Maduro di Pengadilan New York AS: Saya Orang Baik, Saya Masih Presiden

CNN Indonesia
Selasa, 06 Jan 2026 06:10 WIB
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menegaskan dirinya tak bersalah dalam sidang perdana di pengadilan New York setelah ditangkap dan ditahan oleh AS.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menegaskan dirinya tak bersalah dalam sidang perdana di pengadilan New York pada Senin (5/1), dua hari setelah penangkapannya oleh Amerika Serikat. (Foto: (AFP/HANDOUT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menegaskan dirinya tak bersalah dalam sidang perdana di pengadilan New York pada Senin (5/1), dua hari setelah penangkapannya oleh Amerika Serikat.

Maduro terlihat melangkah masuk ke ruang sidang New York yang penuh sesak pada Senin dengan bahu tegap, menatap ke arah bangku pengunjung, dan sempat melontarkan beberapa sapaan dalam bahasa Spanyol hingga menyatakan tegas: "Saya tidak bersalah."

Maduro menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika dan kepemilikan senjata yang dituduhkan AS padanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Venezuela yang telah dilengserkan itu tampak menantang. Mengenakan kemeja gelap di atas seragam tahanan berwarna oranye, Maduro menyebut dirinya telah diculik oleh pasukan AS dan mengklaim dirinya sebagai tahanan perang.

Ia bahkan menegaskan masih merupakan Presiden Venezuela yang sah.

"Saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya," kata Maduro dalam sidang yang berlangsung selama sekitar 30 menit itu.

Ruang sidang berpanel kayu dengan karpet biru di lantai atas gedung pengadilan Manhattan itu dipenuhi pengacara, aparat penegak hukum, dan jurnalis.

Maduro tampak menyadari sorotan dunia tertuju padanya. Ia memanfaatkan persidangan tersebut untuk mengecam operasi militer AS yang menangkap dirinya dan sang istri di Venezuela.

Pada satu titik, hakim memotong ucapannya ketika Maduro melampaui permintaan sederhana untuk sekadar mengonfirmasi identitasnya di hadapan pengadilan.

"Saya berada di sini dalam keadaan diculik sejak Sabtu, 3 Januari. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela," ujar pria berusia 63 tahun itu.

"Akan ada waktu dan tempatnya untuk membahas semua itu," jawab Hakim Alvin Hellerstein memotong pernyataan Maduro.

Salah satu momen paling dramatis terjadi di akhir sidang, ketika Maduro terlibat adu mulut dengan seorang pria di bangku pengunjung yang berteriak bahwa ia akan membayar kejahatannya.

"Saya adalah tawanan perang," balas Maduro sebelum digiring keluar ruang sidang.

Maduro hanya berbicara dalam bahasa Spanyol dan mengikuti jalannya persidangan melalui terjemahan di headphone. Pernyataannya disampaikan ke pengadilan melalui seorang penerjemah.

Sepanjang sidang, ia mencatat dengan pena dan kertas, dan jarang mengangkat pandangan dari mejanya.

Sementara itu, istri Maduro, Cilia Flores, terlihat mengenakan pakaian serupa dengan rambut pirang diikat rapi, duduk di samping sang suami dengan satu dari tiga pengacara berada di antara mereka.

Dua petugas US Marshal berdiri di belakang pasangan tersebut, meski tidak ada senjata yang terlihat di dalam ruang sidang.

Pemandangan ini sangat kontras dengan gambar dramatis sebelumnya, yang menunjukkan polisi bersenjata lengkap mengawal Maduro dan istrinya menggunakan kendaraan lapis baja dari penjara Brooklyn menuju pengadilan pada pagi hari.

Di luar gedung, puluhan polisi berjaga sejak dini hari, sementara barikade logam dipasang mengelilingi area pengadilan.

Beberapa puluh orang demonstran juga berdemo di depan gedung pengadilan, baik untuk merayakan maupun mengecam penangkapan Maduro. Mereka sesekali terlibat adu argumen, namun dipisahkan oleh aparat keamanan.

Satu kelompok mengibarkan bendera Venezuela dan membawa poster bertuliskan "USA hands off Venezuela", sambil meneriakkan yel-yel "Viva viva Maduro."

"Kami menolak intervensi AS. Itu tidak menguntungkan kami," kata Sydney Loving (31), yang datang dari Minneapolis untuk mengikuti aksi tersebut.

Di sisi lain barikade, sejumlah orang justru menyambut gembira penahanan Maduro di AS.

"Hari ini ulang tahun saya, dan ini adalah hadiah terbaik sepanjang hidup saya," ujar Angel Montero (36), warga Venezuela yang tinggal di Amerika Serikat.

"Saya sangat bahagia ini terjadi hari ini. Saya senang melihat semua orang di sini mendukung keadilan."

(rds)


[Gambas:Video CNN]