Trump Jebloskan Nicolas Maduro ke 'Hell on Earth' di New York

CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 07:54 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang telah ditangkap pasukan AS pada akhir pekan lalu kini ditahan di sebuah penjara yang terkenal sebagai "Hell on Earth".
Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang telah ditangkap pasukan AS pada akhir pekan lalu kini ditahan di sebuah penjara yang terkenal sebagai "Hell on Earth". (Foto: AFP/LEONARDO MUNOZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang telah ditangkap pasukan elite Amerika Serikat pada akhir pekan lalu kini ditahan di sebuah penjara di New York bernama Metropolitan Detention Centre (MDC)

MDC dikenal luas di kalangan narapidana sebagai "Hell on Earth" atau "Neraka di Bumi" karena kondisi buruk serta dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap para tahanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

MDC pernah menampung sejumlah tokoh berprofil tinggi, mulai dari Ghislaine Maxwell hingga Sean "Diddy" Combs.

Maxwell divonis bersalah atas perdagangan seks anak, sementara Combs dinyatakan bersalah atas kasus transportasi untuk prostitusi.

Ada pula mantan narapidana MDC lainnya termasuk gembong narkoba Meksiko Joaquin "El Chapo" Guzman, penipu kripto Sam Bankman-Fried, serta penyanyi R Kelly yang divonis bersalah atas perdagangan seks.

Sementara itu, Maduro tiba di MDC pada Sabtu larut malam setelah ditangkap dan langsung diterbangkan ke New York oleh pasukan AS dalam sebuah operasi khusus pada dini hari.

Dalam sejumlah video dan gambar yang tersebar di media sosial, Maduro terlihat dikawal aparat dengan mengenakan hoodie biru lalu hitam saat hendak dibawa ke MDC. Ia tampak tersenyum, mengacungkan jempol, dan mengucapkan "selamat tahun baru" kepada para agen federal.

"Maduro dan istrinya akan segera menghadapi sepenuhnya kekuatan hukum Amerika dan diadili di wilayah Amerika Serikat," kata Donald Trump kepada wartawan dalam konferensi pers pada Sabtu pagi seperti dikutip The Telegraph.

MDC memiliki reputasi sebagai salah satu penjara federal terburuk di AS, menyusul serangkaian penyelidikan terkait kekerasan terhadap tahanan dan kondisi yang memprihatinkan.

Menjelang persidangan Combs tahun lalu, pengacaranya menyatakan bahwa "sejumlah pengadilan di distrik ini telah mengakui bahwa kondisi di MDC tidak layak untuk penahanan pra-persidangan."

Dari pengakuan pengacara Combs banyak narapidana tewas terbunuh atau bunuh diri dalam penjara itu.

"Baru musim panas lalu, seorang narapidana dibunuh. Setidaknya empat narapidana meninggal akibat bunuh diri di sana dalam tiga tahun terakhir," ujar para pengacara tersebut. 

Dihuni sekitar 1.300 tahanan pria dan perempuan, gedung bertingkat tinggi ini terjepit antara kawasan tepi laut Brooklyn dan jalan tol. Keamanannya sangat ketat dan fasilitas untuk kegiatan rekreasi sangat terbatas.

Cameron Lindsay, mantan kepala penjara, menyebut MDC sebagai "salah satu fasilitas federal yang paling bermasalah" dalam sistem lembaga pemasyarakatan AS lengkap dengan "sejarah unik pelanggaran oleh staf."

Pada 2007, 11 petugas penjaga MDC didakwa atas pemukulan terhadap tahanan dalam sebuah insiden yang meninggalkan genangan darah dan gumpalan rambut di salah satu sel.

Para petugas tersebut dituduh menutupi pemukulan itu dengan membuat laporan palsu terkait insiden yang terjadi pada 2002 dan 2006.

Penjara ini juga dilanda skandal kekerasan seksual. Penyelidikan pada 2018 berujung pada vonis bersalah terhadap tiga petugas penjara atas pelecehan seksual terhadap tahanan perempuan, termasuk seorang letnan yang berulang kali memperkosa seorang narapidana.

Pada 2019, kemarahan publik mencuat setelah pemadaman listrik selama sepekan membuat gedung tersebut tanpa pemanas dan penerangan pada salah satu pekan terdingin dalam setahun.

Anggota Kongres yang meninjau fasilitas itu setelah kejadian tersebut melaporkan "kondisi yang tidak dapat diterima" dengan para tahanan dikurung dalam waktu lama dan memukul pintu sel sambil memohon bantuan.

Pada 2020, seorang narapidana meninggal dunia setelah petugas penjara menggunakan semprotan merica hingga memicu penyelidikan oleh inspektur jenderal Departemen Kehakiman. Pada Mei tahun yang sama, narapidana lain di fasilitas itu juga meninggal.

Pada 2024, seorang tahanan bernama Uriel Whyte tewas ditusuk saat menunggu persidangan atas dakwaan kepemilikan senjata api.

Sejumlah narapidana juga mengungkapka situasi yang "sangat brutal" di dalam penjara. Seorang tahanan yang hanya disebut sebagai Eli mengatakan kepada Spectrum News NY1 pada 2024 bahwa ada "seorang pria ditusuk di mata dengan pisau rakitan."

"Pisau-pisau itu panjangnya bisa 15 hingga 22 sentimeter, dibuat sendiri dari material dinding baja. Kekerasan sangat sering terjadi. Penusukan terjadi setidaknya beberapa kali setiap pekan," paparnya.

Maduro diperkirakan akan tetap ditahan di penjara tersebut hingga menjalani persidangan.

Para tahanan di fasilitas ini hanya ditahan sementara sambil menunggu persidangan, sebelum dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan lain untuk menghabiskan vonis hukuman.

(rds)


[Gambas:Video CNN]
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER