Khaled Mashal, Sosok Digadang Gantikan Ismail Haniyeh Jadi Bos Hamas
CNN Indonesia
Kamis, 01 Agu 2024 10:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mendiang pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh (tengah) dan pendahulunya, Khaled Mashal (kanan). (Foto: AFP/HANDOUT)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kematian pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, dalam serangan rudal di Iran pada Rabu (31/7) memunculkan pertanyaan siapakah yang bakal mengambil alih kepemimpinan kelompok penguasa Jalur Gaza Palestina itu.
Setidaknya ada tiga nama petinggi Hamas yang diprediksi mungkin menggantikan Haniyeh.
Ketiga nama itu ialah Khaled Mashal, matan pemimpin politik Hamas sekaligus pendahulu Haniyeh; Mousa Abu Marzouk, anggota senior Hamas; dan Khalil al-Hayya, anggota Dewan Legislatif Palestina yang mewakili Kota Gaza.
Namun, belakangan nama itu makin kuat mengerucut pada satu nama. Siapa kah dia?
Sumber-sumber Hamas menyebut Mashal diperkirakan akan dipilih sebagai pemimpin tertinggi kelompok itu menggantikan mendiang Haniyeh.
Mashal juga pernah mengalami upaya pembunuhan dari pemerintahan Zionis pada 1997.
Lalu pada 2001, Mashal pindah ke Suriah. Kemudian pada 2004-2012, dia memimpin Hamas dari Damaskus. Namun, dia meninggalkan negara ini karena tindakan keras Presiden Assad terhadap warga Sunni, aliran keyakinan Hamas.
Mashal juga sempat berselisih dengan pimpinan Hamas di Gaza. Dia mendorong kelompok ini rekonsiliasi dengan Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas.
Namun, pimpinan Hamas di Gaza telah menyatakan akan merebut kembali wilayah itu.
Mashal kemudian mengumumkan mundur dari pimpinan karena ketegangan tersebut. Lalu pada 2017, Haniyeh menggantikan posisi puncak itu.
Rekam jejak Khaled Mashal, baca di halaman berikutnya >>>
Rekam jejak Mashal
Mashal lahir di Silwad, dekat Ramallah, Tepi Barat. Dia lalu pindah ke Kuwait saat masih kecil.
Di usia 15 tahun, dia bergabung dengan kelompok Islam tertua di Timur Tengah, Ikhwanul Muslimin.
Kelompok Islam itu berperan penting dalam pembentukan Hamas pada akhir 1980-an.
Usai Hamas terbentuk, Mashal menjadi pelobi kelompok ini dari luar negeri selama bertahun-tahun.
Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan dana internasional, termasuk di Yordania saat dia nyaris tewas.
Netanyahu memainkan peran penting yang tak disengaja dalam membangun kredibilitas Mashal saat dia meminta agen menyuntik racun.
Sikap ke Israel
Sebagai calon yang digadang-gadang menjadi pemimpin, pendekatan Mashal terhadap Israel juga jadi pembicaraan.
Akankah Mashal menerapkan pendekatan yang lebih pragmatis seperti menyerukan penghancuran Israel atau terus berjuang melalui jalur diplomasi dan negosiasi, seperti Haniyeh.
Mashal sempat menolak gagasan kesepakatan damai permanen. Namun, dia menyebut Hamas bisa menerima negara Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai solusi sementara dengan imbalan gencatan senjata jangka panjang.
Lalu terkait agresi Israel di Gaza sejak Oktober 2023, Mashal mendesak negara Arab dan Muslim untuk bergabung dalam pertempuran melawan Israel.
Dia juga mengatakan hanya Palestina yang akan memerintah Gaza usai agresi berakhir.
Mashal menyebut serangan dadakan Hamas ke Israel sebelum Netanyahu melancarkan agresi untuk mengembalikan Palestina ke pusat agenda dunia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kematian pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, dalam serangan rudal di Iran pada Rabu (31/7) memunculkan pertanyaan siapakah yang bakal mengambil alih kepemimpinan kelompok penguasa Jalur Gaza Palestina itu.
Setidaknya ada tiga nama petinggi Hamas yang diprediksi mungkin menggantikan Haniyeh.
Ketiga nama itu ialah Khaled Mashal, matan pemimpin politik Hamas sekaligus pendahulu Haniyeh; Mousa Abu Marzouk, anggota senior Hamas; dan Khalil al-Hayya, anggota Dewan Legislatif Palestina yang mewakili Kota Gaza.
Namun, belakangan nama itu makin kuat mengerucut pada satu nama. Siapa kah dia?
Sumber-sumber Hamas menyebut Mashal diperkirakan akan dipilih sebagai pemimpin tertinggi kelompok itu menggantikan mendiang Haniyeh.
Mashal juga pernah mengalami upaya pembunuhan dari pemerintahan Zionis pada 1997.
Lalu pada 2001, Mashal pindah ke Suriah. Kemudian pada 2004-2012, dia memimpin Hamas dari Damaskus. Namun, dia meninggalkan negara ini karena tindakan keras Presiden Assad terhadap warga Sunni, aliran keyakinan Hamas.
Mashal juga sempat berselisih dengan pimpinan Hamas di Gaza. Dia mendorong kelompok ini rekonsiliasi dengan Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas.
Namun, pimpinan Hamas di Gaza telah menyatakan akan merebut kembali wilayah itu.
Mashal kemudian mengumumkan mundur dari pimpinan karena ketegangan tersebut. Lalu pada 2017, Haniyeh menggantikan posisi puncak itu.
Rekam jejak Khaled Mashal, baca di halaman berikutnya >>>
Rekam Jejak Mashal dan Sikapnya soal Israel
(AFP/HANDOUT)
Rekam jejak Mashal
Mashal lahir di Silwad, dekat Ramallah, Tepi Barat. Dia lalu pindah ke Kuwait saat masih kecil.
Di usia 15 tahun, dia bergabung dengan kelompok Islam tertua di Timur Tengah, Ikhwanul Muslimin.
Kelompok Islam itu berperan penting dalam pembentukan Hamas pada akhir 1980-an.
Usai Hamas terbentuk, Mashal menjadi pelobi kelompok ini dari luar negeri selama bertahun-tahun.
Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan dana internasional, termasuk di Yordania saat dia nyaris tewas.
Netanyahu memainkan peran penting yang tak disengaja dalam membangun kredibilitas Mashal saat dia meminta agen menyuntik racun.
Sikap ke Israel
Sebagai calon yang digadang-gadang menjadi pemimpin, pendekatan Mashal terhadap Israel juga jadi pembicaraan.
Akankah Mashal menerapkan pendekatan yang lebih pragmatis seperti menyerukan penghancuran Israel atau terus berjuang melalui jalur diplomasi dan negosiasi, seperti Haniyeh.
Mashal sempat menolak gagasan kesepakatan damai permanen. Namun, dia menyebut Hamas bisa menerima negara Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai solusi sementara dengan imbalan gencatan senjata jangka panjang.