Di waktu yang sama, Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin akan menjadi pelaksana tugas presiden.
Beberapa pengamat menilai penerus Putin adalah wakil ketua dewan keamanan federasi Rusia, Dmitry Medvedev.
Medvedev pernah menjabat sebagai Presiden Rusia pada 2008 hingga 2012. Ia juga sempat menjadi Perdana Menteri dari 2012 hingga 2020.
"Dmitry Anatolyevich Medvedev seorang politisi Rusia yang telah menjadi wakil ketua Dewan Keamanan Rusia sejak 2020," kata pengamat Hubungan Internasional, Suzie Sudarman, kepada CNNIndonesia.com, saat ditanya siapa pengganti Putin, Kamis (15/9).
Namun, pengamat lain mengatakan sejauh ini tak ada satu pun yang mengetahui siapa penerus Putin.
"Pada dasarnya tak ada yang tahu [siapa penerus Putin]. Jika seseorang memulai dengan Medvedev sebagai penerus, itu akan tampak sebagai serangan politik ke dia," ujar pengamat politik, Tatiana Stanovaya, kepada Al Jazeera, Senin (12/9).
Stanavaya mengungkapkan tak ada yang ingin tampil sebagai penerus karena akan membuat posisi mereka rentan.
"Namun, jika sesuatu terjadi ke Putin di kemudian hari, satu atau dua tahun lagi, risiko destabilisasi akan lebih banyak," jelas Stanavoya.
Ia juga menilai, publik akan melihat pertikaian, sementara siloviki memiliki lebih sedikit kesempatan mempertahankan inisiatifnya.
"Tahun depan situasinya mungkin lebih berbeda dan sulit," imbuh Stanavoya.
Penilaian lain muncul dari Suzie. Jika Putin meninggal tiba-tiba Rusia memiliki beban ekonomi yang berat.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Perang Bisa Tak Berlanjut
Selain itu perang yang berkecamuk di Ukraina juga kemungkinan terhenti. Rusia menginvasi negara tetangganya pada Februari lalu.
Hari-hari setelah itu, ledakan dan pertempuran terus terjadi hingga sekarang.
"[Perang] ya tidak bisa lanjutkan perang," kata pengamat Hubungan Internasional, Suzie Sudarman.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan jika Putin meninggal birokrasi baru tak mampu membantu koalisi.
"Dalam keadaan sulit tersebut, akan terbangun koalisi longgar, yang cenderung melunakkan posisi Rusia dalam menangani urusan Ukraina dan NATO," ujar Rezasyah.
Rusia menginvasi Ukraina, menurut Rezasyah, karena cemas negara itu akan bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Jika bergabung, negara itu disebut akan menjadi pangkalan militer aliansi ini.
Putin memegang kendali di Rusia lebih dari dua dekade. Ia menjadi pemimpin dari 2000 hingga 2008.
Kemudian ia menjadi presiden Rusia lagi pada 2012 hingga sekarang.
Di waktu yang sama, Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin akan menjadi pelaksana tugas presiden.
Beberapa pengamat menilai penerus Putin adalah wakil ketua dewan keamanan federasi Rusia, Dmitry Medvedev.
Medvedev pernah menjabat sebagai Presiden Rusia pada 2008 hingga 2012. Ia juga sempat menjadi Perdana Menteri dari 2012 hingga 2020.
"Dmitry Anatolyevich Medvedev seorang politisi Rusia yang telah menjadi wakil ketua Dewan Keamanan Rusia sejak 2020," kata pengamat Hubungan Internasional, Suzie Sudarman, kepada CNNIndonesia.com, saat ditanya siapa pengganti Putin, Kamis (15/9).
Namun, pengamat lain mengatakan sejauh ini tak ada satu pun yang mengetahui siapa penerus Putin.
"Pada dasarnya tak ada yang tahu [siapa penerus Putin]. Jika seseorang memulai dengan Medvedev sebagai penerus, itu akan tampak sebagai serangan politik ke dia," ujar pengamat politik, Tatiana Stanovaya, kepada Al Jazeera, Senin (12/9).
Stanavaya mengungkapkan tak ada yang ingin tampil sebagai penerus karena akan membuat posisi mereka rentan.
"Namun, jika sesuatu terjadi ke Putin di kemudian hari, satu atau dua tahun lagi, risiko destabilisasi akan lebih banyak," jelas Stanavoya.
Ia juga menilai, publik akan melihat pertikaian, sementara siloviki memiliki lebih sedikit kesempatan mempertahankan inisiatifnya.
"Tahun depan situasinya mungkin lebih berbeda dan sulit," imbuh Stanavoya.
Penilaian lain muncul dari Suzie. Jika Putin meninggal tiba-tiba Rusia memiliki beban ekonomi yang berat.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Perang Bisa Tak Berlanjut
Vladimir Putin dirumorkan sakit kanker. (AP/Alexander Zemlianichenko)
Perang Bisa Tak Berlanjut
Selain itu perang yang berkecamuk di Ukraina juga kemungkinan terhenti. Rusia menginvasi negara tetangganya pada Februari lalu.
Hari-hari setelah itu, ledakan dan pertempuran terus terjadi hingga sekarang.
"[Perang] ya tidak bisa lanjutkan perang," kata pengamat Hubungan Internasional, Suzie Sudarman.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan jika Putin meninggal birokrasi baru tak mampu membantu koalisi.
"Dalam keadaan sulit tersebut, akan terbangun koalisi longgar, yang cenderung melunakkan posisi Rusia dalam menangani urusan Ukraina dan NATO," ujar Rezasyah.
Rusia menginvasi Ukraina, menurut Rezasyah, karena cemas negara itu akan bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Jika bergabung, negara itu disebut akan menjadi pangkalan militer aliansi ini.
Putin memegang kendali di Rusia lebih dari dua dekade. Ia menjadi pemimpin dari 2000 hingga 2008.
Kemudian ia menjadi presiden Rusia lagi pada 2012 hingga sekarang.