Adu Jurus Erdogan vs Kilicdaroglu di Pemilu Turki, Siapa Menang?
CNN Indonesia
Rabu, 17 Mei 2023 21:06 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Calon presiden petahana Turki Recep Tayyip Erdogan. (AFP/ADEM ALTAN)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemilihan umum (Pemilu) Turki menjadi perhatian global karena berlanjut ke putaran kedua. Di kontestasi politik ini, Presiden petahana Recep Tayyip Erdogan melawan Kemal Kilicdaroglu.
Di putaran pertama, Erdogan meraih suara 49,51 persen, sementara Kilicdaroglu mendapat 44.88 persen. Keduanya tak ada yang mencapai suara mayoritas atau lebih dari 50 persen.
Dengan demikian, pertarungan mereka berlanjut di putaran kedua yang akan berlangsung 28 Mei.
Sejumlah pengamat menduga Erdogan bakal kembali duduk di kursi kepresidenan. Berikut sederet jurus kedua calon untuk memenangkan pemilu Turki.
Erdogan
Dalam kampanye pemilu ini, Erdogan berjanji akan membangun ribuan rumah susun hingga memperluas hubungan diplomatik dengan negara lain.
Turki sempat dilanda gempa bermagnitudo 7,7 pada Februari lalu. Pemerintah sempat disalahkan karena penanganan yang lamban dan berimbas pada banyak korban serta bangunan runtuh.
Selain itu, Erdogan berjanji bakal terus menindak kelompok teror, seperti Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan gerakan Gulen.
Gerakan Gulen merupakan aktivitas yang terinspirasi dari seorang pemikir dan tokoh pergorokan Fethullah Gulen. Ia menilai Turki yang sekuler tak boleh menghalangi kemajuan umat Islam.
Sebagai salah satu janjinya, Erdogan bersumpah bakal menentang apa saja yang berkaitan dengan lesbian, gay, bisektuan, transgender, queer (LGBTQ).
"[Pemerintah akan] secara aktif melawan kecenderungan menyimpang seperti LGBT yang mengancam struktur keluarga kami," kata dia seperti dikutip Al Jazeera.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Kilicdaroglu
Dalam kampanyenya, Kilicdaroglu berjanji akan membangun rumah secara gratis bagi korban gempa.
Ia juga melarang penjualan properti bagi warga asing sampai pembangunan rumah untuk masyarakat Turki selesai.
Di sisi ekonomi, ia juga memperkenalkan kembali kebijakan ekonomi tradisional dan mengurangi inflasi. Ini berbanding terbalik dengan Erdogan yang menurunkan suku bunga.
Kilicdaroglu juga bersumpah berusaha untuk mendapatkan kembali kepercayaan investor asing di Turki. Salah satu caranya, mengembangkan industri manufaktur yang bernilai tinggi di negara itu.
Jika Erdogan ingin memperluas hubungan diplomasi dan menjadikan Turki sebagai poros, maka Kilicdaroglu memilih mendekat ke negara-negara Barat.
Sejumlah pengamat menilai, Kilicdaroglu bakal lebih mudah ditundukkan Barat ketimbang Erdogan. Beberapa pihak juga menduga, dia bakal mengikuti jejak Amerika Serikat dan rekan dekatnya untuk menjatuhkan sanksi ke Rusia atas invasinya.
Di bawah pimpinan Erdogan, Turki berusaha mempertahankan hubungan dengan Rusia dan Ukraina. Negara ini bahkan sempat menjadi tuan rumah untuk negosiasi damai kedua negara tersebut.
Selain itu, rival kuat Erdogan ini mengatakan warga Turki bisa bepergian ke negara area Schengen tanpa visa usai Kilicdaroglu berkuasa.
