Sejumlah negara kuat seperti Amerika Serikat tampaknya mengalami jalan buntu bernegosiasi dengan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium menjadi senjata nuklir.
"Iran telah maju dengan pengayaan uranium yang sudah sangat jauh dari sebelumnya. Ada perkembangan negatif di depan yang dapat membawa aksi (militer)," ujar Letnan Jenderal Halevi dalam pidatonya seperti dikutip dari Reuters.
Halevi tidak membeberkan secara detail perkembangan yang dimaksud, termasuk aksi yang kemungkinan diambil dan oleh siapa.
"Kami punya kemampuan dan yang lain juga punya kemampuan," tutur Halevi merujuk aliansi Israel dengan AS, dalam forum keamanan internasional Konferensi Herzliya.
Para ahli di Israel sendiri beda pendapat soal apakah militer negara itu punya kekuatan untuk membuat kerusakan permanen pada fasilitas nuklir Iran yang jauh, tersebar, dan amat dilindungi.
Iran sendiri membantah mengembangkan bom nuklir tersebut, namun telah berjanji akan melakukan pembalasan yang menghancurkan untuk setiap serangan.
Sementara itu, ada spekulasi bahwa Israel memanfaatkan negara-negara di perbatasan Iran sebagai batu loncatan untuk melancarkan serangan.
Salah satu negara yang tengah didekati Israel adalah Azerbaijan. Namun, negara itu menolak meskipun memiliki ikatan yang kuat dengan Israel.
"Kami menahan diri untuk tidak ikut terlibat dalam perselisihan atau permasalahan (negara lain), termasuk dengan mengizinkan atau memberikan wilayah kami untuk sejumlah operasi atau petualangan," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Azeri Fariz Rzayev, seperti dikutip dari Reuters.
Associated Press sebelumnya melaporkan Iran telah membangun ruang bawah tanah di Pegunungan Zagros untuk fasilitas pengayaan uranium. Zagros menggantikan Natanz yang dihancurkan pada 2020 lalu.
Iran mengumumkan pada 2021 telah berupaya memindahkan pusat pengayaan uranium ke "daerah pegunungan dekat Natanz.
"Hal ini tentu saja membatasi kemampuan untuk melakukan serangan seperti yang dilakukan di permukaan tanah yang tentunya relatif lebih mudah. Tapi bisa kami katakan bahwa tidak ada tempat yang tak bisa dijangkau," ujar Penasihat Keamanan nasional Israel, Tzachi Hanegbi.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
AS sebelumnya memamerkan bom langka yang mampu menghujam bunker terdalam musuh, GBU-57, untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran.
AS mengklaim bom langka ini bisa menembus hingga kedalaman 60 meter di dalam bumi sebelum meledak. Pejabat AS juga terus membahas penggunaan dua bom serupa, untuk menghancurkan sebuah situs.
Dengan potensi bom dahsyat seperti GBU-57, AS dan sekutunya lebih punya pilihan untuk menargetkan situs nuklir Iran. Sehingga jika diplomasi gagal dilakukan, serangan terhadap fasilitas itu sangat mungkin dilakukan.
Pada 2 Mei lalu, Angkatan Udara AS secara sengaja mengunggah foto bom GBU-57 yang juga dikenal sebagai Massive Ordnance Penetrator di akun Facebook Whiteman Air Force Base di Missouri.
Foto bom terbaru AS muncul setelah ada laporan yang menyebut Iran semakin membuat kemajuan dalam pembangunan fasilitas nuklir, yang kemungkinan berada di luar jangkauan GBU-57.
Padahal bom ini dianggap sebagai 'senjata terakhir' militer AS untuk menghancurkan bunker bawah tanah.
Analis Perusahaan Intelijen Janes, Rahul Udoshi, menyebut dari foto terbaru itu diketahui berat bom mencapai 12.300 kilogram yang membawa campuran bahan peledak standar AFX-757 dengan bahan peledak baru PBXN-114.
Jika dilihat dari bentuk dan beratnya, bom tersebut kemungkinan dibuat dari rangka baja tebal sehingga memungkinkan untuk menembus beton dan tanah sebelum meledak.
Namun masih belum jelas seperti apa keefektifan bom itu.
Jakarta, CNN Indonesia --
Jenderal militer Israel, Herzi Halevi, mengisyaratkan pada Selasa (23/5) negaranya semakin dekat menggelar operasi militer menyerang Iran.
