China Buka Suara, Waswas AS-Rusia 'Bebas' Tambah Senjata Nuklir Lagi
China buka suara atas Perjanjian pengendalian perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, New START (Strategic Arms Reduction Treaty), yang kedaluwarsa masa berlakunya pada pekan lalu.
Berakhirnya perjanjian yang telah berlaku lebih dari setengah abad ini membuat kedua negara bisa bebas menambah hulu ledak senjata nuklir yang bisa memicu perlombaan senjata di antara negara-negara lain.
Lihat Juga : |
Kementerian Luar Negeri China pada Kamis menyatakan penyesalan atas perjanjian New START yang berakhir, mendesak Washington untuk kembali membuka dialog dengan Moskow mengenai "stabilitas strategis".
"China menyesalkan Perjanjian New START berakhir, karena perjanjian ini memiliki arti yang sangat penting bagi pemeliharaan stabilitas strategis global," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, seperti dikutip AFP.
"Komunitas internasional secara umum khawatir bahwa berakhirnya perjanjian ini akan berdampak negatif terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir global."
Perjanjian New START resmi berakhir pada Rabu malam, menandai berakhirnya lebih dari setengah abad pembatasan terhadap senjata nuklir strategis kedua negara.
Rusia pada Rabu menyatakan terbuka untuk pembicaraan keamanan, namun menegaskan akan secara tegas menanggapi setiap "ancaman" baru.
Rusia mengusulkan agar kedua pihak tetap menghormati batasan-batasan utama dalam perjanjian tersebut. China pun mendesak Amerika untuk merespons niat konstruktif Moskow dengan baik.
"China menyerukan agar Amerika Serikat merespons secara positif, menangani pengaturan lanjutan perjanjian ini secara bertanggung jawab, dan sesegera mungkin melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia. Ini juga merupakan harapan umum komunitas internasional," kata Lin.
Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan bahwa Beijing berpegang teguh pada strategi nuklir untuk pertahanan diri.
"China secara konsisten menganut strategi nuklir untuk pertahanan diri, mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, serta membuat komitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam penggunaan senjata nuklir terhadap negara non-nuklir maupun kawasan bebas senjata nuklir," ujar Lin.
Lin juga menegaskan China menjaga persenjataan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional.
Ia menuturkan kekuatan nuklir China jauh lebih kecil dibandingkan milik Amerika Serikat dan Rusia, serta kembali menegaskan Beijing tidak akan bergabung dalam perundingan bilateral pengurangan senjata kedua negara tersebut.
"Kekuatan nuklir China tidak berada pada level yang sama dengan Amerika Serikat dan Rusia, dan China tidak akan berpartisipasi dalam perundingan perlucutan senjata pada tahap ini," katanya.
(rds)