Bos Wagner Yevgeny Prigozhin lantas mengerahkan pasukannya menduduki markas militer Rusia di Rostov dan mengirim tentara menuju Moskow untuk menggulingkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.
Pada Sabtu (24/5) pukul 07.30 waktu setempat, Prigozhin pun mengklaim berhasil menguasai fasilitas militer dan lapangan terbang di Rostov-on-Don, Rusia.
"Ini bukan kudeta militer, tapi pawai keadilan," ujar Prigozhin dikutip dari Associated Press.
Kendati begitu, Prigozhin telah menarik mundur pasukannya dari Rusia. Ia menarik diri setelah bernegosiasi dengan Kremlin.
Meski sempat menyebut pembelotan Wagner sebagai pengkhianatan dan hendak menjatuhkan hukuman, Presiden Vladimir Putin mencabut segala tuntutan tersebut. Dia bahkan membiarkan Wagner pindah ke Belarus, negara tetangga Rusia.
Wagner selama ini dikenal sebagai 'tameng' prajurit reguler Rusia di Ukraina. Wagner disebut-sebut menjadi regu penyerang guna membuka jalan di garda depan.
Lantas, dengan kepergian Wagner, siapa yang akan menggantikan posisinya di Ukraina?
Wagner Group diyakini bakal digantikan dengan pasukan khusus Chechen, Akhmat, yang telah menandatangani kontrak dengan Kemhan Rusia pada medio Juni lalu.
Kontrak itu dilakukan menyusul perintah Kemhan bahwa semua "unit sukarelawan" mesti menandatangani kontrak sebelum 1 Juli, untuk berada satu komando dengan Menhan Sergei Shoigu.
Mereka yang tanda tangan kontrak akan mendapatkan manfaat dan perlindungan yang sama seperti pasukan reguler, termasuk dukungan bagi keluarga prajurit jika terluka atau terbunuh.
Komandan Akhmat, Apty Alaudinov, sudah menyatakan bahwa unitnya siap mengirim puluhan ribu sukarelawan ke Ukraina.
"Saya pikir ini adalah hal yang sangat bagus," kata Alaudinov, usai menandatangani kontrak dengan Rusia.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Kontrak dengan Akhmat ini sendiri dilakukan sehari setelah Prigozhin menolak melanjutkan kontrak dengan Rusia.
Prigozhin ogah bergabung dengan Kemhan karena memang tak akur dengan militer pemerintah. Bos Wagner Group itu kerap melontarkan kritik kepada Menhan Shoigu salah satunya menuding Kemhan merugikan dia karena membuat banyak pasukannya gugur di Ukraina.
Dia juga terang-terangan menyebut Shoigu "tidak bisa mengelola formasi militer dengan baik."
Tak seperti Wagner, Akhmat merupakan kelompok paramiliter yang lebih memilih menahan diri untuk tidak mengkritik Kemhan Kremlin.
Lebih dari itu, grup pimpinan Ramzan Kadyrov ini juga sama kuatnya dengan Wagner. Salah satu contohnya, Akhmat pernah getol memerangi Rusia dalam dua peperangan.
Perang itu salah satunya terjadi pada abad ke-19 yang dilakukan Chechen untuk melawan penaklukan kekaisaran Rusia. Menurut Tracey German dari lembaga think tank pertahanan dan keamanan Inggris RUSI, perang itu adalah "salah satu perang gerilya terpanjang" di abad tersebut.
Perang kedua terjadi pada 1999 yang disebut Rusia sebagai operasi kontra-terorisme, menurut Forces Net. Konflik itu berakhir pada 2009.
Menurut The Interpreter, seiring waktu Chechen terbagi menjadi dua faksi antara yang ingin memisahkan diri dari Rusia dan mereka yang pro-Moskow.
Rusia kemudian menetapkan faksi Chechen pro-Moskow, Akhmad Kadyrov, sebagai pemimpin. Ia merupakan ayah dari Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechen yang saat ini berkuasa.
Terbentuk pula pasukan Akhmat atau Kadyrovites sebagai loyalis sekaligus pelindung Akhmad Kadyrov.
Akhmad Kadyrov kemudian terbunuh pada 2004, membuat Ramzan Kadyrov menjadi pemimpin wilayah tersebut. Kadyrov dinilai memerintah Chechnya sesuka hatinya dengan sokongan Kremlin sebagai ganti janji setianya pada Putin.
Pasukan khusus Akhmat itu pun masih tetap eksis hingga saat ini di bawah pimpinan Ramzan Kadyrov.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kelompok tentara bayaran Rusia, Wagner Group, melakukan pemberontakan ke pemerintah Moskow akhir pekan kemarin.
Wagner membelot setelah menuding Kementerian Pertahanan Rusia menyerang kamp militer tentara bayaran tersebut.
