Cerita Sedih Orang Tajir Korut Kabur dari Rezim Kim Jong Un
CNN Indonesia
Kamis, 02 Mar 2023 19:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kim Jong Un saat berkunjung ke sekolah calon prajurit Korut. (REUTERS/KCNA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Warga tajir Korea Utara Oh Hye Son menceritakan betapa tak bahagianya hidup di Korut meski bergelimang harta dan privilese.
Oh merupakan warga yang lahir dari keluarga elite Korut yang masih punya ikatan dengan dinasti Kim Jong Un. Dia merupakan keturunan jenderal yang pernah berjuang bersama eks pemimpin Korut, Kim Il Sung.
Tapi, dia merasa keistimewaan yang dimiliki di negara kelahirannya itu tak bisa memberikan kebebasan yang dia idamkan. Oh merasa selama ini "hidup dalam ketakutan akan kekuasaan".
"Saya tidak pernah ingin kembali ke Korea Utara dan mempertanyakan mengapa warga Korut harus menjalani hidup yang begitu sulit," katanya dalam sebuah wawancara di Seoul, tempat dia kini tinggal.
"Tidak ada seorang pun kecuali Kim yang (benar-benar) punya hak istimewa... Saya menyadari bahwa tak ada masa depan bagi [anak-anak saya] di Korea Utara," ujar dia.
Oh menuturkan putra tertuanya, Thae Ju Hyok, punya sejumlah masalah kesehatan salah satunya sindrom nefrotik, suatu kondisi yang berkaitan dengan ginjal dan bisa menyebabkan masalah fatal jika tak diobati.
Menurut Oh, anaknya itu akan sulit mendapat perawatan jika mereka tetap hidup di Korut. Ia mengungkapkan sistem kesehatan di Korut buruk, bahkan salah satu yang terburuk di dunia karena banyak dokternya yang harus disuap dahulu untuk bisa mengobati pasien.
Selain itu, obat-obatan krusial pun tak lengkap di negara terisolasi itu.
Oh berujar dia sangat senang saat ia dan keluarga sempat tinggal di London pada 2004. London merupakan kota yang telah memenuhi syarat untuk layanan kesehatan nasional.
Karenanya, sang putra bisa mendapat perawatan gratis di salah satu fasilitas medis terbaik di kota ternama Inggris itu.
Anak-anaknya pun bisa pergi sekolah dengan nyaman ke sekolah-sekolah Inggris dan menetap dengan baik.
"Anak-anak tumbuh dengan sangat baik di Inggris, di tengah masyarakat yang menghormati mereka," ujarnya.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Kehidupan itu menurutnya sangat kontras dengan di Korut kala dirinya kembali ke negara itu pada 2008.
Thae, katanya, kuliah di Universitas Kedokteran Pyongyang kala itu. Namun alih-alih berkuliah, dia justru diminta bekerja di lokasi konstruksi dan mengangkut semen.
Selama beberapa waktu terakhir, Korut memang dilanda kekurangan tenaga kerja di seluruh sektor ekonomi mereka. Oleh sebab itu, merupakan hal umum bagi pemerintah untuk memerintahkan mahasiswa, bahkan anak sekolah, melakukan pekerjaan kasar dengan dalih loyalitas terhadap negara.
Apabila mereka tak patuh, pemerintah bakal menahan jatah makanan maupun mengenakan pajak amat tinggi bagi mereka. Hal itu diungkapkan oleh Laporan Perdagangan Orang tahun 2022 yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri AS.
Ketika anak-anaknya mulai memahami dan mempertanyakan korupsi dan ketidakadilan yang mengakar di Korut itu, Oh pun sadar bahwa tidak mungkin baginya dan keluarga untuk menetap di Korut sepanjang hidup mereka.
"Mereka punya nilai yang sangat berbeda," katanya.
"Itu merupakan saat-saat saya mulai berpikir bahwa saya harus pergi ke luar negeri lagi. Saya tidak akan kembali."
Saat ini, Oh dan keluarganya resmi membelot dari Korut. Dia kini tinggal di Seoul bersama keluarga kecilnya. Putranya, Thae, bahkan menjadi anggota parlemen pertama dari Korut.
Thae merupakan anggota parlemen dari partai konservatif People Power.
Kendati telah meninggalkan Korut, Oh mengaku tetap memikirkan nasib sanak saudaranya yang masih berada di sana. Sebab yang ia tahu, kerabat pembelot bakal dihukum oleh rezim Kim Jong Un.
Dia bahkan tak bisa sekadar menanyakan kabar keluarganya karena akses dari Korsel ke Korut telah diblokir.
"Apakah mereka membenci saya? Apakah mereka iri pada saya? Atau mungkinkah mereka mendukung keputusan saya?" ucapnya sambil menyeka air mata.
Jakarta, CNN Indonesia --
Warga tajir Korea Utara Oh Hye Son menceritakan betapa tak bahagianya hidup di Korut meski bergelimang harta dan privilese.
Oh merupakan warga yang lahir dari keluarga elite Korut yang masih punya ikatan dengan dinasti Kim Jong Un. Dia merupakan keturunan jenderal yang pernah berjuang bersama eks pemimpin Korut, Kim Il Sung.
Tapi, dia merasa keistimewaan yang dimiliki di negara kelahirannya itu tak bisa memberikan kebebasan yang dia idamkan. Oh merasa selama ini "hidup dalam ketakutan akan kekuasaan".
"Saya tidak pernah ingin kembali ke Korea Utara dan mempertanyakan mengapa warga Korut harus menjalani hidup yang begitu sulit," katanya dalam sebuah wawancara di Seoul, tempat dia kini tinggal.
"Tidak ada seorang pun kecuali Kim yang (benar-benar) punya hak istimewa... Saya menyadari bahwa tak ada masa depan bagi [anak-anak saya] di Korea Utara," ujar dia.
Oh menuturkan putra tertuanya, Thae Ju Hyok, punya sejumlah masalah kesehatan salah satunya sindrom nefrotik, suatu kondisi yang berkaitan dengan ginjal dan bisa menyebabkan masalah fatal jika tak diobati.
Menurut Oh, anaknya itu akan sulit mendapat perawatan jika mereka tetap hidup di Korut. Ia mengungkapkan sistem kesehatan di Korut buruk, bahkan salah satu yang terburuk di dunia karena banyak dokternya yang harus disuap dahulu untuk bisa mengobati pasien.
Selain itu, obat-obatan krusial pun tak lengkap di negara terisolasi itu.
Oh berujar dia sangat senang saat ia dan keluarga sempat tinggal di London pada 2004. London merupakan kota yang telah memenuhi syarat untuk layanan kesehatan nasional.
Karenanya, sang putra bisa mendapat perawatan gratis di salah satu fasilitas medis terbaik di kota ternama Inggris itu.
Anak-anaknya pun bisa pergi sekolah dengan nyaman ke sekolah-sekolah Inggris dan menetap dengan baik.
"Anak-anak tumbuh dengan sangat baik di Inggris, di tengah masyarakat yang menghormati mereka," ujarnya.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Cerita Sedih Orang Tajir Korut Kabur dari Rezim Kim Jong Un
Kim Jong Un mengajak anak dan istri di acara militer Korut. (REUTERS/KCNA)
Kehidupan itu menurutnya sangat kontras dengan di Korut kala dirinya kembali ke negara itu pada 2008.
Thae, katanya, kuliah di Universitas Kedokteran Pyongyang kala itu. Namun alih-alih berkuliah, dia justru diminta bekerja di lokasi konstruksi dan mengangkut semen.
Selama beberapa waktu terakhir, Korut memang dilanda kekurangan tenaga kerja di seluruh sektor ekonomi mereka. Oleh sebab itu, merupakan hal umum bagi pemerintah untuk memerintahkan mahasiswa, bahkan anak sekolah, melakukan pekerjaan kasar dengan dalih loyalitas terhadap negara.
Apabila mereka tak patuh, pemerintah bakal menahan jatah makanan maupun mengenakan pajak amat tinggi bagi mereka. Hal itu diungkapkan oleh Laporan Perdagangan Orang tahun 2022 yang diterbitkan Kementerian Luar Negeri AS.
Ketika anak-anaknya mulai memahami dan mempertanyakan korupsi dan ketidakadilan yang mengakar di Korut itu, Oh pun sadar bahwa tidak mungkin baginya dan keluarga untuk menetap di Korut sepanjang hidup mereka.
"Mereka punya nilai yang sangat berbeda," katanya.
"Itu merupakan saat-saat saya mulai berpikir bahwa saya harus pergi ke luar negeri lagi. Saya tidak akan kembali."
Saat ini, Oh dan keluarganya resmi membelot dari Korut. Dia kini tinggal di Seoul bersama keluarga kecilnya. Putranya, Thae, bahkan menjadi anggota parlemen pertama dari Korut.
Thae merupakan anggota parlemen dari partai konservatif People Power.
Kendati telah meninggalkan Korut, Oh mengaku tetap memikirkan nasib sanak saudaranya yang masih berada di sana. Sebab yang ia tahu, kerabat pembelot bakal dihukum oleh rezim Kim Jong Un.
Dia bahkan tak bisa sekadar menanyakan kabar keluarganya karena akses dari Korsel ke Korut telah diblokir.
"Apakah mereka membenci saya? Apakah mereka iri pada saya? Atau mungkinkah mereka mendukung keputusan saya?" ucapnya sambil menyeka air mata.