PBB Nyatakan Bencana Kelaparan di Gaza Semakin Parah
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan lembaga bantuan internasional menyatakan bencana kelaparan di Jalur Gaza, Palestina, sudah semakin meluas.
Dalam pidato di Dewan Keamanan PBB, Rabu (27/8), Asisten Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Wakil Koordinator Bantuan Darurat, Joyce Msuya, mengatakan bencana kelaparan telah dipastikan terjadi di wilayah utara-tengah Gaza.
Ia kemudian menyatakan bahwa bencana kelaparan ini akan menyebar ke wilayah Deir el-Balah dan Khan Younis di selatan Gaza pada akhir September mendatang.
"Lebih dari setengah juta orang saat ini menghadapi kelaparan, kemiskinan, dan kematian," kata Msuya, seperti dikutip Al Jazeera.
"Pada akhir September, jumlah itu bisa melebihi 640.000. Hampir tidak ada seorang pun di Gaza yang tidak tersentuh kelaparan," ujarnya.
Msuya menyampaikan isi laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada Jumat (22/8), yang menyatakan bahwa bencana kelaparan saat ini benar-benar terjadi di Jalur Gaza. IPC adalah lembaga yang didukung PBB untuk menentukan tingkat kerawanan pangan di seluruh dunia.
Dalam kesempatan itu, Msuya juga menekankan laporan IPC yang menyebut bahwa setidaknya 132 ribu anak berusia lima tahun berisiko mengalami kekurangan gizi akut. Ia menyebut lebih dari 43 ribu di antaranya kemungkinan akan menghadapi kondisi yang mengancam jiwa dalam beberapa bulan mendatang.
Msuya kemudian menegaskan hasil temuan IPC bahwa bencana kelaparan ini disebabkan oleh manusia, bukan bencana alam.
"Kelaparan ini bukan akibat kekeringan atau bencana alam lainnya. Ini adalah bencana yang diciptakan, akibat konflik yang telah menyebabkan kematian, cedera, kerusakan, dan pengungsian massal warga sipil," tegasnya.
Ucapan Msuya ini dilontarkan setelah Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu melaporkan bahwa terjadi lagi 10 kematian akibat kelaparan dan kekurangan gizi di Gaza dalam 24 jam terakhir. Korban tewas tersebut meliputi dua orang anak.
Jumlah ini menjadikan total kematian akibat kelaparan di Gaza selama agresi Israel bertambah jadi 313 orang, termasuk 119 anak.
Laporan IPC mengenai bencana kelaparan di Gaza dibantah keras oleh pemerintah Israel.
Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel, Eden Bar Tal, menyebut laporan IPC "sangat cacat, tidak profesional, dan sangat tidak memenuhi standar yang diharapkan dari sebuah badan internasional yang dipercayakan dengan tanggung jawab yang begitu serius."
Kendati demikian, seluruh anggota DK PBB kecuali Amerika Serikat percaya akan laporan IPC. Dalam pernyataan bersama pada Rabu, para perwakilan negara anggota DK PBB mendesak agar bencana kelaparan di Gaza segera dihentikan dan agar gencatan senjata segera diberlakukan.
"Ini pertama kalinya bencana kelaparan dikonfirmasi secara resmi di kawasan Timur Tengah. Setiap hari semakin banyak orang meninggal akibat malnutrisi. Banyak di antaranya adalah anak-anak," kata Wakil Tetap Guyana untuk PBB Trishala Persaud.
Anak-anak Gaza lapar sampai tak sanggup menangis
Dalam pidato di hadapan DK PBB, kepala Save the Children Inger Ashing mengungkapkan fakta memilukan mengenai kondisi anak-anak di Jalur Gaza.
Ia berujar anak-anak Gaza saat ini menderita kelaparan yang begitu parah hingga tak sanggup untuk sekadar menangis.
"Anak-anak di Gaza secara sistematis dibiarkan kelaparan sampai mati. Ini adalah kelaparan sebagai metode perang dalam arti yang paling gamblang," tegasnya.
"Anak-anak tak punya kekuatan untuk sekadar bicara atau bahkan menangis karena kesakitan. Mereka terbaring kurus kering, benar-benar merana."
Ashing juga membagikan cerita pilu bagaimana anak-anak di pusat dukungan Save the Children Gaza kini tak lagi berharap adanya perdamaian di wilayah mereka. Sebaliknya, mereka saat ini hanya berharap bisa makan, bahkan pada titik tertentu, berharap lebih baik meninggal.
"Begitu blokade total dimulai pada Maret, anak-anak sering mengatakan kepada kami bahwa mereka menginginkan makanan, roti. Beberapa minggu terakhir ini, semakin banyak anak yang mengatakan mereka lebih baik meninggal," ujarnya.
Seorang anak juga menulis: "Andai aku ada di surga, di tempat ibuku berada. Di surga, ada cinta, ada makanan, dan ada air."
Agresi Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 62.800 orang. Setiap hari selalu ada warga sipil Palestina yang meninggal, baik karena serangan brutal pasukan Zionis maupun karena kelaparan.
Mayoritas korban tewas adalah anak-anak dan perempuan. Agresi brutal ini telah menghancurkan wilayah kantong tersebut dan membuat rakyatnya menderita bencana kelaparan.
(blq/dna)