Bos Wagner Yevgeny Prigozhin lantas mengerahkan pasukannya menduduki markas militer Rusia di Rostov dan mengirim tentara menuju Moskow untuk menggulingkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu.
Pada Sabtu (24/5) pukul 07.30 waktu setempat, Prigozhin pun mengklaim berhasil menguasai fasilitas militer dan lapangan terbang di Rostov-on-Don, Rusia.
"Ini bukan kudeta militer, tapi pawai keadilan," ujar Prigozhin dikutip dari Associated Press.
Kendati begitu, Prigozhin telah menarik mundur pasukannya dari Rusia. Ia menarik diri setelah bernegosiasi dengan Kremlin.
Meski sempat menyebut pembelotan Wagner sebagai pengkhianatan dan hendak menjatuhkan hukuman, Presiden Vladimir Putin mencabut segala tuntutan tersebut. Dia bahkan membiarkan Wagner pindah ke Belarus, negara tetangga Rusia.
Wagner selama ini dikenal sebagai 'tameng' prajurit reguler Rusia di Ukraina. Wagner disebut-sebut menjadi regu penyerang guna membuka jalan di garda depan.
Lantas, dengan kepergian Wagner, siapa yang akan menggantikan posisinya di Ukraina?
Wagner Group diyakini bakal digantikan dengan pasukan khusus Chechen, Akhmat, yang telah menandatangani kontrak dengan Kemhan Rusia pada medio Juni lalu.
Kontrak itu dilakukan menyusul perintah Kemhan bahwa semua "unit sukarelawan" mesti menandatangani kontrak sebelum 1 Juli, untuk berada satu komando dengan Menhan Sergei Shoigu.
Mereka yang tanda tangan kontrak akan mendapatkan manfaat dan perlindungan yang sama seperti pasukan reguler, termasuk dukungan bagi keluarga prajurit jika terluka atau terbunuh.
Komandan Akhmat, Apty Alaudinov, sudah menyatakan bahwa unitnya siap mengirim puluhan ribu sukarelawan ke Ukraina.
"Saya pikir ini adalah hal yang sangat bagus," kata Alaudinov, usai menandatangani kontrak dengan Rusia.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Pasukan Akhmat, Paramiliter Chechen yang Sama Kuat dengan Wagner
Penampakan pasukan paramiliter Chechen, pasukan Akhmat. Foto: REUTERS/CHINGIS KONDAROV
Kontrak dengan Akhmat ini sendiri dilakukan sehari setelah Prigozhin menolak melanjutkan kontrak dengan Rusia.
Prigozhin ogah bergabung dengan Kemhan karena memang tak akur dengan militer pemerintah. Bos Wagner Group itu kerap melontarkan kritik kepada Menhan Shoigu salah satunya menuding Kemhan merugikan dia karena membuat banyak pasukannya gugur di Ukraina.
Dia juga terang-terangan menyebut Shoigu "tidak bisa mengelola formasi militer dengan baik."
Tak seperti Wagner, Akhmat merupakan kelompok paramiliter yang lebih memilih menahan diri untuk tidak mengkritik Kemhan Kremlin.
Lebih dari itu, grup pimpinan Ramzan Kadyrov ini juga sama kuatnya dengan Wagner. Salah satu contohnya, Akhmat pernah getol memerangi Rusia dalam dua peperangan.
Perang itu salah satunya terjadi pada abad ke-19 yang dilakukan Chechen untuk melawan penaklukan kekaisaran Rusia. Menurut Tracey German dari lembaga think tank pertahanan dan keamanan Inggris RUSI, perang itu adalah "salah satu perang gerilya terpanjang" di abad tersebut.
Perang kedua terjadi pada 1999 yang disebut Rusia sebagai operasi kontra-terorisme, menurut Forces Net. Konflik itu berakhir pada 2009.
Menurut The Interpreter, seiring waktu Chechen terbagi menjadi dua faksi antara yang ingin memisahkan diri dari Rusia dan mereka yang pro-Moskow.
Rusia kemudian menetapkan faksi Chechen pro-Moskow, Akhmad Kadyrov, sebagai pemimpin. Ia merupakan ayah dari Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechen yang saat ini berkuasa.
Terbentuk pula pasukan Akhmat atau Kadyrovites sebagai loyalis sekaligus pelindung Akhmad Kadyrov.
Akhmad Kadyrov kemudian terbunuh pada 2004, membuat Ramzan Kadyrov menjadi pemimpin wilayah tersebut. Kadyrov dinilai memerintah Chechnya sesuka hatinya dengan sokongan Kremlin sebagai ganti janji setianya pada Putin.
Pasukan khusus Akhmat itu pun masih tetap eksis hingga saat ini di bawah pimpinan Ramzan Kadyrov.