ANALISIS

Iran Dikeroyok AS-Israel, Kenapa Arab Cs Malah Dukung Paman Trump?

Anisa Dewi Anggriaeni | CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 08:00 WIB
Ketika Amerika-Israel melancarkan serangan bertubi-tubi ke Iran, negara-negara Arab malah cenderung berpihak kepada Washington bahkan mengecam Teheran. Kenapa?
Ketika Amerika-Israel melancarkan serangan bertubi-tubi ke Iran, negara-negara Arab malah cenderung berpihak kepada Washington bahkan mengecam Teheran. (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan bersama ke Iran yang mengganggu stabilitas Timur Tengah sejak akhir pekan lalu. Namun, negara-negara Arab tak banyak berbuat dan cenderung berpihak ke Negeri Paman Sam.

Operasi brutal AS-Israel menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya tewas. Ini memicu serangan balasan Iran ke Negeri Zionis dan pangkalan militer AS di kawasan, termasuk ke negara-negara Arab yang menampung pangkalan militer AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tak menargetkan Anda [negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah], tapi pangkalan militer yang digunakan untuk menyerang kami yang akan jadi target," kata Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, di X pada Senin.

Namun, negara-negara Arab tetap marah dan mengecam serangan balik Iran. Beberapa di antara mereka bahkan menyatakan akan mengambil tindak tegas, bila perlu dengan balasan.

Pernyataan itu berbanding terbalik saat AS-Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Mayoritas negara Arab cuma meminta semua pihak menahan diri dan menghormati hukum internasional. Sikap yang demikian mengindikasikan arah dukungan negara Teluk ke AS dan sekutu dekatnya Israel.

Board of Peace jadi 'rem' negara Arab

Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengatakan keanggotaan negara-negara Arab dan negara mayoritas Muslim dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) jadi semacam "rem" sehingga lebih sulit mengecam Amerika Serikat dan Israel.

"Saat serangan yang dilakukan AS-Israel ke Iran itu kan momentumnya di tengah Board of Peace ya," kata Yon saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (3/3).

Board of Peace merupakan inisiasi yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 22 Januari dan diketuai oleh sang presiden. Organisasi ini terdiri 27 anggota, di antaranya Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Israel.

Saat meresmikan BoP, Trump mengatakan organisasi itu bertujuan menciptakan perdamaian abadi di Timur Tengah. Namun, operasi bersama AS-Israel ke Iran pada pekan lalu menggambarkan situasi sebaliknya.

"Maka, ketika ketua dan salah satu anggota terlibat dalam peperangan, yang sebenarnya jauh dari misi perdamaian itu sendiri sebagaimana nama Board of Peace, maka tentu ini menimbulkan semacam dilema ya, bagi anggota untuk mengecam serangan itu," ujar Yon.

Meski tindakan AS dan Israel jelas melanggar kedaulatan Iran hingga membunuh pemimpin tertingginya, Yon menilai negara-negara Arab tak akan mengecam atau menentang mereka. Kecuali, jika Israel mengarahkan gempuran ke pangkalan militer yang ada di wilayah negara-negara tersebut.

Sementara itu, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Sya'roni Rofii juga punya pandangan serupa. Ia mengatakan negara-negara Arab dalam posisi terjepit dan tak punya banyak pilihan, terutama saat berhadapan dengan Amerika.

"Negara-negara Arab berada dalam posisi dilematis karena serangan dipimpin oleh AS dan Israel, sementara pada saat yang sama serangan dilakukan dari pangkalan AS yang ada di negara-negara Timur Tengah," kata Sya'roni.

AS punya pangkalan militer di Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Yordania, Irak, dan tentu Israel.

Timur Tengah dianggap kawasan yang rentan konflik sehingga negara di sini merasa perlu perlindungan ekstra. Untuk menjaga tetap stabil atau terhindar dari ancaman, mayoritas negara Arab mengandalkan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat.

[Gambas:Video CNN]

Arab Saudi misalnya, memandang AS sebagai mitra strategis utama dan pendukung keamanan regional. Amerika Serikat dengan Kuwait juga punya kerja sama pertahanan yang erat dalam bentuk Defence Cooperation Agreement (DCA). Melalui kesepakatan ini, Washington berkomitmen menjaga Kuwait City dari ancaman eksternal.

Dari segi persenjataan dan teknologi, Kuwait juga bergantung ke AS, hal yang sama juga dialami Uni Emirat Arab.

"Secara keamanan negara Arab sangat bergantung pada proteksi AS," ungkap Sya'roni.

Selain itu, Sya'roni mengungkapkan keberpihakan negara-negara Arab ke Amerika-Israel juga karena serangan balasan Iran yang menargetkan aset militer AS berada di wilayah negara-negara Arab. Bagi mereka tindakan itu seperti "pelanggaran kedaulatan."

Untuk mencapai Israel tengah seperti Tel Aviv, rudal Iran harus melewati wilayah Yordania. Dalam beberapa kali kesempatan dan di berbagai konflik sebelumnya, Amman kerap mengeklaim tindakan itu semata demi melindungi warga Yordania, yang justru diprotes oleh rakyatnya.

Keberpihakan negara-negara Arab bahkan tercermin dalam pernyataan bersama mereka dengan Amerika Serikat.

Pernyataan itu ditandatangani Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania.

"Kami bersatu dalam membela warga negara, kedaulatan, dan wilayah kami, dan menegaskan kembali hak kami untuk membela diri dalam menghadapi serangan-serangan ini," demikian pernyataan bersama itu, dikutip situs resmi pemerintah AS.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>

Negara Arab 'Main Aman' BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2