Jakarta, CNN Indonesia -- Sekte-sekte di Korea Selatan kembali menjadi pergunjingan setelah serial dokumenter In the Name of God: A Holy Betrayal merajai Netflix.
Aliran-aliran sesat memang merajalela di Korsel. Beberapa tahun lalu, salah satu sekte bernama Yeongsegyo bahkan disebut-sebut menjadi "pemerintah bayangan" di Korsel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dugaan ini mencuat karena presiden Korsel kala itu, Park Geun Hye, menjalin pertemanan erat dengan Choi Soon Sil, putri pendiri Yeongsegyo, Choi Tae Min.
Secara hitam di atas putih, sebenarnya Soon Sil tak terkait lagi dengan Yeongsegyo. Namun, laporan yang dikutip The Korea Times menyebut Soon Sil sebenarnya sudah menggantikan mendiang ayahnya sebagai ketua sekte itu.
Kantor berita Yonhap melaporkan Soon Sil memanfaatkan kedekatannya dengan Geun Hye untuk menggerecoki urusan negara.
Media-media Korsel memberitakan Geun Hye sangat mengandalkan saran Soon Sil untuk menentukan berbagai keputusan, mulai dari masalah remeh-temeh hingga urusan penting seperti pejabat mana yang harus dilantik.
Soon Sil juga membujuk Geun Hye agar dapat mendesak sejumlah perusahaan untuk mengalirkan donasi dengan total miliaran won ke dua yayasan miliknya.
Kolusi gila-gilaan ini menggegerkan Korsel pada 2016 lalu. Gelombang demonstrasi pun membanjiri kota-kota di Korsel.
Sebagaimana dilansir Reuters, prahara politik ini berujung pada pemakzulan Geun Hye pada 2016 silam.
Di tengah prahara itu, bermunculan rumor mengenai Soon Sil. Ambil contoh ketika salah satu stasiun televisi membeberkan bahwa Soon Sil pernah memberikan masukan untuk warna pakaian Geun Hye.
[Gambas:Video CNN]
Berdasarkan penelusuran The New York Times, sejumlah pihak menduga Soon Sil memilih warna pakaian untuk Park berdasarkan sistem astrologi.
Beberapa pihak lain membahas kemungkinan Soon Sil memasukkan simbol mistik dalam dekorasi upacara pelantikan Geun Hye pada 2013.
Rumor berembus juga menyatakan Geun Hye pernah mengikuti ritual-ritual terkait Yeongsegyo, sekte yang menggabungkan unsur Buddha, Kristen, dan Syamanisme.
Para pakar menganggap rumor semacam ini dapat meluas dengan cepat karena isu mengenai kedekatan Geun Hye dengan keluarga Soon Sil memang sudah lama menjadi buah bibir.
Jauh sebelumnya, Geun Hye sudah dekat dengan ayah Soon Sil, Choi Tae Min, yang juga merupakan pendiri sekte Yeongsegyo.
Merujuk pada laporan intelijen Korsel, Geun Hye dan Choi pertama kali berkenalan pada 1975. Jalur komunikasi mereka terbuka ketika Choi mengirimkan surat ke Geun Hye, meminta untuk bertemu.
Choi mengaku berkomunikasi dengan ibunda Geun Hye dalam mimpi. Di kenyataan, ibu Geun Hye sudah meninggal dunia karena dibunuh sosok pro-Korea Utara setahun sebelumnya.
Ayah Geun Hye yang saat itu masih menjadi presiden diktator Korsel, Park Chung Hee, awalnya meragukan Choi.
Apa yang terjadi selanjutnya? Baca di halaman berikutnya >>>
Sekte Sesat Disebut Pernah Setir Pemerintah Korsel, Bagaimana Caranya?
Gelombang protes yang berujung pada pemakzulan Park Geun Hye. (AFP Photo/Ed Jones)
Namun, lambat laun ia membuka pintu bagi Choi karena sekte pimpinannya saat itu, Crusaders to Save the Nation, dikenal pro-pemerintah.
Di masa itu, dukungan pemimpin keagamaan terhadap pemerintahan gaya diktator seperti Park sangat langka. Mayoritas gereja di Korsel saat itu sangat anti-diktator.
Lebih jauh, sekte itu juga menentang komunisme, sikap yang penting di masa-masa perang ideologi antara Korut dan Korsel.
Potongan koran dari era itu memperlihatkan Geun Hye dilantik sebagai presiden kehormatan Crusaders to Save the Nation.
Dalam sejumlah foto, Geun Hye juga terlihat didampingi Soon Sil ketika mengunjungi relawan kelompok tersebut.
Sebagian publik saat itu tak terima melihat kedekatan Geun Hye dengan Choi. Laporan intelijen Korsel mengungkap bahwa Choi merupakan pastor gadungan yang menggunakan hubungannya dengan Geun Hye demi suap.
Pada 1979, Park sampai-sampai dibunuh oleh orang yang protes karena sang presiden membiarkan Geun Hye dekat dengan Choi.
Tak hanya itu, pelaku juga naik pitam karena Park tak menghentikan aktivitas korup Choi. Geun Hye sendiri mengakui bahwa ayahnya memang pernah bertanya langsung mengenai dugaan korupsi Choi, tapi tak ada bukti.
Sepeninggal Park, Geun Hye mengurung diri. Namun, Choi masih terus menemani. Laporan intelijen tahun 1989 menyebut Choi memberikan kebutuhan sehari-hari Geun Hye.
Menurut laporan yang didapat harian Chosun Ilbo itu, Choi terus mengatakan bahwa Geun Hye kelak akan menjadi "ratu" di Negeri Ginseng.
Di periode ini, Choi terus menyedot dana dari yayasan yang dikelola Geun Hye. Kelakuan Choi ini terendus oleh keluarga Park.
Pada 1990, saudara-saudara Geun Hye akhirnya menuliskan surat kepada Presiden Roh Tae Woo agar menghentikan aksi Choi. Mereka memohon Tae Woo untuk menyelamatkan Geun Hye dari manipulasi.
Upaya mereka sia-sia. Dalam kabel diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks pada 2007, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Seoul melaporkan rumor bahwa Choi "memegang kendali penuh atas jiwa dan raga Geun Hye dan karena itu, anaknya [Soon Sil] meraup kekayaan besar."
Ketika Choi wafat pada 1994, Soon Sil mengambil alih posisi sang ayah di kehidupan Geun Hye. Soon Sil mengatur berbagai keputusan untuk Geun Hye.
"Soon Sil benar-benar memberi tahu presiden untuk melakukan ini itu. Tak ada yang bisa diputuskan sendiri oleh presiden," kata mantan karyawan salah satu yayasan Soon Sil, Lee Seong Han.