Abdulaziz lahir pada November 1880. Ia merupakan anak dari Abdul Rahman bin Faisal dan Sara Ahmad Al Kabir Sudayri.
Jauh sebelum Abdulaziz lahir, kerajaan Islam tengah meluas dari Spanyol ke sebagian India dan China sekitar tahun 700 Masehi. Perdagangan berkembang pesat di kawasan ini. Islam juga semakin berkembang pada abad ke-17.
Lalu pada awal abad ke-18, seorang cendekiawan bernama Muhammad ibn Abdul Wahhab menyarankan Arab ke bentuk Islam yang murni atau yang disebut wahabi.
Banyak ajaran dia yang dianggap radikal dan mengancam basis kekuasaan ulama dan pemimpin agama setempat. Ibn Abdul Wahhan kemudian diusir dan mencari perlindungan di Diriyah, atau sekarang bernama Riyadh.
Di kota itulah ia bertemu pemimpin Diriyah Muhammad bin Saud. Mereka lalu sepakat mendedikasikan diri mereka untuk mengembalikan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim.
Dalam semangat itu, Ibn Saud mendirikan Negara Saudi Pertama pada 1727, demikian dikutip Saudi Embassy.
Pada 1788, Negara Saudi Pertama menguasai seluruh dataran tinggi tengah yang dikenal sebagai Najd. Lalu awal abad ke-19, kekuasaan dia meluas ke sebagian besar Semenanjung Arab, termasuk Mekkah dan Madinah.
Popularitas dan kesuksesan penguasa Al-Saud menimbulkan kecurigaan Kesultanan Utsmaniyah atau Dinasti Ottoman, sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah dan Afrika Utara saat itu.
Pada 1818, Utsmaniyah mengirimkan pasukan yang dilengkapi artileri modern ke wilayah barat Arabia. Tentara Ottoman mengepung Diriyah dan berhasil meratakan kota.
Pada 1824, keluarga Al-Saud mendapatkan kembali kendali politik di Arab tengah. Penguasa Saudi Turki bin Abdullah Al-Saud memindahkan ibu kotanya ke Riyadh dan mendirikan Negara Saudi Kedua.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Selama 11 tahun pemerintahan, Turki berhasil merebut kembali sebagian besar tanah yang hilang. Saat ia memperluas kekuasaannya, Turki mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa rakyatnya menikmati hak dan merasa sejahtera.
Di bawah Turki dan putranya, Faisal, Negara Saudi Kedua menikmati masa damai dan kemakmuran. Selain itu, perdagangan dan pertanian berkembang.
Namun, ketenangan itu hancur pada 1865 saat Utsmaniyah memperluas kerajaan Timur Tengahnya ke Semenanjung Arab. Tentara Utsmaniyah merebut sebagian Negara Saudi, yang saat itu diperintah oleh anak Faisal, Abdulrahman.
Dengan dukungan Ottoman, keluarga Al-Rashid dari Hail melakukan upaya bersama untuk menggulingkan Negara Saudi.
Pasukan itu mempersulit Abdulrahman bin Faisal Al-Saud. Ia terpaksa meninggalkan perjuangan untuk mencari bantuan. Ia beserta istri dan anaknya, Abdulaziz, lalu melakukan perjalanan ke Kuwait dan tinggal hingga 1902.
Abdulaziz menunjukkan jejaknya sebagai pemimpin alami dan pejuang yang tangguh untuk tujuan Islam.
Abdulaziz muda bertekad mendapatkan kembali warisan dari keluarga Al-Rasyid, yang telah mengambil alih Riyadh dan mendirikan pemerintah di sana.
Pada 1902, Abdulaziz dan 40 pasukannya melakukan pawai malam ke Riyadh untuk merebut kembali garnisun kota, yang dikenal Benteng Masmak. Peristiwa legendaris ini menandai awal terbentuknya negara Saudi modern.
Setelah mendirikan Riyadh sebagai markas besarnya, Abdulaziz merebut semua Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah pada 1924 hingga 1925. Dalam prosesnya, ia menyatukan suku-suku yang bertikai menjadi satu negara.
Pada tanggal 23 September 1932, negara itu dinamai Kerajaan Arab Saudi, sebuah negara Islam dengan bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya dan Al-Qur'an sebagai konstitusinya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Arab Saudi mulanya bagian dari Jazirah Arab. Usai melalui serangkaian penaklukan akhirnya negara ini berdiri. Mengapa diberi nama Arab Saudi?
Nama Arab Saudi tak lepas dari nama pendiri negara ini yakni keluarga Al Saud.
Abdulaziz lahir pada November 1880. Ia merupakan anak dari Abdul Rahman bin Faisal dan Sara Ahmad Al Kabir Sudayri.
Jauh sebelum Abdulaziz lahir, kerajaan Islam tengah meluas dari Spanyol ke sebagian India dan China sekitar tahun 700 Masehi. Perdagangan berkembang pesat di kawasan ini. Islam juga semakin berkembang pada abad ke-17.
Lalu pada awal abad ke-18, seorang cendekiawan bernama Muhammad ibn Abdul Wahhab menyarankan Arab ke bentuk Islam yang murni atau yang disebut wahabi.
Banyak ajaran dia yang dianggap radikal dan mengancam basis kekuasaan ulama dan pemimpin agama setempat. Ibn Abdul Wahhan kemudian diusir dan mencari perlindungan di Diriyah, atau sekarang bernama Riyadh.
Di kota itulah ia bertemu pemimpin Diriyah Muhammad bin Saud. Mereka lalu sepakat mendedikasikan diri mereka untuk mengembalikan ajaran Islam yang murni kepada komunitas Muslim.
Dalam semangat itu, Ibn Saud mendirikan Negara Saudi Pertama pada 1727, demikian dikutip Saudi Embassy.
Pada 1788, Negara Saudi Pertama menguasai seluruh dataran tinggi tengah yang dikenal sebagai Najd. Lalu awal abad ke-19, kekuasaan dia meluas ke sebagian besar Semenanjung Arab, termasuk Mekkah dan Madinah.
Popularitas dan kesuksesan penguasa Al-Saud menimbulkan kecurigaan Kesultanan Utsmaniyah atau Dinasti Ottoman, sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah dan Afrika Utara saat itu.
Pada 1818, Utsmaniyah mengirimkan pasukan yang dilengkapi artileri modern ke wilayah barat Arabia. Tentara Ottoman mengepung Diriyah dan berhasil meratakan kota.
Pada 1824, keluarga Al-Saud mendapatkan kembali kendali politik di Arab tengah. Penguasa Saudi Turki bin Abdullah Al-Saud memindahkan ibu kotanya ke Riyadh dan mendirikan Negara Saudi Kedua.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Kenapa Arab Saudi Menggunakan Nama Saudi?
Penguasa Arab Saudi saat ini, Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. (REUTERS/Handout )
Selama 11 tahun pemerintahan, Turki berhasil merebut kembali sebagian besar tanah yang hilang. Saat ia memperluas kekuasaannya, Turki mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa rakyatnya menikmati hak dan merasa sejahtera.
Di bawah Turki dan putranya, Faisal, Negara Saudi Kedua menikmati masa damai dan kemakmuran. Selain itu, perdagangan dan pertanian berkembang.
Namun, ketenangan itu hancur pada 1865 saat Utsmaniyah memperluas kerajaan Timur Tengahnya ke Semenanjung Arab. Tentara Utsmaniyah merebut sebagian Negara Saudi, yang saat itu diperintah oleh anak Faisal, Abdulrahman.
Dengan dukungan Ottoman, keluarga Al-Rashid dari Hail melakukan upaya bersama untuk menggulingkan Negara Saudi.
Pasukan itu mempersulit Abdulrahman bin Faisal Al-Saud. Ia terpaksa meninggalkan perjuangan untuk mencari bantuan. Ia beserta istri dan anaknya, Abdulaziz, lalu melakukan perjalanan ke Kuwait dan tinggal hingga 1902.
Abdulaziz menunjukkan jejaknya sebagai pemimpin alami dan pejuang yang tangguh untuk tujuan Islam.
Abdulaziz muda bertekad mendapatkan kembali warisan dari keluarga Al-Rasyid, yang telah mengambil alih Riyadh dan mendirikan pemerintah di sana.
Pada 1902, Abdulaziz dan 40 pasukannya melakukan pawai malam ke Riyadh untuk merebut kembali garnisun kota, yang dikenal Benteng Masmak. Peristiwa legendaris ini menandai awal terbentuknya negara Saudi modern.
Setelah mendirikan Riyadh sebagai markas besarnya, Abdulaziz merebut semua Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah pada 1924 hingga 1925. Dalam prosesnya, ia menyatukan suku-suku yang bertikai menjadi satu negara.
Pada tanggal 23 September 1932, negara itu dinamai Kerajaan Arab Saudi, sebuah negara Islam dengan bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya dan Al-Qur'an sebagai konstitusinya.