Kang pernah tertangkap dan dimasukkan ke kamp penjara, mengalami siksaan dan kelaparan. Ia hanya bisa bebas setelah kerabatnya menjual rumah keluarga dan menyogok pejabat kamp.
Pada percobaan ketiga, keluarga Kang berhasil kabur ke rumah aman di Kota Shenyang, China.
Pemilik rumah kemudian mengenalkan mereka kepada seorang broker yang berjanji menolong mereka pergi ke Korea Selatan lewat Asia Tenggara.
Para pembelot Korut pernah ditipu broker di China dan dipaksa melakukan hubungan seks, baca di halaman berikutnya...
Ditipu dan Dipaksa Hubungan Seks dengan Broker di China
Di China sendiri, membantu warga Korut untuk kabur merupakan bisnis besar. Namun, banyak broker yang memanfaatkan pengungsi Korut.
Kang Mi Young sendiri sempat ditolong oleh seorang pria Korsel, yang mendapatkan uang karena menolong warga Korut di Shenyang. Para warga itu ia arahkan ke broker lain yang dapat membantu mereka ke Thailand.
Kang mengaku ia dan pengungsi perempuan lain sempat dipaksa melakukan seks dengan broker kala singgah di rumah aman.
Broker tersebut kemudian membawanya ke rumah aman lain di Qingdao. Di sana, ia harus menulis kontrak yang membuatnya dioper ke broker lain, dan diancam bakal dibunuh jika menolak.
Kang kemudian menandatangani kontrak tersebut. Dalam kontrak itu, Kang diwajibkan membayar biaya bantuan kabur sebesar US$5.200 atau setara Rp77 juta dalam waktu setahun.
Broker itu berjanji kepada Kang bakal memberikan kesempata kerja dengan bayaran US$3.725 atau setara Rp55 juta per bulan. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang rata-rata gaji di Korsel.
Namun, Kang ragu dan kemudian memutuskan kabur ke Thailand lewat bantuan organisasi anonim.
Saat tiba di Thailand, Kang kemudian ditempatkan di pusat pengungsi.
Awalnya, Kang mengaku berencana tinggal di Korsel, tetapi pengungsi lain dari Korut mengatakan ia mencoba mendapatkan perlindungan di AS. Kang kemudian memutuskan mencoba pergi ke AS.
Setelah dua tahun berada di pusat pengungsi Thailand, pendaftaran Kang diterima. Kang dan keluarganya lalu pergi ke Utah
Kang sendiri merupakan satu dari ratusan warga Korut yang memutuskan menetap di AS.
Berdasarkan laporan Komite Hak Asasi Manusia di Korut, sejak Washington mengizinkan pengungsi Pyongyang menetap pada 2006, negara itu menerima 220 warga Korut.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pembelot dari Korea Utara yang kini tinggal di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat selama hampir empat tahun menyebut AS sebagai surga dunia.
Padahal, Kang Mi Young (nama samaran) harus kerja keras 'banting tulang' alias 'kerja rodi' dan nyaris tak ada waktu istirahat di 'rumah' barunya itu.
"Di Korut, Anda masih tak dapat memiliki makan meski Anda bekerja seharian. Tidak peduli seberapa banyak saya membayar pajak, pemasukan di sini [AS] tinggi. Apakah saya harus menyebutnya sebagai surga di bumi? Saya merasa saya pergi ke surga setelah hidup di Korut yang seperti neraka," ujar Kang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diberitakan Radio Free Asia, Kang sendiri memiliki pekerjaan utama di laboratorium gigi Korea. Ia kemudian bekerja sif malam untuk membantu masyarakat difabel.
Kang juga harus bekerja di toko kelontong Korea pada akhir pekan.
"Saya jarang punya waktu untuk pulang ke rumah. Tempat kerja saya pada siang hari, malam hari, dan rumah saya berjarak bak segitiga. Saya pergi bolak-balik ke tempat kerja saya, dan saya pergi ke rumah satu kali sepekan," tutur Kang.
Meski begitu, Kang mengatakan hidupnya di AS masih jauh lebih nyaman ketimbang di Korut.
"Di Korut, Anda masih tak dapat memiliki makan meski Anda bekerja seharian. Tidak peduli seberapa banyak saya membayar pajak, pemasukan di sini [AS] tinggi. Apakah saya harus menyebutnya sebagai surga di bumi? Saya merasa saya pergi ke surga setelah hidup di Korut yang seperti neraka."Kang Mi Young
Sebelum berhasil kabur ke AS, Kang harus melewati berbagai siksaan. Ia dan keluarganya sempat dua kali tertangkap kala berupaya kabur dari Korut.
Kang pernah tertangkap dan dimasukkan ke kamp penjara, mengalami siksaan dan kelaparan. Ia hanya bisa bebas setelah kerabatnya menjual rumah keluarga dan menyogok pejabat kamp.
Pada percobaan ketiga, keluarga Kang berhasil kabur ke rumah aman di Kota Shenyang, China.
Pemilik rumah kemudian mengenalkan mereka kepada seorang broker yang berjanji menolong mereka pergi ke Korea Selatan lewat Asia Tenggara.
Para pembelot Korut pernah ditipu broker di China dan dipaksa melakukan hubungan seks, baca di halaman berikutnya...
Ditipu dan Dipaksa Hubungan Seks dengan Broker di China
Pagar jeruji kawat yang membatasi wilayah China dan Korut. (AFP PHOTO / Chandan KHANNA)
Ditipu dan Dipaksa Hubungan Seks dengan Broker di China
Di China sendiri, membantu warga Korut untuk kabur merupakan bisnis besar. Namun, banyak broker yang memanfaatkan pengungsi Korut.
Kang Mi Young sendiri sempat ditolong oleh seorang pria Korsel, yang mendapatkan uang karena menolong warga Korut di Shenyang. Para warga itu ia arahkan ke broker lain yang dapat membantu mereka ke Thailand.
Kang mengaku ia dan pengungsi perempuan lain sempat dipaksa melakukan seks dengan broker kala singgah di rumah aman.
Broker tersebut kemudian membawanya ke rumah aman lain di Qingdao. Di sana, ia harus menulis kontrak yang membuatnya dioper ke broker lain, dan diancam bakal dibunuh jika menolak.
Kang kemudian menandatangani kontrak tersebut. Dalam kontrak itu, Kang diwajibkan membayar biaya bantuan kabur sebesar US$5.200 atau setara Rp77 juta dalam waktu setahun.
Broker itu berjanji kepada Kang bakal memberikan kesempata kerja dengan bayaran US$3.725 atau setara Rp55 juta per bulan. Angka tersebut lebih tinggi ketimbang rata-rata gaji di Korsel.
Namun, Kang ragu dan kemudian memutuskan kabur ke Thailand lewat bantuan organisasi anonim.
Saat tiba di Thailand, Kang kemudian ditempatkan di pusat pengungsi.
Awalnya, Kang mengaku berencana tinggal di Korsel, tetapi pengungsi lain dari Korut mengatakan ia mencoba mendapatkan perlindungan di AS. Kang kemudian memutuskan mencoba pergi ke AS.
Setelah dua tahun berada di pusat pengungsi Thailand, pendaftaran Kang diterima. Kang dan keluarganya lalu pergi ke Utah
Kang sendiri merupakan satu dari ratusan warga Korut yang memutuskan menetap di AS.
Berdasarkan laporan Komite Hak Asasi Manusia di Korut, sejak Washington mengizinkan pengungsi Pyongyang menetap pada 2006, negara itu menerima 220 warga Korut.