Parlemen Setujui Investigasi Dugaan China Gerecoki Pemilu Kanada
CNN Indonesia
Kamis, 17 Nov 2022 17:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto ilustrasi. Pemilu Kanada 2022. (Alexis Aubin / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Parlemen Kanada sepakat menyelidiki dugaan China beserta agen-agen intelijennya ikut campur dalam proses pemilu Kanada pada 2019 silam.
Langkah itu diambil setelah anggota parlemen kecewa dengan sikap Pemerintah Kanada yang tidak melakukan tindakan nyata untuk mengatasi masalah tersebut. Pasalnya, badan intelijen disebut telah memberi informasi mengenai hal itu kepada Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan menteri kabinet sejak awal tahun.
Keputusan untuk melakukan penyelidikan itu pun diambil saat parlemen mengadakan rapat darurat pada Senin (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada yang diusir dari Kanada, tidak ada yang dituntut. Tidak ada investigasi nyata yang dilakukan dan tidak ada tindakan yang diambil dari pihak pemerintah untuk merespons secara legislatif," ucap anggota parlemen Konservatif Mincahel Cooper, seperti dikutip CBC News, Kamis (17/11).
"Campur tangan ini tidak dapat ditoleransi. Tidak dapat diterima," tegas dia.
Anggota parlemen Liberal Greg Fergus mengatakan penyelidikan itu bakal dilakukan oleh Komite Keamanan Nasional dan Intelijen Anggota Parlemen (NSICOP). Komite itu merupakan kelompok rahasia anggota parlemen yang meninjau masalah keamanan nasional.
Nantinya, mereka akan mempelajari dokumen laporan campur tangan China yang diberikan intelijen kepada pemerintah tersebut.
"Akhirnya Konservatif tergerak karena [kasus] campur tangan asing," kata anggota parlemen Liberal Jennifer O'Connell, menyindir Partai Konservatif yang sebelumnya enggan terlibat dalam masalah itu.
Komite selanjutnya bakal memanggil saksi-saksi untuk mendalami kasus itu. Saksi tersebut di antaranya pejabat dari CSIS, Elections Canada, dan Satuan Tugas Ancaman Keamanan dan Intelijen terhadap Pemilu (SITE).
Selain itu, komite juga bakal memanggil Menteri Urusan Antarpemerintah Dominic LeBlanc, Menteri Luar Negeri Melanie Joly, dan penasihat keamanan nasional untuk perdana menteri.
China diduga berada di balik kampanye besar-besaran "inferensi asing" saat proses pemilu Kanada, menurut laporan Global News.
Kampanye pemilu 2019 itu dilaporkan berisi permainan belakang yang ditujukan untuk menempatkan "agen [China] ke dalam anggota parlemen [Kanada] guna memengaruhi kebijakan."
Kampanye itu juga termasuk upaya China mengooptasi dan menjatuhkan mantan pejabat Kanada untuk mendapatkan pengaruh dalam Ottawa. Kampanye juga diduga dilakukan untuk menghukum politisi Kanada yang dipandang China sebagai ancaman terhadap kepentingan mereka.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Global News melaporkan bahwa Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan sejumlah menteri kabinet telah diberi arahan oleh badan intelijen mengenai tuduhan campur tangan asing ini pada Januari lalu.
Trudeau diberitahu bahwa konsulat China di Toronto memberikan uang kepada setidaknya sebelas kandidat pemilu federal dan agen-agen Beijing yang bekerja sebagai staf kampanye.
Namun Trudeau disebut tak banyak bertindak untuk menghentikan campur tangan China yang diduga bertujuan "merusak demokrasi Kanada" ini.
Ia pun dikecam salah satunya oleh Cooper serta pemimpin Konservatif Pierre Poilievre.
Poilievre mengatakan prosedur dan komite urusan DPR (PROC) perlu memperhatikan "apa yang diketahui perdana menteri, apa yang akan dia lakukan mengenai hal itu dan bagaimana kita akan melindungi demokrasi kita dari campur tangan asing."
Trudeau sendiri pada pekan lalu mengatakan bahwa ada beberapa aktor negara yang bertekad ikut campur dalam urusan demokrasi.
"Sayangnya, kami melihat bahwa negara-negara, aktor negara dari seluruh dunia, apakah itu China atau lainnya, terus memainkan permainan agresif dengan institusi kami, dengan demokrasi kami," kata Trudeau.
"Kita perlu memastikan bahwa mereka yang bertugas menjaga keamanan kita setiap hari mampu melakukan itu, dan itulah sebabnya kami akan terus berinvestasi dalam beberapa alat dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan itu," ujarnya sambil merujuk untuk berinvestasi di badan-badan intelijen.
