Profil Pemimpin Ikhwanul Muslimin Yusuf Al-Qaradawi yang Tutup Usia

pwn | CNN Indonesia
Selasa, 27 Sep 2022 08:35 WIB
Semasa hidupnya, Yusuf al-Qadarawi dalam pelarian dan pernah dipenjara berkali-kali karena terlibat Ikhwanul Muslimin yang dianggap Mesir kelompok teroris. Semasa hidupnya, Yusuf al-Qadarawi dalam pelarian dan pernah dipenjara berkali-kali karena terlibat Ikhwanul Muslimin yang dianggap Mesir kelompok teroris. (Foto: AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Yusuf al-Qaradawi, pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir meninggal dunia di usia 96 tahun.

"Imam Yusuf al-Qaradawi meninggal dunia usai mendedikasikan hidupnya untuk mengenalkan Islam dan membela komunitasnya," demikian pernyataan dari akun Twitter Qaradawi pada Senin (26/9), dikutip dari AFP.

Semasa hidupnya, Qaradawi berkali-kali dipenjara di Mesir karena terlibat dengan Ikhwanul Muslimin yang dianggap Kairo kelompok teroris. Ia kemudian mendapatkan kewarganegaraan di Qatar dan menetap di sana sejak 1961.

Sebagaimana diberitakan Britannica, gerakan Ikhwanul Muslimin bertujuan untuk mengembalikan Al-Quran dan Hadis sebagai dasar kehidupan sosial umat Muslim. Gerakan ini menyebar di Mesir, Sudah, Suriah, Palestina, Lebanon, dan Afrika Utara.

Namun, relasi Ikhwanul Muslimin dengan pemerintah Mesir memburuk pada 1954. Kala itu, muncul upaya pembunuhan ke mantan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser membuat gerakan tersebut menjadi sasaran penindasan paksa.

[Gambas:Video CNN]

Sebanyak enam pemimpin gerakan ini diadili dan dieksekusi karena dituduh berkhianat, sementara banyak dari mereka yang dipenjara.

Qaradawi, yang notabene merupakan petinggi Ikhwanul Muslimin, tak luput dari penindasan tersebut.

Pada 1962, Qaradawi pergi ke Doha, Qatar, dan membangun hubungan erat dengan pemimpin negara tersebut.

Al-Arabiya melaporkan Qaradawi kemudian mendapatkan kewarganegaraan Qatar dari Syekh Khalifa bin Hamad Al Thani. Al Thani merupakan salah satu pewaris kerajaan Qatar kala itu.

Relasi yang baik antara Qaradawi dan Qatar juga membuatnya memiliki sejumlah keistimewaan, seperti diizinkan menyewa villa dan bangunan untuk kepengurusan Organisasi Dewan Keluarga Penguasa. Organisasi tersebut merupakan milik keluarga Al Thani.

Meski begitu, Qaradawi dikenal sebagai tokoh ekstremis yang memiliki pandangan kontroversial terkait perempuan dan jihad. Ia juga dikenal sebagai tokoh anti-Yahudi zionis.

Qaradawi kerap menyerukan jihad bersenjata dalam pidatonya. Ia bahkan sempat menegaskan bahwa "bom bunuh diri adalah keharusan."

Pada 2005, Qaradawi sempat mengeluarkan fatwa yang mengajak perempuan menjadi pelaku bom bunuh diri.

Di tahun yang sama, Qaradawi mengungkapkan tindakan bom bunuh diri di Palestina merupakan mati syahid atas nama Tuhan, dalam wawancara bersama BBC.

"Saya mendukung operasi mati syahid, dan saya bukan satu-satunya," tuturnya, dikutip dari Arab News.

Ia juga menyerukan kepada umat Muslim yang tidak bisa bertempur untuk memberikan dukungan finansial kepada mujahidin (orang-orang yang terkait dengan jihad) di seluruh tanah asing.

Tak hanya itu, pada 2009, Qaradawi sempat menyerukan pembunuhan terhadap umat Yahudi.

"Bunuh mereka semua [Zionis], sampai yang terakhir," kata Qaradawi.

Berpindah ke pandangannya kepada perempuan, Qaradawi pernah menuduh banyak perempuan menjadi korban pelecehan seksual karena cara berpakaian yang moralitasnya. Baginya, para perempuan itu "mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan."

Pandangan dan pernyataan kontroversial ini membuat Qaradawi masuk dalam daftar hitam di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa. Prancis bahkan melarang Qaradawi masuk ke negara itu.

Selain itu, Qaradawi masuk dalam daftar orang yang tak diinginkan di Austria, Inggris, Tunisia, Algeria.

Ia juga sempat masuk dalam daftar orang yang tak diinginkan di Suriah, Irak, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.



(pwn/rds)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER