Mungkinkah Putin Ditangkap Jika Hadiri KTT BRICS di Afrika Selatan?
CNN Indonesia
Kamis, 04 Mei 2023 16:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Akankan Putin ditangkap saat menghadiri KTT BRICS di Afrika Selatan? Foto: Sputnik/Ilya Pitalyov/Pool via REUTERS
Jakarta, CNN Indonesia --
Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, atas tuduhan kejahatan perang.
Putin diduga terlibat kejahatan perang, karena mendeportasi anak-anak secara ilegal dan melanggar hukum dari Ukraina ke Rusia.
Tindakan semacam itu termasuk dalam kejahatan perang, berdasarkan dua pasal Statuta Roma yang mengikat ICC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Surat perintah penangkapan ICC terhadap seorang kepala negara seperti Vladimir Putin, sebenarnya jarang terjadi.
Putin akan ditangkap jika dia menginjakkan kaki di salah satu dari 123 negara, yang meratifikasi Statuta Roma. Dari ratusan negara itu, 33 di antaranya adalah negara-negara Afrika.
Beberapa waktu terakhir, isu penangkapan Putin pun kian memanas menyusul kemungkinan kehadirannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Provinsi Western Cape, Afrika Selatan, pada Agustus 2023.
Sebaliknya sebagai anggota ICC, Afrika Selatan juga wajib bekerja sama sepenuhnya untuk menangkap Presiden Rusia sesuai pasal 88 UU ICC, dan hukum domestik.
Ini bukan kali pertama Afrika Selatan menghadapi dilema semacam ini. Pada 2015, Presiden Sudan Omar Al Bashir juga datang ke Afrika Selatan untuk menghadiri KTT kepala negara Uni Afrika.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Di bawah kewajiban ICC, Afsel wajib menangkap Al Bashir yang telah didakwa atas pelanggaran hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia di wilayah Darfur, Sudan.
Saat itu pemerintah Afsel di bawah kepresidenan Jacob Zuma, menolak menangkap Al Bashir. Alasannya karena kekebalan dari penuntutan kepala negara, yang duduk di bawah hukum internasional.
Kini surat perintah penangkapan Putin membuat pemerintah Presiden Afsel Cyril Ramaphosa 'bagai makan buah simalakama'.
Jika ikut perintah ICC dan menangkap Putin, Afsel terancam menanggung konsekuensi bilateral terutama di antara negara-negara Afrika dan juga hubungan historisnya dengan Rusia.
Namun apabila menyambut Putin, maka citra Afrika Selatan sebagai negara independen di mata dunia pun ikut tercoreng, bahkan terancam membuat negara itu kehilangan kredibilitas internasional.
Nasib Putin
Hingga kini, tanggapan maupun sikap resmi pemerintah Afrika Selatan soal penangkapan Putin belum jelas.
Di satu sisi, juru bicara Presiden Ramaphosa mengatakan negara itu menyadari kewajiban untuk menangkap Putin dan menyerahkannya ke ICC.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Naledi Pandor, membenarkan pihaknya mengundang Putin untuk menghadiri pertemuan BRICS. Menurutnya, kabinet harus memutuskan bagaimana negara akan menanggapi surat perintah ICC.
Sebab pemerintah Afrika Selatan sendiri sebenarnya ingin punya sikap seimbang antara kewajiban terhadap ICC, tanggung jawab domestik, dan hubungan persahabatan historisnya dengan Rusia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, atas tuduhan kejahatan perang.
Putin diduga terlibat kejahatan perang, karena mendeportasi anak-anak secara ilegal dan melanggar hukum dari Ukraina ke Rusia.
Tindakan semacam itu termasuk dalam kejahatan perang, berdasarkan dua pasal Statuta Roma yang mengikat ICC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Surat perintah penangkapan ICC terhadap seorang kepala negara seperti Vladimir Putin, sebenarnya jarang terjadi.
Putin akan ditangkap jika dia menginjakkan kaki di salah satu dari 123 negara, yang meratifikasi Statuta Roma. Dari ratusan negara itu, 33 di antaranya adalah negara-negara Afrika.
Beberapa waktu terakhir, isu penangkapan Putin pun kian memanas menyusul kemungkinan kehadirannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Provinsi Western Cape, Afrika Selatan, pada Agustus 2023.
Sebaliknya sebagai anggota ICC, Afrika Selatan juga wajib bekerja sama sepenuhnya untuk menangkap Presiden Rusia sesuai pasal 88 UU ICC, dan hukum domestik.
Ini bukan kali pertama Afrika Selatan menghadapi dilema semacam ini. Pada 2015, Presiden Sudan Omar Al Bashir juga datang ke Afrika Selatan untuk menghadiri KTT kepala negara Uni Afrika.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Dilema Afsel Tangkap Putin Sesuai Perintah ICC Jelang KTT BRICS
Dilema Afsel tangkap Putin jelang KTT BRICS. Foto: Russian President Vladimir Putin (Getty Images/Contributor)
Di bawah kewajiban ICC, Afsel wajib menangkap Al Bashir yang telah didakwa atas pelanggaran hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia di wilayah Darfur, Sudan.
Saat itu pemerintah Afsel di bawah kepresidenan Jacob Zuma, menolak menangkap Al Bashir. Alasannya karena kekebalan dari penuntutan kepala negara, yang duduk di bawah hukum internasional.
Kini surat perintah penangkapan Putin membuat pemerintah Presiden Afsel Cyril Ramaphosa 'bagai makan buah simalakama'.
Jika ikut perintah ICC dan menangkap Putin, Afsel terancam menanggung konsekuensi bilateral terutama di antara negara-negara Afrika dan juga hubungan historisnya dengan Rusia.
Namun apabila menyambut Putin, maka citra Afrika Selatan sebagai negara independen di mata dunia pun ikut tercoreng, bahkan terancam membuat negara itu kehilangan kredibilitas internasional.
Nasib Putin
Hingga kini, tanggapan maupun sikap resmi pemerintah Afrika Selatan soal penangkapan Putin belum jelas.
Di satu sisi, juru bicara Presiden Ramaphosa mengatakan negara itu menyadari kewajiban untuk menangkap Putin dan menyerahkannya ke ICC.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Naledi Pandor, membenarkan pihaknya mengundang Putin untuk menghadiri pertemuan BRICS. Menurutnya, kabinet harus memutuskan bagaimana negara akan menanggapi surat perintah ICC.
Sebab pemerintah Afrika Selatan sendiri sebenarnya ingin punya sikap seimbang antara kewajiban terhadap ICC, tanggung jawab domestik, dan hubungan persahabatan historisnya dengan Rusia.