Rencana itu semakin mencuat setelah Israel amat mewaspadai potensi ancaman nuklir bawah tanah Iran.
Sejumlah negara kuat seperti Amerika Serikat tampaknya mengalami jalan buntu bernegosiasi dengan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium menjadi senjata nuklir.
"Iran telah maju dengan pengayaan uranium yang sudah sangat jauh dari sebelumnya. Ada perkembangan negatif di depan yang dapat membawa aksi (militer)," ujar Letnan Jenderal Halevi dalam pidatonya seperti dikutip dari Reuters.
Halevi tidak membeberkan secara detail perkembangan yang dimaksud, termasuk aksi yang kemungkinan diambil dan oleh siapa.
"Kami punya kemampuan dan yang lain juga punya kemampuan," tutur Halevi merujuk aliansi Israel dengan AS, dalam forum keamanan internasional Konferensi Herzliya.
Para ahli di Israel sendiri beda pendapat soal apakah militer negara itu punya kekuatan untuk membuat kerusakan permanen pada fasilitas nuklir Iran yang jauh, tersebar, dan amat dilindungi.
Iran sendiri membantah mengembangkan bom nuklir tersebut, namun telah berjanji akan melakukan pembalasan yang menghancurkan untuk setiap serangan.
Sementara itu, ada spekulasi bahwa Israel memanfaatkan negara-negara di perbatasan Iran sebagai batu loncatan untuk melancarkan serangan.
Salah satu negara yang tengah didekati Israel adalah Azerbaijan. Namun, negara itu menolak meskipun memiliki ikatan yang kuat dengan Israel.
"Kami menahan diri untuk tidak ikut terlibat dalam perselisihan atau permasalahan (negara lain), termasuk dengan mengizinkan atau memberikan wilayah kami untuk sejumlah operasi atau petualangan," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Azeri Fariz Rzayev, seperti dikutip dari Reuters.
Associated Press sebelumnya melaporkan Iran telah membangun ruang bawah tanah di Pegunungan Zagros untuk fasilitas pengayaan uranium. Zagros menggantikan Natanz yang dihancurkan pada 2020 lalu.
Iran mengumumkan pada 2021 telah berupaya memindahkan pusat pengayaan uranium ke "daerah pegunungan dekat Natanz.
"Hal ini tentu saja membatasi kemampuan untuk melakukan serangan seperti yang dilakukan di permukaan tanah yang tentunya relatif lebih mudah. Tapi bisa kami katakan bahwa tidak ada tempat yang tak bisa dijangkau," ujar Penasihat Keamanan nasional Israel, Tzachi Hanegbi.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
AS Pamer Bom Anti-Bunker
Fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Zagros. (AP/Planet Labs PBC)
AS sebelumnya memamerkan bom langka yang mampu menghujam bunker terdalam musuh, GBU-57, untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran.
AS mengklaim bom langka ini bisa menembus hingga kedalaman 60 meter di dalam bumi sebelum meledak. Pejabat AS juga terus membahas penggunaan dua bom serupa, untuk menghancurkan sebuah situs.
Dengan potensi bom dahsyat seperti GBU-57, AS dan sekutunya lebih punya pilihan untuk menargetkan situs nuklir Iran. Sehingga jika diplomasi gagal dilakukan, serangan terhadap fasilitas itu sangat mungkin dilakukan.
Pada 2 Mei lalu, Angkatan Udara AS secara sengaja mengunggah foto bom GBU-57 yang juga dikenal sebagai Massive Ordnance Penetrator di akun Facebook Whiteman Air Force Base di Missouri.
Foto bom terbaru AS muncul setelah ada laporan yang menyebut Iran semakin membuat kemajuan dalam pembangunan fasilitas nuklir, yang kemungkinan berada di luar jangkauan GBU-57.
Padahal bom ini dianggap sebagai 'senjata terakhir' militer AS untuk menghancurkan bunker bawah tanah.
Analis Perusahaan Intelijen Janes, Rahul Udoshi, menyebut dari foto terbaru itu diketahui berat bom mencapai 12.300 kilogram yang membawa campuran bahan peledak standar AFX-757 dengan bahan peledak baru PBXN-114.
Jika dilihat dari bentuk dan beratnya, bom tersebut kemungkinan dibuat dari rangka baja tebal sehingga memungkinkan untuk menembus beton dan tanah sebelum meledak.
Namun masih belum jelas seperti apa keefektifan bom itu.