AS Agresi Venezuela, Apa yang Harus Dilakukan RI hingga Dunia?

isa | CNN Indonesia
Selasa, 06 Jan 2026 13:35 WIB
Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump meluncurkan agresi ke Ibu Kota Venezuela, Caracas, dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) ditangkap AS. (REUTERS/@RapidResponse47)

Terkait konflik di Venezuela, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merilis pernyataan dua kali.

Pernyataan pertama disampaikan pada Sabtu. Isinya memantau perkembangan di Venezuela dan memantau warga negara Indonesia di sana. Mereka juga meminta semua pihak menahan diri, tanpa menyebut negara Amerika Serikat.

"Indonesia juga menyerukan kepada seluruh pihak terkait untuk mengedepankan penyelesaian secara damai melalui langkah-langkah deeskalasi dan dialog, serta tetap mengutamakan perlindungan terhadap warga sipil," demikian pernyataan Kemlu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keesokan harinya, Kemlu kembali mengeluarkan pernyataan resmi. Indonesia, lanjut mereka, terus mencermati dengan seksama perkembangan yang terjadi di Venezuela.

"Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan," lanjut Kemlu. Dalam pernyataan ini juga tak menyebut Amerika Serikat.

Mantan wakil menteri luar negeri Indonesia Dino Patti Djalal mengaku heran membaca pernyataan resmi Kemlu yang dianggap sangat standar dan sama sekali tak menyebut Amerika Serikat.

"Sejak kapan kita sungkan/takut mengkritik kawan yang lakukan pelanggaran hukum internasional?" kata Dino dalam unggahan di X pada Minggu.

CNNIndonesia.com sudah menghubungi dan mendapat izin dari Dino untuk mengutip unggahan tersebut.

Dino lalu menyoroti Menteri Luar Negeri RI Sugiono yang belum memberi pernyataan terkait Venezuela. Menurut dia, saat ini momen tepat bagi RI menunjukkan sikap sebagai salah satu pemain Global South.

"Ini momen, Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap, sama ketika kita dulu menentang invasi AS terhadap Irak. Bebas aktif itu artinya BERANI berpendirian," ungkap dia.

Dino juga menekankan bermitra dengan Amerika Serikat atau negara manapun, tak boleh membuat Indonesia jadi negara penurut yang mengorbankan hal-hal prinsipil.

Sementara itu, Sya'roni punya penilaian berbeda. Ia memandang pernyataan tersebut sebagai upaya Indonesia menjaga hubungan dengan Amerika Serikat di tengah situasi ekonomi dunia saat ini.

Dia lalu mengatakan bahwa menyinggung negara besar tidak mudah untuk dilakukan apalagi jika ada irisan kerjasama ekonomi yang berlaku

"Posisi Indonesia cenderung normatif karena faktor hubungan ekonomi dengan AS-negosiasi tarif," ujar dia.

(bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2