Jakarta, CNN Indonesia --
Parlemen Kanada sepakat menyelidiki dugaan China beserta agen-agen intelijennya ikut campur dalam proses pemilu Kanada pada 2019 silam.
Langkah itu diambil setelah anggota parlemen kecewa dengan sikap Pemerintah Kanada yang tidak melakukan tindakan nyata untuk mengatasi masalah tersebut. Pasalnya, badan intelijen disebut telah memberi informasi mengenai hal itu kepada Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan menteri kabinet sejak awal tahun.
Keputusan untuk melakukan penyelidikan itu pun diambil saat parlemen mengadakan rapat darurat pada Senin (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada yang diusir dari Kanada, tidak ada yang dituntut. Tidak ada investigasi nyata yang dilakukan dan tidak ada tindakan yang diambil dari pihak pemerintah untuk merespons secara legislatif," ucap anggota parlemen Konservatif Mincahel Cooper, seperti dikutip CBC News, Kamis (17/11).
"Campur tangan ini tidak dapat ditoleransi. Tidak dapat diterima," tegas dia.
Anggota parlemen Liberal Greg Fergus mengatakan penyelidikan itu bakal dilakukan oleh Komite Keamanan Nasional dan Intelijen Anggota Parlemen (NSICOP). Komite itu merupakan kelompok rahasia anggota parlemen yang meninjau masalah keamanan nasional.
Nantinya, mereka akan mempelajari dokumen laporan campur tangan China yang diberikan intelijen kepada pemerintah tersebut.
"Akhirnya Konservatif tergerak karena [kasus] campur tangan asing," kata anggota parlemen Liberal Jennifer O'Connell, menyindir Partai Konservatif yang sebelumnya enggan terlibat dalam masalah itu.
Komite selanjutnya bakal memanggil saksi-saksi untuk mendalami kasus itu. Saksi tersebut di antaranya pejabat dari CSIS, Elections Canada, dan Satuan Tugas Ancaman Keamanan dan Intelijen terhadap Pemilu (SITE).
Selain itu, komite juga bakal memanggil Menteri Urusan Antarpemerintah Dominic LeBlanc, Menteri Luar Negeri Melanie Joly, dan penasihat keamanan nasional untuk perdana menteri.
China diduga berada di balik kampanye besar-besaran "inferensi asing" saat proses pemilu Kanada, menurut laporan Global News.
Kampanye pemilu 2019 itu dilaporkan berisi permainan belakang yang ditujukan untuk menempatkan "agen [China] ke dalam anggota parlemen [Kanada] guna memengaruhi kebijakan."
Kampanye itu juga termasuk upaya China mengooptasi dan menjatuhkan mantan pejabat Kanada untuk mendapatkan pengaruh dalam Ottawa. Kampanye juga diduga dilakukan untuk menghukum politisi Kanada yang dipandang China sebagai ancaman terhadap kepentingan mereka.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Masukan Intelijen ke Justin Trudeau
PM Kanada Justin Trudeau disebut sempat protes ke Presiden China soal dugan Beijing intervensi Pemilu Kanada. (AFP/Kazuhiro Nogi)
Global News melaporkan bahwa Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan sejumlah menteri kabinet telah diberi arahan oleh badan intelijen mengenai tuduhan campur tangan asing ini pada Januari lalu.
Trudeau diberitahu bahwa konsulat China di Toronto memberikan uang kepada setidaknya sebelas kandidat pemilu federal dan agen-agen Beijing yang bekerja sebagai staf kampanye.
Namun Trudeau disebut tak banyak bertindak untuk menghentikan campur tangan China yang diduga bertujuan "merusak demokrasi Kanada" ini.
Ia pun dikecam salah satunya oleh Cooper serta pemimpin Konservatif Pierre Poilievre.
Poilievre mengatakan prosedur dan komite urusan DPR (PROC) perlu memperhatikan "apa yang diketahui perdana menteri, apa yang akan dia lakukan mengenai hal itu dan bagaimana kita akan melindungi demokrasi kita dari campur tangan asing."
Trudeau sendiri pada pekan lalu mengatakan bahwa ada beberapa aktor negara yang bertekad ikut campur dalam urusan demokrasi.
"Sayangnya, kami melihat bahwa negara-negara, aktor negara dari seluruh dunia, apakah itu China atau lainnya, terus memainkan permainan agresif dengan institusi kami, dengan demokrasi kami," kata Trudeau.
"Kita perlu memastikan bahwa mereka yang bertugas menjaga keamanan kita setiap hari mampu melakukan itu, dan itulah sebabnya kami akan terus berinvestasi dalam beberapa alat dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan itu," ujarnya sambil merujuk untuk berinvestasi di badan-badan intelijen.