Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) diam-diam memiliki pangkalan militer rahasia di bawah lapisan es Pulau Greenland.
Pangkalan itu berada delapan meter di bawah permukaan es dan dibangun saat era Perang Dingin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari LA Times, Angkatan Darat AS dahulu menyusun rencana untuk menyembunyikan ratusan peluncur rudal kala ancaman perang nuklir membayangi. Tujuannya, agar bisa meluncurkan senjata nuklir dalam waktu 20 menit jika terjadi serangan dari Uni Soviet.
Rencana ini dinamakan sebagai "Project Iceworm".
"Iceworm merupakan bagian dari 'strategi kutub' AS yang lebih luas, yang memandang Arktik sebagai arena penting untuk pencegahan nuklir selama Perang Dingin. Ini merupakan jalur langsung untuk merespons serangan Soviet dan merupakan pertahanan strategis AS," kata Kristian Nielsen, sejarawan di Universitas Aarhus, Denmark, dan salah satu penulis buku Camp Century: The Untold Story of America's Secret Arctic Military Base Under the Greenland Ice.
Dilansir dari CNN, Project Iceworm membayangkan jaringan lokasi peluncuran rudal yang dihubungkan oleh sistem terowongan di bawah es Arktik. AS tampaknya bermaksud meluncurkan sekitar 600 rudal yang bisa mencapai target langsung di Rusia.
Dr. Robert Weiss merupakan dokter AS yang dahulu pernah ditugaskan di Camp Century, bagian dari Project Iceworm yang berupa pusat penelitian.
Menurut Weiss, yang kini menjadi Profesor Urologi Donald Guthrie di Universitas Yale, istilah Project Iceworm tak pernah terdengar selama ia bertugas di sana. Penugasannya saat itu di tahun 1962 dan 1963. Meski begitu, ia tahu soal pembangunan jalur kereta bawah tanah di bawah permukaan es Greenland.
Berdasarkan keterangan Weiss, AS saat itu memang membangun jalur kereta bawah tanah di Camp Century. Pembangunan itu berlangsung di terowongan berbentuk tapal kuda yang terletak di bawah lapisan es.
Sayangnya, pembangunan jalur kereta tersebut tidak berhasil. Faktor kegagalan ini terkait dengan medan es.
Unsur-unsur alam perlahan menghancurkan fondasi terowongan seiring dengan pergerakan bertahap lapisan es yang mengubah bentuk struktur. Terowongan makin lama makin sempit.
Weiss ingat bahwa mengeruk dinding terowongan serta mengangkut tumpukan es dan salju ke permukaan butuh banyak waktu dan sumber daya.
Karena kondisi ini, usia Camp Century tak bertahan lama. Pusat penelitian itu akhirnya ditutup pada 1967. Penutupan Camp Century ini berdampak pada berhentinya Project Iceworm.
Berlanjut ke sebelah...
Camp Century
Camp Century merupakan stasiun penelitian yang menjadi rumah bagi nyaris 200 orang berusia 20-45 tahun.
Para ilmuwan di Camp Century melakukan sejumlah pekerjaaan ilmiah, terutama di bidang geofisika dan paleoklimatologi.
Weiss, yang saat itu berusia 26 tahun, mengaku banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari buku-buku kedokteran, bermain catur dan bridge, serta minum martini seharga 10 sen. Karena populasi di Camp Century tergolong sehat, tak banyak keadaan darurat medis yang harus ia kerjakan.
Menurut Weiss, hidup di hamparan es tidak sekeras dan sesulit yang awalnya ia khawatirkan. Makanan di sana "luar biasa" dan sama sekali tak kesulitan air.
Camp Century mampu menghasilkan sekitar 8.000 galon air (sekitar 30.000 liter) per hari untuk operasional stasiun dari sumur yang digali di es dengan bor yang menghasilkan uap panas.
Terdapat bangunan-bangunan prefabrikasi yang menampung tempat tidur, toilet, laboratorium, ruang makan, tempat cuci pakaian, dan gimnasium.
Suasana di dalam bangunan juga disebut hangat dan kering. Ada film dan radio sebagai hiburan dan sarana komunikasi, meski layanannya tergantung pada kondisi cuaca dan waktu.
Menurut Weiss, limbah stasiun dibuang ke dalam lubang yang juga digali di lapisan es. Camp Century sendiri beroperasi menggunakan energi nuklir.
Weiss berujar tujuan utama kamp ini yaitu "membuktikan bahwa instalasi terisolasi dapat ditenagai dengan aman dan efisien oleh energi nuklir."
"Kami pikir itu aman, dan tidak ada yang memberi tahu kami sebaliknya," ucap Weiss.
William Colgan, profesor glasiologi Kanada yang bekerja di Survei Geologi Denmark dan Greenland, memperingatkan Camp Century berisiko memaparkan berbagai jenis limbah, termasuk nuklir, ke dunia.
Colgan mengunjungi Camp Century untuk pertama kalinya pada 2010 guna mengebor inti es. Ia kemudian memulai proyek tahunan di sana untuk mendata dan memahami apakah limbah biologis, kimia, radioaktif serta puing-puing fisik yang tertinggal ketika kamp ditutup masih terdeteksi dan berisiko memaparkan ke dunia seiring dengan pemanasan iklim.
Proyek Colgan menunjukkan lokasi kamp tidak akan mengalami pencairan signifikan sebelum tahun 2100. Namun, proyeksi ini bisa berubah jika Perjanjian Paris, selaku upaya membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 derajat Celsius, tidak dijalankan.
Sedimen dari bagian paling bawah inti es yang sempat tak terdeteksi pada 1990-an secara tak terduga muncul pada 2017. Analisisnya mengungkapkan bahwa ada sisa-sisa tumbuhan yang membatu di dalam sedimen, seperti potongan ranting, daun, dan lumut.
Ini membuktikan bahwa Greenland dahulu sempat dihidupi tumbuhan dan serangga. Hasil ini juga memicu kekhawatiran bahwa sedimen-sedimen dengan kandungan lain yang masih terkubur dan membeku bisa menerpa kawasan begitu es mencair akibat pemanasan global.
Saat ini, Camp Century tertutup salju di kedalaman 30 meter.
Publikasi mengenai Project Iceworm dalam kamp ini pertama kali diungkap ke publik pada 1997 ketika Institut Urusan Internasional Denmark memperoleh serangkaian dokumen AS yang telah dideklasifikasi sehubungan dengan studi terkait peran Greenland dalam Perang Dingin.
Menurut buku Nielsen, tidak ada bukti rudal pernah sampai ke Camp Century selama stasiun beroperasi.