Kilicdaroglu juga berupaya menghapus sistem presidensial eksekutif yang diperkenalkan Erdogan melalui referendum pada 2017 dan mengembalikan sistem parlementer yang kuat untuk memerintah Turki.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemilihan umum (Pemilu) Turki menjadi perhatian global karena berlanjut ke putaran kedua. Di kontestasi politik ini, Presiden petahana Recep Tayyip Erdogan melawan Kemal Kilicdaroglu.
Di putaran pertama, Erdogan meraih suara 49,51 persen, sementara Kilicdaroglu mendapat 44.88 persen. Keduanya tak ada yang mencapai suara mayoritas atau lebih dari 50 persen.
Dengan demikian, pertarungan mereka berlanjut di putaran kedua yang akan berlangsung 28 Mei.
Sejumlah pengamat menduga Erdogan bakal kembali duduk di kursi kepresidenan. Berikut sederet jurus kedua calon untuk memenangkan pemilu Turki.
Erdogan
Dalam kampanye pemilu ini, Erdogan berjanji akan membangun ribuan rumah susun hingga memperluas hubungan diplomatik dengan negara lain.
Turki sempat dilanda gempa bermagnitudo 7,7 pada Februari lalu. Pemerintah sempat disalahkan karena penanganan yang lamban dan berimbas pada banyak korban serta bangunan runtuh.
Selain itu, Erdogan berjanji bakal terus menindak kelompok teror, seperti Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan gerakan Gulen.
Gerakan Gulen merupakan aktivitas yang terinspirasi dari seorang pemikir dan tokoh pergorokan Fethullah Gulen. Ia menilai Turki yang sekuler tak boleh menghalangi kemajuan umat Islam.
Sebagai salah satu janjinya, Erdogan bersumpah bakal menentang apa saja yang berkaitan dengan lesbian, gay, bisektuan, transgender, queer (LGBTQ).
"[Pemerintah akan] secara aktif melawan kecenderungan menyimpang seperti LGBT yang mengancam struktur keluarga kami," kata dia seperti dikutip Al Jazeera.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Adu Jurus Erdogan vs Kilicdaroglu di Pemilu Turki, Siapa Menang?
Pesaing Recep Tayyip Erdogan, Kemal Kilicdaroglu, di pemilu Turki. (REUTERS/MURAD SEZER)
Kilicdaroglu
Dalam kampanyenya, Kilicdaroglu berjanji akan membangun rumah secara gratis bagi korban gempa.
Ia juga melarang penjualan properti bagi warga asing sampai pembangunan rumah untuk masyarakat Turki selesai.
Di sisi ekonomi, ia juga memperkenalkan kembali kebijakan ekonomi tradisional dan mengurangi inflasi. Ini berbanding terbalik dengan Erdogan yang menurunkan suku bunga.
Kilicdaroglu juga bersumpah berusaha untuk mendapatkan kembali kepercayaan investor asing di Turki. Salah satu caranya, mengembangkan industri manufaktur yang bernilai tinggi di negara itu.
Jika Erdogan ingin memperluas hubungan diplomasi dan menjadikan Turki sebagai poros, maka Kilicdaroglu memilih mendekat ke negara-negara Barat.
Sejumlah pengamat menilai, Kilicdaroglu bakal lebih mudah ditundukkan Barat ketimbang Erdogan. Beberapa pihak juga menduga, dia bakal mengikuti jejak Amerika Serikat dan rekan dekatnya untuk menjatuhkan sanksi ke Rusia atas invasinya.
Di bawah pimpinan Erdogan, Turki berusaha mempertahankan hubungan dengan Rusia dan Ukraina. Negara ini bahkan sempat menjadi tuan rumah untuk negosiasi damai kedua negara tersebut.
Selain itu, rival kuat Erdogan ini mengatakan warga Turki bisa bepergian ke negara area Schengen tanpa visa usai Kilicdaroglu berkuasa.
Kilicdaroglu juga berupaya menghapus sistem presidensial eksekutif yang diperkenalkan Erdogan melalui referendum pada 2017 dan mengembalikan sistem parlementer yang kuat untuk memerintah Turki.