Presiden Xi Jinping ke Arab Saudi Pekan Depan, Ada Apa?

CNN Indonesia
Kamis, 01 Des 2022 20:36 WIB
Presiden Xi Jinping dikabarkan akan kunjungi Arab Saudi untuk menghadiri KTT negara-negara Arab dan China di Riyadh pada 9 Desember mendatang. Presiden China Xi Jinping dikabarkan akan kunjungi Arab Saudi. (AP/Dita Alangkara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Xi Jinping dikabarkan berencana kunjungi Arab Saudi untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) negara-negara Arab dan China di Riyadh pada 9 Desember mendatang.

Menurut keterangan dua diplomat Saudi dan satu sumber, Xi Jinping dijadwalkan tiba di Riyadh pada 7 Desember.

Lawatan ini terjadi di tengah kekhawatiran pengaruh China di Timur Tengah dan ribut-ribut produksi minyak antara Saudi dan Amerika Serikat.

Lebih lanjut, para diplomat itu menerangkan undangan juga sudah dikirim ke para pemimpin Timur Tengah dan Afrika Utara untuk menghadiri pertemuan China-Arab.

[Gambas:Video CNN]

"Tingkat perwakilan tergantung pada masing-masing negara dengan banyak pemimpin Arab diharapkan hadir, yang lain akan mengirim setidaknya menteri luar negeri mereka," kata salah satu diplomat Arab kepada Reuters, Rabu (30/11).

Delegasi China diperkirakan akan menandatangani lusinan perjanjian dan nota kesepahaman dengan negara-negara Teluk dan negara Arab lain.

Kesepakatan itu mencakup energi, keamanan, dan investasi.

Kantor komunikasi Saudi tak segera memberi komentar saat ditanya soal kunjungan Xi Jinping atau jadwal pertemuan puncak. Kementerian Luar Negeri China juga melakukan hal serupa.

Pada awal November lalu, Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan penguatan hubungan perdagangan dan keamanan regional akan menjadi prioritas dalam kunjungan China.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk dan Arab telah memperkuat hubungan dengan China dan Rusia. Kehangatan hubungan itu tercipta saat muncul banyak keraguan soal komitmen mitra keamanan utama, AS, di kawasan tersebut.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga menolak tekanan AS untuk berpihak terkait hubungan mereka dengan China dan Rusia.

Belakangan ini, hubungan AS-Saudi memanas usai Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC+) memutuskan mengurangi produksi minyak sebesar dua juta barel per hari.

Keputusan ini menuai banyak kritik, Presiden AS, Joe Biden sampai-sampai menilai Riyadh bekerja sama dengan Moskow untuk mengurangi produksi minyak.

Menurut AS, pengurangan tersebut bisa menaikkan harga minyak dan 'mengongkosi' perang Rusia di Ukraina.

(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER